Islam Hanya Ada Satu Saja.


April 9th, 2008 at 12:53 pm 

 

Assalammu'alaikum wr wb,

 

Hemat saya, jika kata Islam dimaksudkan sebagai Al-Dinu al-Islam, maka 
sesungguhnya kategorinya masuk di dalam kategori ilmu-pengetahuan kealaman atau 

sains bukan theology (baca Al-Quranu al-Karim dengan tartil dan saksama). 
Menurut ayat-ayat Al-Quran, Al-Dinu al-Islam adalah Hukum alam semesta. Seluruh 
alam semesta lahir, berkembang dan runtuh menurut hukum dan aturan yang pasti 
dan tak dapat dihindari. Hukum ini juga berlaku bagi masyarakat manusia dan 
pribadi-pribadi manusia. Hukum ini telah dapat dideteksi, diujicoba, dianalisis 
sehingga diketahui keumuman dan kekhususan keberlakuan hukum alam semesta ini 
secara lokal, setempat dan secara menyeluruh. Hukum alam semesta ini secara 
mendasar telah dapat diujicoba melalui teori matematika S.W. Hawking et al 
dengan mempergunakan model hiphotetis (saya gunakan definisi hipotese demi 
memberikan ruang kebebasan argumentasi kepada para kritikus teori, a.l teori 
"Twistor" dari Roger Penrose PhD) yang dinamakannya sebagai "No Boundary 
Proposals". Dalam proposalnya itu S.W. Hawking et al mendasarkan pemikirannya 
kepada keumuman hukum dasar yang menjadi prinsip kwantum mekanika yang dikenal 
sebagai superposisi. Superposisi mekanika klasik ini oleh Richard Fyneman 
dirumuskan dalam model matematika kwantum superposisi yang memasukkan semua 
kemungkinan yang berbeda-beda dari rata-rata proses kejadian dari awal sampai 
selesai. Pada galibnya setiap obyek, baik yang klasik maupun kwantum, selalu 
berada di suatu keadaan yang menunjukkan letak kedudukannya dan kecepatan dalam 
ruang. Apabila dalam hal obyek klasik yang berada dalam suatu keadaan dapat 
dinyatakan dengan menjelaskannya melalui suatu jumlah satuan tunggal, maka pada 
obyek kwantum keadaan keberadaannya lebih diperkaya lagi sebagai jumlah atau 
superposisi dari semua kemungkinan yang ada pada keadaan klasik. Prinsip ini 
dipergunakan dalam pendekatan geometri kwantum gravitasi Eucledian yang 
diaplikasikan di seluruh alam semesta. Pendekatan geometri kwantum gravitasi 
ini tidak melibatkan superposisi dari jalan setapak partikel yang 
berlain-lainan, tetapi melibatkan proses yang berlain-lainan bagaimana alam 
semesta berkembang dalam waktu dan membentuk berbagai geometri ruang-waktu yang 
dimungkinkan [Jonathan J. Halliwel: "Quantum Cosmology and the Creation of the 
Universe" SciAm, Dec.1991]. 



Pada ujicoba simulasi komputer dengan mempergunakan komputer tercanggih saat 
ini, sebuah team studi yang terdiri dari Jan Ambjorn dari Niels Bohr Institute 
Copenhagen, Denmark dan Universiteit Utrecht, Negeri Belanda, Jerzy Jurkiewicz 
dari Jagiellonian Institute Krakow, Polandia dan Renate Loll dari Universiteit 
Utrecht, Negeri Belanda telah dihasilkan suatu simulasi komputer pendekatan 
alam semesta melalui kwantum gravitasi geometri Eucledian dengan menyertakan 
KAUSALITAS PERTAMA bagi pembangunan alam semesta mengikuti pola pemikiran No 
Boundary Prosposals yang mendefinisikan ruang dan waktu dalam tingkat 
kesederajatan di mana waktu dinyatakan sebagai WAKTU SEMU (immaginair).Di dalam 
teknis aplikasi simulasi komputer ini diwujudkan dalam penyertaan sebab 
struktural dengan yargon teknisnya "Causal Dynamical Triangulations" pada 
tingkat yang jauh lebih awal menjelang fluktuasi. Dalam teknis model ini pada 
setiap simplex dipasang panah waktu dari masalampau yang mengarah ke masadepan, 
selanjutnya diharuskan berlakunya suatu aturan sebab perekatan: tiap dua 
simplex harus direkatkan bersama sedemikian rupa agar arah panah waktunya 
menjadi searah, tidak pernah akan mandeg atau berlari balik arah. Dengan 
demikian maka ruang terjaga secara menyeluruh akan bentuk globalnya sepanjang 
perjalanan waktu, tidak rusak dan pecah berkeping-keping, terpisah-pisah, serta 
tidak menjadi "wormhole". Dalam proses menunggu hasil simulasi dengaan penuh 
ketegangan dengan berbagai kemungkinan yang terbuka dari ujicoba simulasi 
komputer tersebut, maka pada suatu hari di tahun 2004 komputer para fisikawan 
eksperimental tadi memberikan hasil pertama pendekatan dimensi alam semesta 
dalam satuan 4,02+/-0,1[Jan Ambjorn, Jerzy Jurkiewicz and Renate Loll: "The 
Selfs Organizing Quantum Universe" SciAm, July 2008].Demikianlah interpretasi 
yang paling dekat atas firman QS.36 ayat 82 mengenai kalimat "KUN! FAYAKUUN" 
secara mantab semakin jelas dan benderang. 

 

Karenanya bagi mereka yang mempelajari ilmu-ilmu eksakta akan lebih dekat untuk 
mampu memahami maksud ayat-ayat Al-Quran ketimbang yang hanya mempelajari 
ilmu-ilmu sosial. Sebab ilmu-ilmu sosial tidak dapat dipastikan dengan suatu 
teori maupun hyphothese. Ilmu-ilmu sosial, walaupun sekarang diusahakan 
mempergunakan peralatan ilmu-ilmu eksakta juga, namun prosentase kesalahan 
masih sangat besar dan bahkan kadang-kadang ada hal-hal yang tak terbaca 
samasekali (studie peristiwa G30S dan Surat Perintah Sebelas Maret 1966). Dalam 
ilmu sosial masih belum diperoleh peluang kajiulang dan ujicoba dalam skala 
masyarakat manusia. Sekalipun suatu pandangan belum dibuktikan oleh realitas 
mandiri masyarakat manusia, kebanyakan pandangan fikir seseorang atau suatu 
kelompok manusia telah diadopsi secara konsensus sebagai teori yang dapat 
diaplikasikan tanpa menunggu konfirmasi data kajiulang dan ujicoba. Apabila 
masyarakat-masyarakat manusia yang pernah lahir, tumbuh, berkembang dan runtuh 
boleh dijadikan sebagai model-model masyarakat percobaan, kajiulang dan 
ujicoba, maka perolehan data darinya secara faktual sulit dapat dipastikan 
adanya, disebabkan terjadinya disintegrasi dan pemusnahan kebudayaan serta 
registrasi sejarah.  

 

Di dalam ilmu eksakta terkandung selain rasionalitas dan logika pemikiran 
empiris juga ada kaitan dialektika alamiyah yang menjadi jelujur dalam lompatan 

kwalitatif pemikiran (baca cerita S.W. Hawking dalam "Brief History of Time" di 
Nature). Di dalam Al-Quran firman-firman yang diwahyukan dalam Surah An-Najm 
(53) dari ayat 1 s/d ayat 18 memberi petunjuk kepada kita akan permasalahan 
dialektika alamiyah yang hingga kini masih terus digeluti oleh para ahli 

matematika teori (Brian Green menjelaskan dialektika matematik alam semesta 
dengan jelas dan menarik dalam bukunya "The Fabric of the Cosmos"). 

 

Menurut hemat saya Islam itu hanya ada SATU saja, yaitu yang difirmankan di 
dalam model Al-Quranu al-Karim dan diwahyukan kepada rasulullah Muhammad saw. 
Maksud saya agar kita tidak menjadi bingung sendiri oleh banyaknya cara 
pendekatan terhadap Islam yang telah dilakukan oleh para ahli Islam, sarjana 
Muslim dan 'ulama theologi Islam. Pendekatan terhadap Islam ini tentunya harus 
ada titik tolaknya, dari mana hendak didekati? 

 

Jika didekati dari pemikiran manusia maka harus dicatat bahwa seringkali 
manusia mempergunakan titik tolak duga-duga tanpa dasar faktual (dzhonu) yang 
di dalam tradisi Yunani dinamakan filosofi. Oleh sebab itu di dalam penyajian 
obyek kajian diperlukan ketepatan penggunaan sistematika, symantica, gramatika, 
estetika, bahasa. Pendekatan filosofis demikian tidak akan dapat menghindar 
dari kerangka kerja pemikiran yang bertolak dari kepercayaan terhadap sesuatu 
yang supra alami dalam model religi atau agama. Sedangkan sifat-sifat Allah swt 
dan asma'ul husnaa yang 99 itu sendiri menunjukkan kemanunggalan yang tidak 
terjangkau akal, fikiran dan perasaan manusia. Jika didekati dari titik tolak 
pengamatan lapangan (empirik) maka kita tidak bisa menduga-duga begitu saja 
tanpa data faktual, sebab kita dikonfrontasi dengan bombardemen informasi 
persepsional melalui berbagai peralatan penginderaan yang ada pada setiap 
individu manusia (cobalah ke luar kamar dan menghirup udara di halaman atau 
kebun atau jalanan dan perhatikan langit yang gelap penuh bintang-bintang). 
Bahkan dalam hal memahami "rasa" yang biasanya menjadi acuan spiritualisme 
religius dituntut adanya data-data faktual dari model keberadaannya yang sudah 
terregistrasi (QS.53:11). Maka adalah tidak mengada-ada apabila sunnah 
rasulullah Muhammad saw juga tidak menerapkan firman-firman Allah swt secara 
religius, tetapi secara praktis, methodis, didaktis dan strategis sebagai 
pembumian firman "Iqro' Bismirobbika al-ladzii holaq.....", sehingga terbentuk 
suatu model masyarakat manusia modern yang BERADAB dengan dasar Konstitusi 
Madinah di semenanjung Arabia yang masih biadab.

 

Apabila kita memperhatikan kata per kata hingga mengenal kombinasi huruf-huruf 
Hijaiyah yang dipergunakan sebagai akar kata dalam susunan kata dan kalimat 
firman di dalam Al-Quran maka akan kita temukan petunjuk agar kita mendekati 
dari titik tolak di luar diri kita, sebagai manusia. Yaitu bertolak dari 
realitas mandiri alam semesta, masyarakat manusia. Dari titik tolak demikian 
itu kita akan dapat mengumpulkan pengetahaun dan menyusun postulat, hipothese, 
teori dan menyimpulkannya ke dalam ilmu pengetahuan yang dapat kita refernsikan 
kepada realitas mandiri alam semesta seisinya juga dapat direferensikan kepada 
firman-firmanb Qurani. Seyogyanya teman-teman yang memiliki basis sains 
(ilmu-pengetahuan kealaman) berkerjasama dengan teman-teman yang memiliki basis 
ilmu-ilmu sosial melakukan studi Islam dengan bertitik tolak dari realitas 
mandiri alam semesta. Selanjutnya hasil-hasil pendekatan tersebut dapat 
diaplikasikan kedalam studi gejala-gejala sosial yang hidup dan berkembang di 
dalam masyarakat Muslimin, di dalam kehidupan nyata keseharian kita pribadi 
dengan maksud meningkatkan kesadaran manusia biologis ke tingkat kesadaran 
manusia Mukminin, Muhlisin, Muhsinin dan Mutaqin. Ke-empat model kesadaran ini 
akan mentransformasikan diri kita menjadi anggota dari suatu masyarakat mahluk 
ciptaan yang ideal: Kholifatan fii al-ardzh. Polah laku dan pemikiran manusia 
tidak bisa dipisahkan dari keterkaitan manusia terhadap alam semesta secara 
tunggal. Dalam hal ini tampak kelemahan ilmu-ilmu sosial yang memisahkan obyek 
kajiannya (manusia individual dan masyarakatnya) dari hukum alam semesta secara 
general.

 

Wa bii Allahi taufiqu wa al-hidayah wassalam,

A.M


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke