http://www.antara.co.id/arc/2008/6/30/kongres-perminyakan-dunia-dibuka-di-madrid/
Kongres Perminyakan Dunia Dibuka di Madrid


Madrid (ANTARA News) - Kongres Perminyakan Dunia yang ke-19 dibuka di Madrid, 
Minggu malam, dengan para pemain utama dalam pertemuan itu akan membicarakan 
industri di masa mendatang, di tengah lonjakan harga minyak dunia dan 
kekhawatiran negara produsen dan konsumen.

Setelah harga minyak sempat menembus angka simbolis 140 dolar per barel di 
London dan New York pada Kamis pekan lalu, minyak terus menunjukkan rekor 
tinggi baru, dengan harga melonjak menjadi 142,97 dolar di London dan 142,99 di 
New York pada Jumat (27/6).

Kongres yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali itu akan mempertemukan 
ribuan delegasi dari seluruh dunia. Di antara para peserta kongres yang akan 
berlangsung empat hari itu antara lain Presiden Organisasi Negara-negara 
Pengekspor Minyak (OPEC) Chakib Khelil, Sekjen OPEC Abdallah El-Badri, Direktur 
Eksekutif Lembaga Energi Internasional Nabuo Tanaka, Komisioner Eropa untuk 
Energi, Andris Pielbalgs dan juga beberapa menteri.

Mereka akan bergabung dengan para pemimpin kelompok minyak internasional utama, 
termasuk Christophe de Margerie (Total), Jeroen van der Veer (Shell), Rex 
Tillersondari dari raksasa minyak Amerika Serikat ExxonMobil serta Fu Chengyu 
dari perusahaan minyak China CNOOC.

Agenda yang akan mendominasi selama kongres adalah topik-topik panas, yakni 
jaminan pasokan minyak dunia, keseimbangan pasokan dan permintaan, cadangan 
minyak dunia serta lonjakan harga produk minyak sulingan.

Namun, sebaliknya para spekulator yang memainkan peranan kunci dalam 
melonjaknya harga minyak justru tidak masuk dalam agenda.

Ini yang menjadi pokok pembicaraan pada pertemuan para konsumen dan produsen di 
Jeddah, Arab Saudi, akhir pekan lalu.

Harga diperkirakan oleh presiden OPEC akan mencapai rekor tinggi baru menembus 
kisaran 15-170 dolar AS per barel dalam beberapa bulan ke depan.

Para ahli sepakat bahwa hanya hasil konkrit pengumuman Arab Saudi bahwa negara 
itu akan menaikkan produksi harian dengan lebih dari 200.000 barel menjadi 9,7 
juta.

Sebagian besar anggota OPEC tetap secara sungguh-sungguh menentang terhadp 
setiap kenaikan dalam produksi mereka dan menuduh para spekulator dan pelemahan 
nilai tukar dolar telah menjadi penyebab kenaikan harga minyak tersebut, yang 
telah mengalami kenaikan dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir, demikian 
laporan AFP. (*)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke