Memang. kata "holaqo - ho'-lam-qof" itu punya penggunaan pengertian berbeda 
dengan kata "badi'u - ba'-dal-'ain" yang dalam Bahasa Indonesia dapat 
diterjemahkan dengan kata "mencipta, membuat, mengadakan" dan masih banyak lagi 
kata sinonim yang digunakan firman Qurani untuk memberikan aksentuasi terhadap 
YANG DIMAKSUDKAN oleh firman Qurani. 

Dalam hal tersebut di atas, saya mempergunakan kutipan firman dalam rangka 
menjelaskan tentang ARAH PETUNJUK firman-firman Qurani yang menjelaskan 
mengenai KEHARUSAN manusia mempergunakan prasarana penginderaan yang 
dimilikinya dan rasionalitas pemikiran manusia dalam memahami KEBERADAAN ALLAH 
SWT YANG UNIK (TUNGGAL TAK TERTANDINGI). 

Dalam tulisan saya tunjukkan perbedaan titik tolak dasar ilmu-ilmu eksakta dari 
ilmu-ilmu sosial. Ilmu sosial menggarap permasalahan benda yang berfikir dan 
berkesadaran yang menjadi SUBYEK alam semesta, sedangkan sains menggarap benda 
yang tidak berkesadaran dan tidak berfikir sebagai OBYEK dari subyek yang 
berfikir dan berkesadaran, subyek alam semesta (pengamat-observer). 

Saya hanya menyarankan agar PETUNJUK WAHYU QURANI difahami dan dilaksanakan 
sebagaimana yang dimaksudkan oleh YANG MAHA PEMBERI PETUNJUK. Dan tidak kita 
laksanakan sebagaimana yang kita perkirakan dan duga-duga tanpa dasar faktual.

Apabila BENAR atau TEPAT pemahaman dan penafsiran kaum sufi dan para 
spiritualis terhadap TUHAN sebagaimana bung katakan, maka pada galibnya ummat 
manusia ini sudah hidup aman sentausa, makmur dan bergembira ria sebagaimana di 
idamkan saat sekarang ini, khususnya di dalam masyarakat kaum Muslimin sendiri.

Salam,
A,M


  ----- Original Message ----- 
  From: Ferry Adriansyah 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, July 15, 2008 9:43 AM
  Subject: RE: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja


  Pemahaman anda terhadap wahyu pertama menunjukan anda hanya bisa memahami
  alquran dari sudut sains. Kata yang digunakan quran adalah khalaqo dalam
  wahyu pertama yang anda kutip. Sudahkah anda mengkaji dengan mendalam kata
  khalaqo dalam tata bahasa arab itu memiliki makna seperti apa? Untuk
  ketegori menciptakan yang seperti apa biasanya bangsa arab menggunakan kata
  khalaqo? Begitu juga nantinya dalam alquran. Argumentasi yang anda sampaikan
  sepertinya tidak didasari basis epistimologi studi alquran itu sendiri. Apa
  yang anda lakukan adalah penafsiran seperti terjun bebas. Tapi itu hak anda,
  yang menjadi titik poin saya adalah, tolong hindari arogansi disiplin
  keilmuan tertentu. Tulisan anda terasa hambar dan kaku karena anda sangat
  sibuk mengutip berbagai teori untuk membangun pandangan apologetik anda
  untuk membuktikan bahwa islam atau alquran sejalan dengan sains. Di lain
  sisi, anda tidak dapat memaparkan kajian mendalam dilluar kajian sains.

  Kalau anda mempertanyakan universalitas alquran, anda harus mampu membedakan
  terlebih dahulu teks ayat-ayat quran dan nilai moral ayat-ayat al-quran.
  Teks alquran memang lokal dan spesifik, tapi tidak untuk nilai moral
  alquran, ia bersifat universal. Sama seperti kitab suci manapun yang di
  dalam teks-teksnya terkandung nilai-nilai kebajikan. Banyak sarjana quran
  yang mengingatkan, alquran turun dalam bentuk sastra, maka setidaknya kita
  harus memposisikan dan memandang quran dalam perspektif sastra. Penuh dengan
  perlambang dan metafor. Begitupun misalnya dalam memahami wahyu pertama,
  terlalu gegabah jika anda menafsirkan wahyu pertama dengan sangat kaku
  seperti tadi lalu menjadikannya sebagai tafsir tunggal yang anda yakini
  paling tepat. 

  Berislam tidak seperti matematika. Kebaikan - keburukan = nasib di kehidupan
  selanjutnya. Jika hasilnya plus maka akan mendapat kebahagian. Jika
  hasilnya minus maka akan beroleh kesengsaraan. Berislam juga tidak seperti
  sekolah, Main-main/bandel di kelas 1 sampe kelas 5, di kelas 6 baru
  memperbaiki diri (taubat) lalu lulus dari pendidikan dasar dan berhak
  melanjutkan ke kehidupan selanjutnya. 

  Saya katakan anda terlalu apologetik salah satunya dengan pernyataan anda, 

  Polah laku dan pemikiran
  manusia tidak bisa dipisahkan dari keterkaitan manusia terhadap alam semesta
  secara tunggal. Dalam hal ini tampak kelemahan ilmu-ilmu sosial yang
  memisahkan obyek kajiannya (manusia individual dan masyarakatnya) dari hukum
  alam semesta secara general.

  Jutaan jiwa praktisi tasawuf misalnya, atau mereka yang menjalani praktis
  sufi/spiritualitas baik dari kalangan agama tertentu atau non agama, tanpa
  mereka dididik dengan pendekatan sains atau fisika, menyadari betul bahwa
  jiwa atau diri mereka bagian tidak terpisahkan dari semesta. Dalam setiap
  benda sekecil apapun baik yang "bernyawa" atau tidak disana ada "nafas"
  Tuhan. Tuhan sebagai pusat dari semesta. Mereka mampu memahami itu bukan
  dari nalar sains atau fisika. Tapi mereka memahami semua itu karena mereka
  "mengalami" sendiri semuanya. Mengalami semuanya karena mereka telah
  mengalami kesadaran ruhani. Jiwa mereka telah tersingkap untuk memahami
  kehidupan. Tidak perlu berliku-liku membangun keyakinan berbasis teori-teori
  tertentu. Waktu tidak dibuang-buang untuk hal yang tidak terlalu penting.
  Justru apa yang dilakukan, apa yang dikerjakan, dan apa yang dipelajari
  bukan lagi mengurusi teologi atau mempelajari sains untuk mengukuhkan atau
  membuktikan kebenaran konsep teologi. Kalo mereka belajar sains atau ilmu
  apapun, tujuannya adalah untuk memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
  Tanpa perlu bawa-bawa agama. Tanpa perlu bawa-bawa kitab suci. 

  Salam,

  Ferry

  _____ 

  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
  Of A. Marconi
  Sent: 15 Juli 2008 13:47
  To: [email protected]
  Subject: Re: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja

  Bung, kesan saya, apa tidak sebaliknya? Jika bung menganggap Al-Quran itu
  universal, apakah tidak salah bung berpendapat "...... lama kelamaan tulisan
  anda ini semakin mempersempit universalitas alquran."?

  Saya cenderung telusuri dahulu mula buka (sejarah) theologi dan sejarah
  sains. Nanti akan bung temukan bahwa sebelum manusia mengenal sains terlebih
  dahulu mereka membangun theologi, mereka mendasarkan diri kepada persangkaan
  pemikiran dan fantasi. Dan sains lahir dari kritik manusia terhadap theologi
  melalui filosofi. Sehingga sains merupakan pemahaman, pengenalan dan titik
  tolak pemikiran manusia yang paling akhir dari urutan sejarah budaya manusia
  di Bumi, setelah rasulullah Muhammad saw pada kira-kira 6 Agustus 670 AD
  menerima wahyu pertama. 

  Dan justru Al-Quran-lah wahyu pertama yang menganjurkan manusia
  mempergunakan sains guna mengenal illah yang sejati dengan seruan wahyu
  pertama "Iqro' Bismirobbika al-ladzi holaq........." ("Bacalah! dengan
  atasnama Rob-mu Yang menciptakan ......". Untuk bisa membaca kita perlu ilmu
  pengetahuan (tengok sejarah munculnya huruf-huruf paku dan gambar-gambar di
  gua-gua). Pengetahuan manusia yang diakses sebelum lahirnya sains modern
  pada dasarnya adalah pengetahuan pengalaman praktis dalam kekususan dan
  berlaku lokal yang belum tersimpulkan secara sistematis dan tersusun dalam
  keumumman sehingga memiliki ciri-ciri universalitas.

  Salam sejahtera,
  A.M

  ----- Original Message ----- 
  From: Ferry Adriansyah 
  To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com 
  Sent: Tuesday, July 15, 2008 4:15 AM
  Subject: RE: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja

  Bung, saya perhatikan, lama kelamaan tulisan anda ini semakin mempersempit
  universalitas alquran. Anda terlalu sibuk melakukan pembuktian kebenaran
  Islam/alquran dengan sebatas elmu pengetahuan kealaman. Seperti orang yang
  sedang mengalami 'puber" dalam beragama. Secara prinsip saya menghargai
  kerja keras anda, tapi jangan sampai membuat anda terbelenggu dalam standar
  kebenaran elmu kealaman. Apalagi anda terkesan sinis terhadap teologi dan
  elmu-elmu keso-sial-an. Islam dan Alquran seakan anda kerangkeng dalam
  disiplin ilmu pengetahuan yang anda tekuni. Saya sarankan, kacamata kuda
  yang anda gunakan dilepas secepatnya. Proporsionalnya saja lah dalam
  memposisikan disiplin elmu tertentu.

  Salam damai,

  Ferry 

  _____ 

  From: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com
  [mailto:[EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com] On
  Behalf
  Of A. Marconi
  Sent: 14 Juli 2008 18:03
  To: patrapmania@ <mailto:patrapmania%40yahoogroups.com> yahoogroups.com;
  Interdisiplin@ <mailto:Interdisiplin%40yahoogroups.com> yahoogroups.com;
  Sains_Islami@ <mailto:Sains_Islami%40yahoogroups.com> yahoogroups.com;
  [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com;
  islam_liberal@ <mailto:islam_liberal%40yahoogroups.com> yahoogroups.com
  Subject: [ppiindia] Islam Hanya Ada Satu Saja

  Islam Hanya Ada Satu Saja.

  April 9th, 2008 at 12:53 pm 

  Assalammu'alaikum wr wb,

  Hemat saya, jika kata Islam dimaksudkan sebagai Al-Dinu al-Islam, maka
  sesungguhnya kategorinya masuk di dalam kategori ilmu-pengetahuan kealaman
  atau 

