Assalamu'alaikum Wr Wb,

Perbedaan adalah rahmat, selama tidak membawa madharat dan hanya 
berkaitan dengan hal yang furu' (cabang-cabang)saja. Tapi kalau sudah 
menyangkut hal yang ushul (pokok) dan akidah Islam, maka perbedaan 
tersebut harus diluruskan dan dikembalikan kepada Al-Qur'an dan 
Hadits. 

Dalam Islam sudah ada pedoman yang harus diikuti pemeluknya yaitu Al-
Qur'an dan Al-Hadits, jika muncul suatu masalah yang belum ada 
rujukannya di kedua pedoman utama tersebut, maka baru digunakan ijma' 
dan qiyas. Ijtihad juga diperbolehkan dilakukan, dan perbedaan hasil 
ijtihad adalah wajar. Yang benar ijtihadnya mendapat nilai 2 disisi 
Allah Swt, sedangkan yang hasil ijtihadnya belum tepat mendapat nilai 
1.

Jadi tidak ada masalah dengan perbedaan hasil ijtihad ulama. Kalau 
suatu masalah yang muncul dalam tubuh umat Islam dibiarkan saja 
berlarut-larut tanpa ada kejelasan sikap dari ulama, umat ini akan 
terombang-ambing karena mereka menjadi bingung hendak berbuat dan 
bersikap bagaimana agar keimanan mereka tetap terjaga.

Perbedaan tafsir terhadap suatu ayat sangat menentukan bentuk 
keimanan seseorang. Golongan ahmadiyah menafsirkan suatu ayat Al-
Qur'an tanpa melihat asbabun nuzul dan konteks maksud ayat terlebih 
dahulu. Sehingga dengan kesalahan tafsir terhadap salah satu ayat 
menyebabkan ahmadiyah berpendapat bahwa pintu wahyu dan kenabian 
masih terbuka setelah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. 
Sudah salah tafsir ayat, mereka juga ingkar terhadap hadits Nabi yang 
menyebutkan bahwa tidak ada lagi Nabi sesudah Muhammad Rasulullah 
SAW, apapun bentuknya. Kalo perbedaan pendapat sudah seperti ini, 
maka sudah jelas ahmadiyah telah menyimpang dari pokok ajaran Islam.
Ahmadiyah telah berani menentang Hadits Nabi tersebut, itu hanya 
salah satu bentuk penyimpangannya. Masih banyak lagi perbedaan ajarn 
pokok yang menyebabkan mereka menjadi menyimpang terlalu jauh 
sehingga perlu dirangkul untuk diluruskan kembali pada Al-Qur'an dan 
Al-Hadits.

Perbedaan pendapat bukan melecehkan Islam!
Tapi kesalahan penafsiran yang berakibat suatu golongan menyimpang 
dari akidah Islam, itu sudah jelas melecehkan Islam!!!

Benar bukan wahai saudara Ahmad Badrudduja ?!!

--- In [email protected], Ahmad Badrudduja 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu 'alaikum,
> Sekarang ini banyak kita jumpai orang-orang yang dengan mudah 
menuduh orang lain melakukan pelecehan terhadap Allah, Rasul-Nya, 
Islam, Quran, sunnah, dsb.
> 
> Kalau kita usut-usut, ternyata apa yang mereka sebut sebagai 
melecehkan Allah dan sebagainya itu adalah bahwa ada seseorang atau 
golongan yang membawa tafsir lain yang berbeda dengan yang umumnya 
diikuti oleh umat Islam. Orang yang mengkritik fatwa MUI, misalnya, 
dianggap melecehkan Islam, padahal fatwa jelas-jelas bukan ketentuan 
yang harus diikuti, sebaliknya hanya sekedar pendapat.
> 
> Jadi, yang terjadi sebetulnya bukan pelecehan Islam, tetapi 
perbedaan pendapat. Islam bukan monopoli milik golongan tertentu. 
Kalau golongan Sunni berbeda tafsir dengan golongan Syiah, bukan 
berarti salah satu dari mereka melecehkan Islam. Kalau golongan 
Ahmadi berbeda tafsir dengan golongan Sunni, bukan berarti mereka 
melecehkan Islam. Begitu seterusnya.
> 
> Saran saya: jangan mudah menuduh orang lain melecehkan Islam. 
Pendapat anda tidak identik dengan Islam, begitu pula pendapat saya. 
Kalau anda atau saya berbeda pendapat, bukan berarti saya atau anda 
melecehkan Islam.
> 
> Perbedaan pendapat bukan melecehkan Islam!
> 
> AB
>   
> 
> Ahmad Badrudduja 
>  
> Inna ikhtilaf al-mukhtalifin fi al-haqq la yujibu ikhtilaf al-haqq 
fi nafsihi 
> Kebenaran tak menjadi banyak hanya karena orang-orang berbeda 
pendapat
> -- Ibn al-Sid al-Batalyawsi (w. Valencia 1127 M)
> 
> 
>        
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke