Trah Soeharto adalah kisah tentang rumah berjuta poundsterling di Inggris, reli
mobil di Australia, perburuan di Selandia Baru, perjudian di Christmas Island,
dan segunung tas belanja yang tak
sempat dibuka.
BEL itu berdentang nyaring. Sekian menit ditunggu, tak ada yang membukakan
pintu rumah mewah di Winnington Road No. 8, Hampstead, London, itu. Padahal dua
mobil mengkilat - VW Caravelle biru langit dan Honda Legend merah - terparkir
di halaman depannya yang tak berpagar.
Rumah bergaya Victorian itu jelas masih berpenghuni. Pekarangannya, yang
berbatu paving, tertata rapi. Bunga berwarna kuning, biru, dan putih menghiasi
tamannya yang asri lagi luas. Dindingnya, yang tak bersemen, didominasi warna
merah bata, padu dengan warna putih dari kusen pintu dan daun jendela.
Beberapa ratus meter dari situ - masih di jalan yang sama - berdiri sebuah
bangunan yang jauh lebih mewah, mirip puri bangsawan Inggris tempo dulu. Nomor
rumah berbalkon putih itu: 89. Luasnya dua kali lebih besar dari yang pertama.
Menurut seorang sumber TEMPO, rumah itu adalah gedung yang dibangun baru.
Setelah dibeli, bangunan semula dirobohkan. Di teras, terpampang tulisan
"Hillcrest" dari logam keemasan. Tapi, di pojok kanan halaman depan kedua rumah
itu, terlihat
sebuah papan mencolok bertuliskan: "For Sale": dijual. Di bawahnya tertera nama
sebuah agen properti: John D. Wood & Co.
Kedua rumah itu memang kerap menjadi gunjingan orang. Ini bukan cuma karena
kemewahannya -Hampstead, yang terletak di daerah berbukit, adalah kawasan
hunian paling prestisius di London - tapi juga karena pemiliknya bukan "orang
sembarangan". Mereka adalah Sigit Harjojudanto
dan istrinya, Elsje Ratnawati Harjojudanto, putra dan menantu mantan presiden
Soeharto - yang lagi diperiksa karena kasus korupsi dan penyalahgunaan
kekuasaan. Adalah Andrew Buncombe, wartawan harian terkemuka di Inggris, The
Independent, yang pertama kali mengangkatnya
ke permukaan. Tulisannya di edisi 16 Maret lalu, bertajuk Suhartos Sell
Boltholes in UK for £ 11m ("Keluarga Soeharto Menjual Rumah Pelarian di
Inggris Seharga 11 Juta Poundsterling"), menjadi bukti kesekian - dari setumpuk
bukti yang sudah ada?betapa trah Soeharto menjalani kehidupan bak syekh padang
pasir.
Dalam laporan itu, Andrew Buncombe menggambarkan betapa "wah"-nya (dengan W
besar) rumah keluarga Sigit itu: berlantai marmer, memiliki delapan kamar,
lengkap dengan aula untuk jamuan makan. Menurut pemburu harta Soeharto, George
Junus Aditjondro, sejak Januari lalu puri itu
telah ditawarkan lewat agen John Wood & Co. Harganya selangit: £ 8 juta, atau
jika dihitung dengan kurs Rp 15 ribu, ya ampun, mencapai Rp 120 miliar!
Koresponden BBC di Jakarta, Jonathan Head, menjelaskan kepada Prabandari dari
TEMPO bahwa rumah itu memang luar biasa mewah.
Dia membandingkannya dengan harga rata-rata rumah kelas menengah di Inggris,
yang hanya £ 200 ribu atau cuma seperempat puluhnya! Rumah satu lagi, atas
nama Sigit sendiri, juga telah ditawarkan seharga £ 1,95 juta. Bangunan
berlantai tiga dengan lima kamar tidur tersebut
biasanya digunakan oleh para pembantu keluarga itu.
Ada satu rumah lagi yang dibidik The Independent.. Di seberang Sungai Thames di
38-A Putney Hill, berdiri Norfolk House, kepunyaan saudara tiri Soeharto,
Probosutedjo. Rumah itu berlantai tiga, plus sembilan kamar, garasi ganda,
empat ruang resepsi, sebuah ruang biliar, dan pekarangan rumput yang luas.
Menurut penelusuran George, bangunan itu semula dibeli Probo seharga £ 93
ribu. Tapi, sejak Januari lalu, lewat agen real estate Foxtons, Probo memasang
tarif £ 1,4 juta untuk melegonya.
Ditemui TEMPO di kantornya di kawasan Chanary Wharf, London, Andrew yang pernah
meliput Tim-Tim ini menyatakan sudah cukup lama mendengar kabar soal istana
Cendana di negaranya itu. Cuma, konfirmasi amat sulit diperoleh. Baru pada
musim panas lalu, sepekan sebelum berita
itu diturunkan, kepastian datang dari HM Land Registry, semacam badan
pencatatan kepemilikan properti. Ia menunjukkan keterangan "Swansea District
Land Registry" bernomor NGL714482 tertanggal 26 Juli 1994, yang jelas-jelas
menerakan nama Elsje Harjojudanto sebagai pemiliknya.
Temuan ini baru sebagian kecil. Menurut George, yang mengaku memasok informasi
ke The Independent, ada beberapa properti Cendana lainnya di London. Cuma,
karena properti itu belum dijual, ujung pangkalnya belum bisa dipastikan betul.
Putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana
alias Tutut, kabarnya juga memiliki beberapa apartemen di 16 Hyde Park Square,
Mayfair. Ia membelinya seharga £ 350 ribu. Dan untuk merenovasinya -
dilaksanakan setelah krisis moneter - ia merogoh kocek sebesar £ 110 ribu. Di
kawasan yang sama, tepatnya di 38 Upper Grosvenor Road, juga terdapat sejumlah
apartemen luks milik Siti Hediyati "Titiek" Prabowo.
Seorang sumber TEMPO di London mengungkapkan, apartemen itu pernah ditawarkan
untuk disewa dengan tarif £ 8.000 atau sekitar Rp 120 juta per bulan.
Sementara itu, adiknya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, memiliki
sebuah rumah besar lengkap dengan padang golf 18
lubang di dekat Pacuan Kuda Ascot, London Utara, dan sebuah rumah
peristirahatan di Brighton, kota pantai di selatan London.
Di luar London, dari hasil perburuan George, dinasti itu juga diketahui
memiliki berbagai rumah supermewah dan kondominium, yang bertebaran dari
Jenewa, Hawaii, Beverly Hills-Los Angeles, Boston, sampai ke Cayman Islands di
kawasan Laut Karibia (lihat infografik).
Tommy juga disebut-sebut memiliki sebuah kawasan berburu seluas 2.500 hektare
di Selandia Baru. Area itu disebut-sebut teramat istimewa dan eksklusif.
Satu-satunya cara untuk mencapai rumah peristirahatan di tengah hutan pinus
yang mengelilinginya itu adalah dengan helikopter.
Itu baru soal properti. Keluarga terkaya ke-74 di seantero jagat menurut
ranking majalah Forbes - dengan total kekayaan US$ 4 miliar - itu juga terkenal
gila-gilaan dalam urusan menghamburkan duit.
Sampai-sampai ada yang mengibaratkan segampang menggelontorkan air.
Seorang calon pembeli yang pernah mengunjungi rumah keluarga Sigit di London
itu sempat terbengong-bengong. Ia cuma mendapati dua kamar kosong. Sisanya?
Ternyata dipenuhi tumpukan tas belanja dari Selfridges yang bahkan, katanya,
belum sempat dibuka. Sumber TEMPO di
London yang dekat dengan keluarga itu terbahak, "Jangankan di London, di
Jakarta saja mereka sering tidak sempat membuka barang yang telah dibeli." Luar
biasa. Padahal Selfridges dan Harrods adalah pusat belanja kalangan jet set di
London, yang terletak di Oxford Street yang kesohor itu.
Keluarga ini juga gemar pamer mobil mentereng. Eno Sigit, salah seorang cucu
Soeharto dari Sigit, semasa kuliah fashion di American College, London, selalu
pulang pergi diantar Rolls Royce mengkilat. Tentu saja pengemudinya adalah
seorang chauffeur - sopir pilihan dengan setelan jas dan topi hitam-hitam. The
Independent juga melaporkan Eno pernah menggelar pesta di Hotel Hilton yang
menghabiskan tak kurang dari £ 150 ribu atau sekitar Rp 2,25 miliar. Ia juga
dikabarkan pernah mengganti telepon genggamnya dalam waktu sehari cuma karena
ia tak suka dengan warnanya. Semasa itulah di kalangan mahasiswa Indonesia di
sana sangat populer sebuah komentar nyinyir ke arah trah Cendana: "Ingin
menikmati gaya hidup supermewah? Gampang. Jadilah anak dan cucu presiden."
Dua orang sumber TEMPO yang pernah kuliah di Boston, Amerika Serikat,
mengungkapkan lagak cucu Soeharto yang lain. Kali ini menyangkut putra-putri
kesayangan Tutut, Dandy dan Danty Rukmana. Sewaktu mereka kuliah di sana, mulai
tahun 1991, gaya hidup dua remaja baru gede ini
luar biasa jumawa, bahkan untuk ukuran orang Amerika. Kedua sumber itu sering
melihat Dandy dan Danty berseliweran di jalan dengan mobil mewahnya. Jenis
kendaraan yang mereka koleksi pun bukan sembarang merek, tapi mobil dengan
harga selangit, sebangsa Ferrari, Rolls Royce, dan
Porsche. Menurut sumber itu, Dandy bahkan pernah membeli sebuah
Lamborghini-Diablo seharga Rp 1 miliar. Buat warga kota kecil seperti Boston,
gaya hidup mereka amat mencolok. Sampai-sampai, jika sebuah mobil Lamborghini
melintas, orang langsung bisik-bisik, "Itu cucu salah seorang presiden di
Asia." Sumber itu juga pernah mendengar cerita dari seorang agen mobil terkenal
di kota itu tentang kebiasaan mereka yang kerap gonta-ganti mobil. "Paling
lama, mereka ganti mobil
sebulan sekali," katanya. Edan.
Yang lebih dahsyat, menurut George, dua remaja ini juga memiliki tiga rumah
mewah di kawasan itu, dengan nilai total US$ 2,5 juta atau, ya ampun, mencapai
Rp 37,5 miliar. Sumber TEMPO mendengar penuturan salah seorang temannya yang
pernah diundang menghadiri pesta di sana. Rumah itu dilengkapi dengan taman
yang luas, kolam renang supermewah, dan lapangan tenis.
Balap dan judi adalah kisah berikutnya di seputar gelimang harta dinasti
Soeharto. Seorang teman reli Tommy Soeharto menuturkan bagaimana
habis-habisannya mantan bos mobil nasional Timor itu
melakoni hobi mahalnya. Sewaktu survei reli dunia di Medan pada 1997 lalu, kata
temannya itu lagi, cuma dalam waktu sepekan, Tommy sampai "menghabiskan" tiga
unit Mitsubishi Evolution IV.
Bukan apa-apa, tiga mobil yang harga setiap unitnya Rp 250 juta itu ringsek
mencium tebing. Dan dalam setahun setidaknya Tommy harus menghabiskan 10 unit
mobil survei. Teman reli Tommy yang lain menuturkan keterbengongan seorang
wartawan Australia yang mewawancarainya. Waktu itu, kepadanya ditanyakan pihak
mana yang mensponsori tim relinya. Si wartawan melongo ketika diberi tahu bahwa
seluruh dana - yang bisa mencapai ratusan juta sampai miliaran rupiah sekali
reli - ditanggung pihaknya sendiri, alias tanpa sponsor. Padahal pereli kelas
dunia tak mungkin berlaga tanpa ada yang mensponsori.
Berbagai kasino kondang di seantero jagat pun luber dengan uang klan Soeharto.
Di Christmas Island, Burswood Casino, Australia, atau Genting Highland,
Malaysia, misalnya, nama beken anggota Keluarga Cendana sudah menjadi buah
bibir. Seorang sumber TEMPO yang berkawan
dekat dengan Ari Sigit, kakak Eno, menuturkan ulah cucu Soeharto yang satu itu.
Ceritanya begini. Ketika itu, Ari ikut reli di Malaysia dengan bendera timnya,
Sexy Motor Sport, yang mengandalkan kedigdayaan mobil Audi. Pamannya, Tommy,
juga ikut balap dengan timnya, Goro Rally.
Di suatu sore, setelah kandas di arena balap, Ari mengajak semua anggota
rombongannya ke Genting Highland, pusat perjudian terkenal di sana. Tak jelas
seberapa tebal ringgit yang ia habiskan di meja judi.
Yang jelas, silakan hitung sendiri, sampai ayam berkokok, putra sulung Sigit
Harjojudanto itu masih asyik menjajal baccarat, black jack, dan rolet. Padahal
semalaman itu tak sekali pun ia dikunjungi Dewi Keberuntungan, alias kalah
melulu. Tapi ia rupanya tak begitu ambil pusing soal kalah menang. "Ia sekadar
cari hiburan," kata sumber itu menjelaskan kenapa Ari tidak juga balik kanan
kendati koceknya sudah bolong besar.
The Independent juga menggambarkan bagaimana entengnya Tommy menghamburkan uang
di meja kasino. Salah seorang temannya yang pernah berjudi bareng di Ritz
Casino, London, punya cerita menarik. Suatu malam, Tommy keok terus. Duitnya
amblas sampai lebih dari £ 1 juta (Rp
15 miliar). Tapi putra bungsu Soeharto ini kelihatan tak begitu ambil peduli.
Dengan entengnya, seolah tak terjadi apa-apa, ia langsung mengajak
teman-temannya makan malam di sebuah restoran mewah. Easy going.
Sang teman reli itu juga mengaku pernah diajak ikut berjudi ke London, dua
tahun lalu. Mereka berangkat bersepuluh dengan jet pribadi "sang Pangeran".
Waktu itu, di luar kebiasaan, Tommy, yang lebih sering kalah ketimbang menang,
bernasib terang. Duit hasil judi itu pun langsung amblas. Hari itu juga ia
menghabiskannya dengan membeli sedan reli mutakhir, Subaru Impreza. Waktu itu
saja harganya sudah mencapai setengah miliar rupiah (sekarang berkisar antara
Rp 800 ribu dan Rp
1,2 miliar). Dua kasino favorit Tommy adalah di Christmas Island dan Genting
Highland. Di lapangan golf, kegemarannya berjudi juga tak tertahankan. Berapa
nilai taruhannya? "Enggak besar, paling-paling 50 jutaan," kata temannya itu,
enteng.
Begitulah kisah bak raja diraja itu. Boleh saja kalau Anda lantas berdecak
kagum, kaget bukan kepalang, bahkan kesal tak ketulungan.
Silakan bergegas kalau Anda tertarik memburunya.?
Karaniya Dharmasaputra, Dewi R. Cahyani, Ma'ruf Samudra, Wens Wanggut
(Jakarta), koresponden London
Laporan Khusus Tempo - Edisi. 03/XXII/23 - 29 Maret 1999
[Non-text portions of this message have been removed]