  sains bukan theology (baca Al-Quranu al-Karim dengan tartil dan saksama).
  Menurut ayat-ayat Al-Quran, Al-Dinu al-Islam adalah Hukum alam semesta.
  Seluruh alam semesta lahir, berkembang dan runtuh menurut hukum dan aturan
  yang pasti dan tak dapat dihindari. Hukum ini juga berlaku bagi masyarakat
  manusia dan pribadi-pribadi manusia. Hukum ini telah dapat dideteksi,
  diujicoba, dianalisis sehingga diketahui keumuman dan kekhususan keberlakuan
  hukum alam semesta ini secara lokal, setempat dan secara menyeluruh. Hukum
  alam semesta ini secara mendasar telah dapat diujicoba melalui teori
  matematika S.W. Hawking et al dengan mempergunakan model hiphotetis (saya
  gunakan definisi hipotese demi memberikan ruang kebebasan argumentasi kepada
  para kritikus teori, a.l teori "Twistor" dari Roger Penrose PhD) yang
  dinamakannya sebagai "No Boundary Proposals". Dalam proposalnya itu S.W.
  Hawking et al mendasarkan pemikirannya kepada keumuman hukum dasar yang
  menjadi prinsip kwantum mekanika yang dikenal sebagai superposisi.
  Superposisi mekanika klasik ini oleh Richard Fyneman dirumuskan dalam model
  matematika kwantum superposisi yang memasukkan semua kemungkinan yang
  berbeda-beda dari rata-rata proses kejadian dari awal sampai selesai. Pada
  galibnya setiap obyek, baik yang klasik maupun kwantum, selalu berada di
  suatu keadaan yang menunjukkan letak kedudukannya dan kecepatan dalam ruang.
  Apabila dalam hal obyek klasik yang berada dalam suatu keadaan dapat
  dinyatakan dengan menjelaskannya melalui suatu jumlah satuan tunggal, maka
  pada obyek kwantum keadaan keberadaannya lebih diperkaya lagi sebagai jumlah
  atau superposisi dari semua kemungkinan yang ada pada keadaan klasik.
  Prinsip ini dipergunakan dalam pendekatan geometri kwantum gravitasi
  Eucledian yang diaplikasikan di seluruh alam semesta. Pendekatan geometri
  kwantum gravitasi ini tidak melibatkan superposisi dari jalan setapak
  partikel yang berlain-lainan, tetapi melibatkan proses yang berlain-lainan
  bagaimana alam semesta berkembang dalam waktu dan membentuk berbagai
  geometri ruang-waktu yang dimungkinkan [Jonathan J. Halliwel: "Quantum
  Cosmology and the Creation of the Universe" SciAm, Dec.1991]. 

  Pada ujicoba simulasi komputer dengan mempergunakan komputer tercanggih saat
  ini, sebuah team studi yang terdiri dari Jan Ambjorn dari Niels Bohr
  Institute Copenhagen, Denmark dan Universiteit Utrecht, Negeri Belanda,
  Jerzy Jurkiewicz dari Jagiellonian Institute Krakow, Polandia dan Renate
  Loll dari Universiteit Utrecht, Negeri Belanda telah dihasilkan suatu
  simulasi komputer pendekatan alam semesta melalui kwantum gravitasi geometri
  Eucledian dengan menyertakan KAUSALITAS PERTAMA bagi pembangunan alam
  semesta mengikuti pola pemikiran No Boundary Prosposals yang mendefinisikan
  ruang dan waktu dalam tingkat kesederajatan di mana waktu dinyatakan sebagai
  WAKTU SEMU (immaginair).Di dalam teknis aplikasi simulasi komputer ini
  diwujudkan dalam penyertaan sebab struktural dengan yargon teknisnya "Causal
  Dynamical Triangulations" pada tingkat yang jauh lebih awal menjelang
  fluktuasi. Dalam teknis model ini pada setiap simplex dipasang panah waktu
  dari masalampau yang mengarah ke masadepan, selanjutnya diharuskan
  berlakunya suatu aturan sebab perekatan: tiap dua simplex harus direkatkan
  bersama sedemikian rupa agar arah panah waktunya menjadi searah, tidak
  pernah akan mandeg atau berlari balik arah. Dengan demikian maka ruang
  terjaga secara menyeluruh akan bentuk globalnya sepanjang perjalanan waktu,
  tidak rusak dan pecah berkeping-keping, terpisah-pisah, serta tidak menjadi
  "wormhole". Dalam proses menunggu hasil simulasi dengaan penuh ketegangan
  dengan berbagai kemungkinan yang terbuka dari ujicoba simulasi komputer
  tersebut, maka pada suatu hari di tahun 2004 komputer para fisikawan
  eksperimental tadi memberikan hasil pertama pendekatan dimensi alam semesta
  dalam satuan 4,02+/-0,1[Jan Ambjorn, Jerzy Jurkiewicz and Renate Loll: "The
  Selfs Organizing Quantum Universe" SciAm, July 2008].Demikianlah
  interpretasi yang paling dekat atas firman QS.36 ayat 82 mengenai kalimat
  "KUN! FAYAKUUN" secara mantab semakin jelas dan benderang. 

  Karenanya bagi mereka yang mempelajari ilmu-ilmu eksakta akan lebih dekat
  untuk mampu memahami maksud ayat-ayat Al-Quran ketimbang yang hanya
  mempelajari ilmu-ilmu sosial. Sebab ilmu-ilmu sosial tidak dapat dipastikan
  dengan suatu teori maupun hyphothese. Ilmu-ilmu sosial, walaupun sekarang
  diusahakan mempergunakan peralatan ilmu-ilmu eksakta juga, namun prosentase
  kesalahan masih sangat besar dan bahkan kadang-kadang ada hal-hal yang tak
  terbaca samasekali (studie peristiwa G30S dan Surat Perintah Sebelas Maret
  1966). Dalam ilmu sosial masih belum diperoleh peluang kajiulang dan ujicoba
  dalam skala masyarakat manusia. Sekalipun suatu pandangan belum dibuktikan
  oleh realitas mandiri masyarakat manusia, kebanyakan pandangan fikir
  seseorang atau suatu kelompok manusia telah diadopsi secara konsensus
  sebagai teori yang dapat diaplikasikan tanpa menunggu konfirmasi data
  kajiulang dan ujicoba. Apabila masyarakat-masyarakat manusia yang pernah
  lahir, tumbuh, berkembang dan runtuh boleh dijadikan sebagai model-model
  masyarakat percobaan, kajiulang dan ujicoba, maka perolehan data darinya
  secara faktual sulit dapat dipastikan adanya, disebabkan terjadinya
  disintegrasi dan pemusnahan kebudayaan serta registrasi sejarah. 

  Di dalam ilmu eksakta terkandung selain rasionalitas dan logika pemikiran
  empiris juga ada kaitan dialektika alamiyah yang menjadi jelujur dalam
  lompatan 

  kwalitatif pemikiran (baca cerita S.W. Hawking dalam "Brief History of Time"
  di Nature). Di dalam Al-Quran firman-firman yang diwahyukan dalam Surah
  An-Najm (53) dari ayat 1 s/d ayat 18 memberi petunjuk kepada kita akan
  permasalahan dialektika alamiyah yang hingga kini masih terus digeluti oleh
  para ahli 

  matematika teori (Brian Green menjelaskan dialektika matematik alam semesta
  dengan jelas dan menarik dalam bukunya "The Fabric of the Cosmos"). 

  Menurut hemat saya Islam itu hanya ada SATU saja, yaitu yang difirmankan di
  dalam model Al-Quranu al-Karim dan diwahyukan kepada rasulullah Muhammad
  saw. Maksud saya agar kita tidak menjadi bingung sendiri oleh banyaknya cara
  pendekatan terhadap Islam yang telah dilakukan oleh para ahli Islam, sarjana
  Muslim dan 'ulama theologi Islam. Pendekatan terhadap Islam ini tentunya
  harus ada titik tolaknya, dari mana hendak didekati? 

