DILEMA UAN: PAKAI DULU CELANA DAN BAJUMU,
BARULAH PIKIRKAN GANTUNG DASI DI LEHERMU
Oleh: Shohibul Anshor Siregar
Anak-anak itu menangis histeris
mempertahankan bangku sekolah yang menurut mereka adalah hak bagi mereka.
Bangku sekolah itu akan ditarik pengrajin yang memasok sebelumnya akibat
bayaran yang hampir dipastikan dikorup oleh aparat kependidikan non sekolah.
Kejadian yang disiarkan oleh tv itu secara luas terjadi di Jawa, baru-baru ini.
Di Medan beberapa tahun lalu survey
‘nBASIS tentang aksesibilitas sekolah berhasil memperoleh data buruknya
bangunan sekolah, meski pada saat yang sama Medan
digaungkan sebagai kota
Metropolitan. Medan,
sebagaimana kota-kota besar lain di Indonesia, memang memiliki sekolah-sekolah
unggulan sebagai simbol paling jujur tentang semakin tegasnya kasta yang
diesign sesuai pertumbuhnya kelas menengah dan atas. Kelas menengah dan atas
ini adalah sebuah fenomena yang oleh ahli ekonomi jarang diterangkan sebagai
akibat langsung buruknya distribusi sumber. Jadi, pendidikan di Indonesia sudah
tampil sebagai sarana perkastaan yang tegas, konsepsional dan permanen. Tak ada
professor dan para pembijaksana Negara yang menyadari itu untuk dirombak.
Di Indonesia, saat ini, dalam tahun
anggaran berjalan, baru saja terlaksana sebuah
kemauan untuk tunduk kepada tuntutan imperatif konstitusi yang
mewajibkan seluruh jajaran pemerintahan memenuhi alokasi anggaran sebesar 20 %
dari total APBN dan APBD. Tetapi
perumusannya begitu mengherankan, melukiskan ketidak-fahaman Indonesia terhadap
filosofi yang dikandung oleh konstitusi yang mewajibkan alokasi 20 % itu.
Pasalnya, seluruh jajaran pemerintaham tidak mau faham sama sekali apa yang
dimaksud anggaran pendidikan itu. Mereka campuradukkan begitu saja dengan
anggaran aparatur, atau institusi lain non kependidikan yang menelan anggaran
itu. Tetapi ingin dikesankan secara kuat angka 20 % terpenuhi, dan
dikampanyekan pula. Indonesia
perlu jujur dan belajar sungguh-sungguh tentang makna pendidikan. Itulah
kesimpulannya.
Nah sekarang tentang UAN. Apakah UAN
itu? Ujian Akhir Nasional, sebuah seremoni disakralkan. Di tengah kondisi
buruknya perlakuan terhadap guru (gajinya di bawah standar layak hingga tepat
dituduh sebagai pelanggaran HAM terbesar sejak Indonesia merdeka dan jika
dihitung secara cermat sebetulnya para pahlawan tanpa tanda jasa ini amat besar
subsidinya terhadap negara), di tengah buruknya fasilitas pendukung proses
belajar mengajar, di tengah buruknya kualitas guru, di tengah buruknya proses
belajar-mengajar, negeri ini latah selatah-latahnya melakukan UAN. Biayanya
tentu amat besar (Yakin tak ada korupsi?). Pengerahan tenaga dan pikiran untuk
itu pun sangat berlebihan. Anak-anak sekolah wajib stress jika bukan ketakutan
karena didramatisasi dengan kehadiran para polisi dan lagak-legok para pejabat
yang tinjau sana sini untuk tampil seolah peduli
pendidikan lewat media massa.
Alangkah naifnya sandiwara ini.
Di Medan Perguruan tinggi seperti
Unimed ikut latah selatah-latahnya. Mereka memantau dengan mengerahkan para
dosen ke berbagai sekolah. Sebuah harian lokal dengan jeli memberitakan bahwa
karena pantau-memantau ini rupanya dosen harus meninggalkan kewajibannya
mengajar di kelas hingga mahasiswa korban. Siapakah mereka para pemantau ini?
Malaikat barangkali, yang sudah beres betul melakukan tugasnya mendidik
anak-anak bangsa di ruang-ruang kelas mereka. Betul? Ah tidak barangkali. Tentu
harus dikatakan tidak. Sukarkah dibedakan bobroknya proses belajar mengajar di
jenjang pendidikan menengah dengan di perguruan tinggi? Itu tak sukar. Di
antara mereka para Guru Besar yang bersingga sana di Menara Gading itu pastilah
dengan
mudah membuka kaji tentang ini.
Bagaimana kalau ujian di ruang-ruang
kelas perguruan tinggi itu dihadiri polisi agar tidak ada Sandra-menyandra
nilai untuk kepentingan yang rendah, agar tidak ada “kopek-mengopek” yang
memalukan, agar benar-benar yang tak berhak lulus drop out begitu saja, dan
jika ada penyimpangan langsung saja polisi menangkap dosennya, memenjarakan
Ketua program studinya satu sel bersama Dekan dan Rektor? (Penjara akan penuh?
Hitunglah dengan jujur, kawan-kawan).
Adakah seorang guru, seorang Kepala
Sekolah atau seorang dosen, seorang dekan atau seorang rektor yang percaya
putra atau putrinya yang duduk di SMA akan lolos ke perguruan tinggi favorit
jika hanya menerima pelajaran dari sekolah tempat ia belajar selama 3 tahun?
Sebuah seminar yang pesertanya para guru di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan
Sumatera Utara beberapa tahun lalu, kepada saya mengaku terus terang: “itu
tidak mungkin, bapa”. Mereka, para guru miskin itu, yang karena kemiskinannya
itu sering harus “menggalas” dengan memberi pelajaran di 2 atau 3 sekolah,
harus mengeluarkan biaya besar untuk bimbingan
belajar di luar jam sekolah. Wajib itu, wajib. Guru sendiri tak yakin
pekerjaannya.
Dan itulah yang akan di-UAN-kan itu.
Sekali lagi, apa yang akan
di-UAN-kan? Tahun lalu begitu menyedihkan ketika seorang guru (Kepala
Sekolahkah?) di Lubuk Pakam berurusan dengan kepolisian karena tertangkap
tangan memberi bantuan kepada siswanya agar dapat melewati UAN yang menakutkan
itu. Jujur sekali dia berfikir bahwa memang perlu standar kelulusan dan juga
perlu informasi tentang tingkat kebodohan atau tingkat kepintaran yang
dihasilkan oleh interaksi belajar-mengajar dengan syllabus dan kurikulum serta
proses yang berlangsung di lembaga persekolahan itu. Tetapi mungkin ia pun tahu
dengan bijak bahwa tak ada yang memperbolehkan siswa lulusan terpintar untuk
langsung saja tak usah ditest masuk kerja di lembaga pemerintahan, apalagi di
sektor
swasta (hanya yang ingin jadi anggota legislatif dan Presiden dan jajarannyalah
yang tak memerlukan test semacam itu, cukup dengan neko-neko politik semacam
pemilu penuh gangguan kejujuran dan keadilan serta kemartabatan).
Kemaren di beberapa harian local
muncul dua aroma pemberitaan tentang UAN. Gubenur Syamsul Arifin memberi
jaminan tidak ada kebocoran, sementara dari tempat lain ada nada pemberitaan
yang bertentangan. UAN, oh UAN.
Seorang anggota jaringan ‘nBASIS
dari Panyabungan tadi malam bersms (dan sms itulah yang menjadi pemicu tulisan
in). “Mengapa ‘nBASIS tidak ikut memantau UAN?”, begitu bunyinya. Jawaban saya:
“pekerjaan naïf penuh sandiwara biarkan dilakon saja oleh mereka yang suka
sandiwara”.
Wahai
Indonesia, fahamilah prioritasmu. Dengan kondisi seperti ini tak ada Negara dan
bangsa lain di belahan bumi lain yang akan mengakui kehebatanmu betapapun kau
katakan
siswamu lulus dengan mengagumkan atau para sarjanamu lulus dengan cumlaude
semua. Wahai Indonesia, tak usah gantungkan dasi di lehermu jika celana dan
bajumu belum mampu kau jahit. Merdekalah Indonesia dengan sebenar-benarnya
merdeka.
Penulis:
Koordinator Umum ‘nBASIS, dosen Sosiologi politik UMSU, Medan.
New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
[Non-text portions of this message have been removed]