http://www.republika.co.id/berita/45621/Pemetaan_Menentukan_Kiblat_di_Era_Kejayaan_Islam
Pemetaan, Menentukan Kiblat di Era Kejayaan Islam
Para ilmuwan Muslim di era keemasan peradaban Islam telah mengembangkan metode
pemetaan. Dengan menguasai pemetaan, para astronom mampu menentukan posisi
lintang dan bujur tempat-tempat di permukaan bumi. Hasilnya bisa digunakan
untuk beragam kepentingan. Salah satunya untuk menghitung hasil pengamatan
posisi benda-benda yang ada di langit.
Menurut Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam karyanya bertajuk Islamic
Technology: An Illustrated History mengungkapkan, para astronom Muslim memiliki
beberapa cara untuk menemukan koordinat suatu benda di langit. Salah satunya
dengan menentukan garis meridian, yakni garis yang melintang dari arah selatan
suatu tempat kemudian ditarik hingga ke kutub utara langit dan titik zenith.
''Untuk menentukan arah meridian, cara paling sederhana yang digunakan para
astronom saat itu adalah dengan mengukur lintang bintang circumpolar, yakni
bintang yang cukup dekat dengan kutub langit sehingga selalu muncul horison,''
ungkap al-Hassan dan Hill. Pada saat yang sama, diukur pula sudut
horisontalnya terhadap sebuah titik pada garis horison.
Menurut al-Hassan, pengukuran itu dilakukan dua kali, ketika bintang berada di
timur pengamatan dan ketika berada di sebelah barat. Menurut al-Hassan dan
Hill, garis meridian diperoleh dengan membagi dua sudut horisontal. Selanjutnya
penentuan bujur dapat dilakukan dengn mudah, yakni dengan mengamati tinggi
matahari dan bintang ketika melewati meridian.
Selain itu, para astronom Muslim juga sudah mampu menentukan garis lintang.
Sayangnya, kata al-Hassan, metode yang digunakan untuk menentukan lintang itu
tak seakurat metode penentuan garis bujur. Guna menentukan lintang yang sangat
akurat, papat dia, dibutuhkan alat ukur waktu yang andal bernama Kronometer.
"Kronometer yang demikian baru ada setelah pertengahan abad ke-18 M, sehingga
para astronom Muslim harus menggunakan metode pengukuran lain yang tentu saja
tidak bergantung pada keakuratan pengukuran waktu," ungkap al-Hassan dan Hill.
Untuk menentukan lintang, para astronom Muslim di era kekhalifahan
mengembangkan dua teknik. Pertama, mereka melakukan pengamatan gerhana bulan
dari dua tempat berbeda dengan objek pengamatan atau peristiwa yang sama.
"Misalnya ketika bulan bergerak menuju bayangan Bumi dan kemudian membandingkan
hasilnya," tutur al-Hassan dan Hill. Menurut al-Hassan, perbedaan waktu
kejadian dari suatu peristiwa serupa di kedua tempat itu merupakan besar
perbedaan lintangnya. Sedangkan pada metode kedua, para astronom mengukur jarak
ke arah timur-barat suatu tempat dari tempat lain yang diketahui (atau
diasumsikan) lintangnya.
Setelah lintang dan bujur dua tempat diketahui, maka dapat ditentukan arah satu
tempat ke tempat lain. Dan besaran yang dihasilkan adalah azimuthnya, yakn
besar sudut jurusan yang diukur dari arah utara ke rah timur (searah jarum jam)
hingga garis arah kedua titik. "Salah satu aplikasi perhitungan ini, yaitu
penentuan arah Makkah dari tempat tertentu (kiblat)," kata al-Hassan dan Hill.
Penentuan arah Makkah atau kiblat ini merupakan sesuatu yang penting bagi
ilmuwan Muslim era kekhalifahan. Para ilmuwan Muslim akhirnya bisa memecahkan
penentuan arah kiblat pada abad ke-3 H/9 M sampai ke-8 H/14 M. Ini membuktikan
kecanggihan trigonometri yang digunakan para astronom Muslim serta kecanggihan
teknik perhitungan yang telah mereka capai.
"Karena azimuth suatu tempat bersifat relatif terhadap tempat lain dapat
ditentukan, secara teoritis akan mungkin untuk membuat jalan atau kanal lurus
antara dua kota," jelas al-Hassan dan Hill. Namun, imbuh al-Hassan dan Hill,
dalam praktiknya, hal itu tidak dapat direalisasikan. Pasalnya, rute-rute
ditentukan keadaan daerah dan masalah pemilikan lahan. Sementara kanal-kanal
itu harus sedekat mungkin dengan daerah pertanian yang akan dialirinya. "Oleh
karena itu, rute-rute ditentukan dengan mengingat pertimbangan-pertimbangan
praktis ini," kata al-Hassan dan Hill.
Sebelum penggalian kanal, selain menentukan rute, perlu juga diperhitungkan
pendataran tanah sepanjang rute tersebut dari awal hingga akhir. Proses
pendataran tanah itu membutuhkan garis pandang horisontal yang pada instrumen
modern diperoleh dari benang silang dalam teropong dan sifat datar."Para
surveyor Muslim menggunakan beberapa instrumen yang didasarkan pada prinsip
yang sama, meski tak satupun yang mempunyai teleskop, mereka memakai
penglihatan langsung," ungkap al-Hassan dan Hill.
Menurut al-Hassan dan Hill, salah satu instrumen yang yang digunakan adalah
segitiga logam dengan pengait logam dipatrikan di kedua ujung salah satu
sisinya. Unting-unting dengan pemberat seperti bandul di ujungnya dipasang pada
tengah-tengah sisi tadi. Dua rambu tegak yang dibagi-bagi dalam graduasi 12
sentimeter dan kemudian dibagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil ditegakkan
oleh asisten pemegang rambu dalam jarak tujuh meter.
''Seutas kawat direntangkan antara kedua bambu dan segitiga logam tadi
digantungkan dengan kedua pengaitnya di tengah-tengah kawat ini. Salah satu
ujung kawat digerakkan ke atas dan ke bawah rambu sampai tali unting-unting
tepat menunjukkan sudut bahaw segi tiga,'' papar al-Hassan.
Metode yang sama juga digunakan pada kayu sepanjang setengah meter dengan
lubang mendatar. Pada proses ini juga digunakan bandul logam yang diikatkan
pada tengah kayu. Bandul ini berfungsi sebagi garis unting-unting. Kemudian
kayu tersebut diletakkan di atas kawat, selanjutnya pendataran dilakukan
seperti cara yang telah disebutkan tadi.
Metode ketiga yang digunakan para ilmuwan Muslim untuk menetukan sifat datar
adalah dengan menggunakan bambu lurus panjang yang salah satu sisinya
dilubangi. Bambu tersebut dipegang kedua rambu tegak di masing-masing ujungnya.
Dan seorangasisten menuangkan air ke dalam bambu melalui lubang tadi. "Bambu
dianggap horizontal jika air yang keluar dari kedua ujungnya sama banyak," kata
al-Hassan an Hill.
Para ilmuwan juga mencatat beda ketinggian, dan pemegang rambu pindah ke titik
selanjutnya dalam lintasan rute. Kemudian prosedur yang sama dilakukan kembali.
Al-Hassan menambahkan, "Jika rute sudah selesai dipetakan, total (jumlah
aljabar) 'naik' dan 'turun' dari semua titik pangkalan menunjukkan perbedaan
tinggi titik awal dan titik akhir.
Menurut al-Hassan dan Hill, cara yang sama juga digunakan untuk memperoleh
kemiringan yang tepat pada penggalian kanal. Sedangkan untuk memperoleh tinggi
dan sudut objek-objek yang jauh, para surveyor Muslim menggunakan astrolab. Di
bagian belakang instrumen, pada setengah lingkaran bawahm terdapat sebuah
siku-sku atau kadang-kadang sepasang siku-siku dengan ukuran sama.
Jika astrob digantung secara bebas, alidad atau garis pembidik diatur
sedemikian rupa sehingga objek jauh yang perlu diketahui tingginya dapat
terlihat melalui pembidik. Demikianlah metode pemetaan yang diterapkan para
ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam. she
Penentuan Arah Kiblat
Ada beragam metode untuk menentukan arah kiblat. Guna mencari arah kiblat,
diperlukan perhitungan yang cermat dan sedetil mungkin, sehingga diperlukan
data yang valid untuk dijadikan bahan hitungan. Beberapa data yang diperlukan
itu antara lain; arah utara selatan dan timur barat.
Untuk menentukan titik utara selatan terdapat beberapa cara, yaitu dengan
menggunakan theodolit, tongkatistiwa (sundilan), teropong, kompas. Di antara
cara-cara tersebut di atas, yang paling mudah, murah, dan memperoleh hasil yang
teliti adalah dengan mempergunakan tongkat istiwa.
Caranya, tancapkan sebuat tongkat lurus pada sebuah pelataran datar yang
berwarna putih cerah. Panjang tongkat sekitar 30 cm dan berdiameter satu cm.
Ukurlah dengan lot dan waterpass sehingga pelataran betul-betul datar dan
tongkat betul-betul tegak lurus terhadap pelataran. Lalu, lukislah sebuah
lingkaran berjari-jari sekitar 20 cm yang berpusat pada pangkal tongkat tadi.
Kemudian, amati dengan teliti bayang-bayang tongkat beberapa jam sebelum tengah
hari sampai sesudahnya. Semula, tongkat akan mempunyai bayang-bayang panjang
menunjuk ke arah Barat. Semakin siang, bayang-bayang semakin pendek, lalu
berubah arah sejak tengah hari. Kemudian semakin lama bayang-bayang akan
semakin panjang lagi menunjuk ke arahTimur. Dalam perjalanan seperti itu, ujung
bayang-bayang tongkat akan menyentuh lingkaran sebanyak dua kali pada dua
tempat, yaitu sebelum tengah hari dan sesudahnya.
Selanjutnya kedua sentuhan itu kita beri tanda dan hubungkan antara keduanya
dengan garis lurus. Garis ini merupakan arah Barat-Timur secara tepat. Lalu
lukislah garis tegak lurus pada garis Barat-Timur tersebut, maka akan
memperoleh garis Utara-Selatan yang persis menunjuk titik Utara sejati. she/
berbagai sumber
[Non-text portions of this message have been removed]