  Jika didekati dari pemikiran manusia maka harus dicatat bahwa seringkali
  manusia mempergunakan titik tolak duga-duga tanpa dasar faktual (dzhonu)
  yang di dalam tradisi Yunani dinamakan filosofi. Oleh sebab itu di dalam
  penyajian obyek kajian diperlukan ketepatan penggunaan sistematika,
  symantica, gramatika, estetika, bahasa. Pendekatan filosofis demikian tidak
  akan dapat menghindar dari kerangka kerja pemikiran yang bertolak dari
  kepercayaan terhadap sesuatu yang supra alami dalam model religi atau agama.
  Sedangkan sifat-sifat Allah swt dan asma'ul husnaa yang 99 itu sendiri
  menunjukkan kemanunggalan yang tidak terjangkau akal, fikiran dan perasaan
  manusia. Jika didekati dari titik tolak pengamatan lapangan (empirik) maka
  kita tidak bisa menduga-duga begitu saja tanpa data faktual, sebab kita
  dikonfrontasi dengan bombardemen informasi persepsional melalui berbagai
  peralatan penginderaan yang ada pada setiap individu manusia (cobalah ke
  luar kamar dan menghirup udara di halaman atau kebun atau jalanan dan
  perhatikan langit yang gelap penuh bintang-bintang). Bahkan dalam hal
  memahami "rasa" yang biasanya menjadi acuan spiritualisme religius dituntut
  adanya data-data faktual dari model keberadaannya yang sudah terregistrasi
  (QS.53:11). Maka adalah tidak mengada-ada apabila sunnah rasulullah Muhammad
  saw juga tidak menerapkan firman-firman Allah swt secara religius, tetapi
  secara praktis, methodis, didaktis dan strategis sebagai pembumian firman
  "Iqro' Bismirobbika al-ladzii holaq.....", sehingga terbentuk suatu model
  masyarakat manusia modern yang BERADAB dengan dasar Konstitusi Madinah di
  semenanjung Arabia yang masih biadab.

  Apabila kita memperhatikan kata per kata hingga mengenal kombinasi
  huruf-huruf Hijaiyah yang dipergunakan sebagai akar kata dalam susunan kata
  dan kalimat firman di dalam Al-Quran maka akan kita temukan petunjuk agar
  kita mendekati dari titik tolak di luar diri kita, sebagai manusia. Yaitu
  bertolak dari realitas mandiri alam semesta, masyarakat manusia. Dari titik
  tolak demikian itu kita akan dapat mengumpulkan pengetahaun dan menyusun
  postulat, hipothese, teori dan menyimpulkannya ke dalam ilmu pengetahuan
  yang dapat kita refernsikan kepada realitas mandiri alam semesta seisinya
  juga dapat direferensikan kepada firman-firmanb Qurani. Seyogyanya
  teman-teman yang memiliki basis sains (ilmu-pengetahuan kealaman)
  berkerjasama dengan teman-teman yang memiliki basis ilmu-ilmu sosial
  melakukan studi Islam dengan bertitik tolak dari realitas mandiri alam
  semesta. Selanjutnya hasil-hasil pendekatan tersebut dapat diaplikasikan
  kedalam studi gejala-gejala sosial yang hidup dan berkembang di dalam
  masyarakat Muslimin, di dalam kehidupan nyata keseharian kita pribadi dengan
  maksud meningkatkan kesadaran manusia biologis ke tingkat kesadaran manusia
  Mukminin, Muhlisin, Muhsinin dan Mutaqin. Ke-empat model kesadaran ini akan
  mentransformasikan diri kita menjadi anggota dari suatu masyarakat mahluk
  ciptaan yang ideal: Kholifatan fii al-ardzh. Polah laku dan pemikiran
  manusia tidak bisa dipisahkan dari keterkaitan manusia terhadap alam semesta
  secara tunggal. Dalam hal ini tampak kelemahan ilmu-ilmu sosial yang
  memisahkan obyek kajiannya (manusia individual dan masyarakatnya) dari hukum
  alam semesta secara general.

  Wa bii Allahi taufiqu wa al-hidayah wassalam,

  A.M

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]

  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG - http://www.avg. <http://www.avg.com> com 
  Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.4.10/1551 - Release Date: 14-7-2008
  6:49

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]



   
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com 
Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.4.11/1553 - Release Date: 15-7-2008 5:48


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke