Jurnal Sairara:
   
   
  KEMBALI BERTEMU SITOR SITUMORANG DI PARIS
   
   
  3.
   
   
  Dalam perbandingan hakiki inilah maka Sitor kutanyakan pandangannya tentang 
perkembangan sastra Indonesia dewasa ini, seperti yang sudah kututurkan di 
atas. Tapi Sitor menolak menjawabku. Barangkali pertanyaan ini akan ia jawab 
pada November 2008  yang akan datang di Paris, saat ia akan menjadi salah satu 
pembicara utama dalam kegiatan sastra Indonesia yang diselenggarakan oleh 
Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia Pasar Malam bersama Laksmi Pamuntjak 
dan Richard O.
   
   
  Sebagai orang yang pernah lama hidup di  Paris,  Sitor tentu saja kenal dekat 
dengan Pelukis Salim, yang sejak usia 17 tahun juga memilih Paris sebagai 
tempat mengembangkan diri sebagai pelukis. Sekarang pelukis ini berusia 102 
tahun dan masih penuh elan. Kukira elan memang salah satu ciri seniman. Tanpa 
elan yang berhulu pada pandangan hidup dan mimpi, barangkali seniman akan cepat 
mati. 
   
   
  Berbicara tentang elan sastrawan, aku teringat akan Nikolai Ostrovsky penulis 
"Bagaimana Baja Ditempa" [How The Steel Was Tempered]. Ketika ia buta dan 
terbaring diranjangnya,  ia mendiktekan karya terakhir kepada istrinya. 
Kreativitas sastrawan, tidak diremukkan oleh kelumpuhan fisik. Kreativitas 
sejenis ini pulalah yang membuat para pengarang yang disekap di penjara atau 
pulau pembuangan, dengan satu seribu satu cara terus berkarya. Salah satu 
contoh lain adalah Pramoedya A. Toer yang melahirkan Tertra Pulau Buru-nya. 
Adanya gedung kesenian yang dibangun oleh para Tapol di pulau pembuangan 
tersebut dan oleh Goenawan Mohamad diusulkan supaya dijadikan monumen sejarah 
nasional. Lalu jika demikian, benarkah bahwa elan itu adalah nafas hidup 
bersastra, membuat langkah sastrawan selalu tegar tegak di belantara kehidupan 
dan mencanda ajal serta duka? 
   
   
  Pelukis Salim, yang mengenal baik Picasso, Aragon dan murid Ferdinand Leger 
ini, memang secara fisik memang tak bisa mengelak dari grogotan waktu yang 
garang tak berbelas kasihan. Tapi tangannya masih saja melukis. Jiwanya masih 
tegar gagah tanpa topangan sebatang tongkat yang selalu menyertainya ke mana 
saja. 
   
   
  Ketika kusebut nama Salim, Sitor langsung menyambutku dengan gairah.
   
  "Ya saya memang menyempatkan diri menemuinya di rumahnya. Berjumpa juga 
dengan istrinya", Sitor. 
   
   
  "Yang mencengangkan saya sekaligus tentu saja menyenangkan ",  lanjut Sitor 
bahwa "ia menyambutku dengan membaca sebuah puisiku dalam bahasa Perancis dan 
Indonesia. Ia hapal luar kepala puisiku yang ia katakan puisiku yang paling ia 
sukai. Aku pun membacakan sajak-sajakku". 
   
   
  Dengan daya bayang sederhanaku aku membayang pertemuan dua seniman yang 
bersahabat sejak lama. Pasti merupakan suatu perjumpaan hangat tanpa usai 
dibawah sayap-sayap dan cici-cicit burung yang beterbangan di apartemen Pak 
Salim. Elan pada dua sosok seniman terkemuka Indonesia ini pasti menyulut nyala 
jadi suatu kobaran mimpi yang tak padam. Mimpi yang bersumber dari cinta. Puisi 
adalah jiwa dan nafas Sitor. 
   
   
  Pada malam jumpa singkat kami di Restoran Indonsia di Paris, ia memberiku dan 
menandatangani kumpulan puisinya "Biksu Tak Berjubah". "Untuk Kusni Dari Sitor 
Situmorang" , tulisnya di salah satu halaman depan antologi puisi ini. Kemudian 
ia pun membacakan beberapa puisi  dengan beberapa tema dari antologi tersebut. 
Pembacaan puisi ini mengingatkan aku akan pembacaan puisi di restoran ini juga 
ketika ada Rendra, Ken Zuraida,  Radar Panca Dahana, Sobron Aidit alm. dan 
Sitor. Dengan gaya aktornya Rendra membacakan pusi "Ada Tokek". Aku 
sungguh-sungguh merasakan malam jumpa kami beberapa tahun silam itu sebagai 
sebuah puisi tersendiri. Restoran, persahabatan, mimpi, duka, elan dan 
pertarungan berbaur menyatu dalam suatu pertemuan sederhana hingga menjadi 
puisi tersendiri. 
  Sitor kemudian mendesakku membaca puisi. Tanpa bisa mengelak maka kulantang 
"Rukmanda", puisi Klara Akustia yang kuhapal luar kepala, sebagai berikut:
   
   
  RUKMANDA
   
  "Sebutkan segala penjara
  dan itu adalah aku
   
  Sebutkan segala badai
  kepahitan pembuangan
  kerinduan pada kecapi
  kesunyian malam sepi
  kenangan pada Priangan
  dan kelayuan dari menanti
   
  Aku telah menghitung 
  rangkaian detik
  berpuluh tahun
  aku serahkan segala
  pada pesta perlawanan
  selama ini jiwa remaja
  setiap detak nafas nyawaku
  dan kala ini juga diminta
  aku nyanyikan "bangunlah kaum terhina"
   
  Aku kini tiada lagi
  bersatu dengan bumi tanahair tercinta
  tapi lagu aku tamatkan
  bersama bintang seminar kelam
  dengan debar jantung terakhir
  yang melihat fajar bersinar
  kelahiran tunas penyambung kelahiranku.
   
  Sebutkan segala penjara 
  dan itu adalah aku
  tapi sebutkan juga kesetiaan
  kegairahan dan kepahlawanan
  itulah aku!
   
   
   
  Kehadiran Sitor dan pembacaan puisi yang ia suguhkan malam ini, telah membuka 
halaman kenangan jumpa sederhana kami tahun-tahun silam di tempat dan ruang 
yang sama. Kenangan seperti bayang yang enggan meninggalkan kita di mana pun 
berada. Kepahitan pun saat ia menjadi kenangan menjelma menjadi buah manis, 
jika menggunakan kesimpulan orang Dayak Katingan. Menjelma menjadi warna rara 
di kehidupan kita, warna elan penyair.
   
   
  Paris, Mei 2008.
  -----------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoraan Indonesia di Paris .
   
   
  [Bersambung....]
   
   
  Keterangan foto:
  Sitor Situmorang dan Barbara, istrinya di Koperasi Restoran Indonesia Paris. 
[Foto dan Dok.: JJK]. Foto Sitor Situmorang di Praha 195, diambil dari Dok. 
Tahir Pakuwobowo yang dikirimkannya kepadaku].
      

   
  Sitor Situmorang di Praha,1965.
    
---------------------------------
    Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


    
---------------------------------
  
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

       
---------------------------------
Support Victims of the Cyclone in Myanmar (Burma). 
   Donate Now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke