Saat melihat proses pemakaman Pak Harto, di situ ada pidato-pidato mulai dari
Presiden, Anak Tertua dan sebagainya. Karena yang namanya Pak Harto kerap
dipanggil BAPAK
BAPAK
saya jadi teringat saat pemakaman almarhum Bapak saya
sendiri. Dan sayapun mencoba membandingkannya, ternyata ada persamaannya tapi
lebih banyak perbedaannya.
Bapak Soeharto dan Bapakku sama-sama dibungkus kain kafan (saya pernah
menduga mungkin Pak Harto bakal pake kain Sutra).
Bapak Soeharto dan Bapakku sama-sama dikubur dalam tanah (Saya sempat
mengkhayal Pak Harto mungkin dikubur dalam timbunan uangnya).
Bapak Soeharto dan Bapakku sama-sama ditangisi anak-anaknya. Tapi saya
tak sempat mendengar orang lain menghujat Bapakku
Bapak Soeharto dan Bapakku sama-sama ada yang berpidato saat
pemakamannya (Bedanya di pemakaman Bapakku yang berpidato hanya seorang
tokoh masyarakat, kepala desa dan anak tertua. Dan yang paling mencolok,
dalam pidato pemakaman Bapakku ada kata-kata Jika Mendiang masih memiliki
urusan hutang piutang sewaktu masih hidup, bisa disampaikan pada ahli
warisnya, dan saat itu saya sempat harap-harap cemas. Kata-kata itu sama
sekali tidak saya dengar dari siapapun yang berpidato dalam pemakaman Pak
Harto, atau mereka memang yakin Pak Harto sama sekali tak punya urusan
utang piutang kali ya sewaktu hidup)
Bapak Soeharto dan Bapakku sama-sama dikenang selama tujuh hari,
bedanya Bapakku hanya berupa tahlilan sedangkan Pak Harto diwajibkan
mengibarkan bendera merah putih setengah tiang.
Tapi sudahlah, yang namanya orang meninggal ya meninggal, hidup terus
berjalan. Dan benar, orang meninggal tidak akan diingat selama mendiang
tersebut tidak meninggalkan bekas perbuatannya baik itu baik ataupun buruk.
Bapak Soeharto dan Bapakku sama-sama terkenang baik dimata anak-anaknya, tidak
tahu dimata orang lain.
Salam,
---------------------------------
Sent from Yahoo! - a smarter inbox.
[Non-text portions of this message have been removed]