http://www.poskota.co.id/?p=1116


Selasa, 5 Mei 2009 05:53 WIB
Kiat Dukun Lemah Syahwat



Boleh juga iman Yusron, 33, sebagai lelaki. Disodori perempuan cantik tinggal 
"menikmati", memilih menghindar dan lapor polisi. Akibatnya dukun Gus Rojali, 
50, sebagai gurunya ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengaku, muridnya sengaja 
diminta menggauli istrinya, karena dia sendiri sudah loyo! Asmara dan wanita 
sering membuat lelaki jatuh kesrimpung.



Paling anyar adalah kisah Ketua KPK Antasari Azhar, yang kini diperiksa di 
Polda Metro Jaya. Dia jadi tersangka pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen Dirut BUMN, 
kabarnya karena soal perempuan. Jika kisah itu benar, Antasari Azhar bisa 
disejajarkan dengan Ken Arok yang tega membunuh Tunggul Ametung karena urusan 
perempuan Ken Dedes. Cuma Antasari tak selihai raja Singosari, sebab Sigid Cs 
yang dijadikan "Kebo Ijo" tak bisa dibungkam.
Yusron, lelaki dari Sumenep (Madura) ini agaknya memang mau berkaca dari 
sejarah. Kegemarannya nonton ketoprak, memberinya pelajaran bahwa kaum 
perempuan disamping bisa memberi nikmat, juga bisa bikin kiamat.


Karenanya, dia tak mau hanya karena urusan selangkangan wanita, bisa terbunuh 
macam Tunggul Ametung, Ken Arok, Tohjaya atau Kebo Ijo itu sendiri, lewat keris 
Empu Gandring. "Enaknya hanya satu menit, penderitaannya amit-amit..," begitu 
kilahnya.


Adalah dukun Gus Rojali yang hampir saja menjerumuskan Yusron ke lembah 
kenikmatan tapi penuh penderitaan itu. Ceritanya diawali ketika si dukun sudah 
tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan biologis istrinya, Asmonah, 40. Di samping 
usianya mulai menua, sebagai dukun kebatinan dia memang tidak maju lagi dalam 
urusan begituan. Bagi Rojali sekarang, soal manunggaling kawula gusti 
(menyatunya Tuhan dan umat) lebih berguna dari pada manunggaling priya wanita 
(bersatunya laki perempuan).


Namun Asmonah tak mau mengerti, dia terus saja menuntut yang jadi haknya. Sebab 
sebagai suami, kewajiban Gus Rojali tak hanya ngayani (memberi nafkah), tapi 
juga harus ngayeli (menyetubuhi) sebagai pemenuhan biologis. Karena istrinya 
terus merengek, sebetulnya dia sudah mencoba, tetapi selalu gagal dan gagal. 
"Saya tak mau seperti Megawati - Wiranto, sudah pernah gagal nyapres masih 
mencoba lagi," kata Rojali yang suka baca koran itu. Gelisah dan galau selalu 
menyertai perasaannya, sehingga dia sampai pada idenya yang "brilliant".  
Kebetulan dia memiliki seorang murid perdukunan yang cukup memenuhi 
kriterianya. Kriteria Rojali memang beda dengan kriteria Cikeas. Di sini yang 
dibutuhkan bukan kredibilitas dan elektabelitas, tapi yang penting trengginas 
(lincah) dalam urusan ranjang. Dan Yusron sepertinya sangat memenuhi, karena 
bodinya memang perkasa, berotot. Pokoknya dijamin rosa-rosa macam Mbah Marijan 
dari Merapi.

Alasan yang cantik segera dibuat oleh Rojali. Untuk meningkatkan ilmu kebatinan 
yang sedang dituntut, Yosron anak muda dari Desa Banasare, Kecamatan Rubaru, 
Kabupaten Sumenep diharuskan menjalankan ritual telanjang bulat di kamar 
prakteknya. Tapi ternyata, ketika Yosron sudah dalam kondisi gidal-gidul 
(bugil), tahu-tahu si Asmonah istri Gus Rojali masuk dalam kondisi bugil pula. 
Tentu saja murid "bloon" ini belingsatan. "Sebelum mendalami ilmu kebatinan, 
tolong "dalami" dulu istriku," kata Gus Rojali serius.


Namun iman Yusron memang lebih kuat dari "si imin". Takut soal wanita bisa jadi 
masalah di kemudian hari, dia mendingan kabur. Dengan masih kondisi telanjang 
dia loncat jendela dan minta pertolongan warga. Setelah mendapat pinjaman baju 
dan celana Yusron segera melapor ke Polsek Lenteng, dan dukun dari Desa Ellak 
Daya ini jadi urusan polisi.

Saat diperiksa Rojali mengaku, dia terpaksa minta muridnya menyetubuhi 
istrinya, karena dirinya menderita lemah syahwat. (DC/Gunarso TS)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke