Jawa Pos

 

[ Jum'at, 15 Mei 2009 ] 

Dampak Penolakan Boediono sebagai Cawapres untuk SBY 


JAKARTA - Konflik antara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat 
mengenai cawapres membuat kubu lawan bergembira. Partai Golkar mengakui 
perseteruan tersebut justru menunjukkan belang capres Partai Demokrat Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY) yang sebenarnya.

''Sekarang PKS sudah merasakan sendiri bagaimana model kepemimpinan SBY itu. 
Dia (SBY, Red) kan suka memutuskan sendiri, mem-fait a compli. Ya memang 
seperti itu,'' kata Ketua DPP Partai Golkar Zainal Bintang di Jakarta kemarin 
(14/5).

Pendiri JK for President itu mengungkapkan, konflik Demokrat dan partai anggota 
koalisi yang lain, terutama PKS, menjadi berkah bagi Golkar. Sebab, konflik 
tersebut menunjukkan bahwa Demokrat telah menjadi partai yang semena-mena. 
Karena merasa menang, mereka bisa seenaknya memutuskan langkah politik tanpa 
menghormati rekan anggota koalisi lain. 

Selain itu, kata Zainal, perseteruan tersebut akan membuat kemungkinan PKS 
keluar dari koalisi Demokrat terbuka lebar. Sebab, apabila Demokrat tetap 
ngotot mengusung Boediono sebagai cawapres, PKS bisa jadi akan keluar. Presiden 
PKS Tifatul Sembiring sudah menyatakan menolak Boediono. 

Karena itu, Golkar siap menerima partai berhaluan Islam tersebut untuk 
bergabung. ''Kalau sudah tidak sreg dengan PD, kami tentu saja welcome. 
Apalagi, kami mengusung Pak JK dan Pak Wiranto yang sangat religius.'' 

Golkar langsung proaktif mendekati PKS. Bahkan, JK yang ketua umum Partai 
Golkar itu, lanjut Zainal, langsung menelepon Tifatul untuk mengajak 
berkoalisi. ''Pak JK ini kan cepat juga. Lebih cepat lebih baik kan. Jadi, 
beliau langsung kontak-kontakan dengan Pak Tifatul,''tuturnya.

Zainal mengkritik strategi partai-partai Islam yang seolah menyerah sebelum 
bertanding. Ketika Demokrat menang, mereka merapat ke partai yang mencalonkan 
kembali SBY itu. Padahal, mereka sebenarnya bisa mengusung kekuatan alternatif. 
Apalagi, partai-partai Islam dihuni aktivis-aktivis muda. ''Coba hitung saja. 
PKS, PAN, dan PKB itu, kalau bersatu, bisa mengusung calon sendiri lho,'' 
katanya.

Sementara itu, PKS kembali menggulirkan ancaman siap keluar dari koalisi 
Cikeas. Sekjen DPP PKS Anis Mata mengatakan, putusan final arah sikap PKS 
dilakukan besok (16/5). ''Untuk itu, kami sudah menyiapkan langkah alternatif 
kalau hingga hari yang ditentukan komunikasi ternyata deadlock,'' ujar Sekjen 
DPP PKS Anis Mata di gedung DPR kemarin.

Menurut Anis, PKS selaku pemilik kursi terbesar keempat pada pemilu legislatif 
siap membentuk blok baru sebagai pilihan pertama. Partai-partai menengah lain 
akan diajak bergabung ke blok itu. Skenario selanjutnya ialah melebur dalam 
koalisi di luar Demokrat yang sudah terbentuk saat ini. Opsi terdekat adalah 
bersama JK-Wiranto. ''Arus besar di internal ya dua itu,'' ungkap Anis. Dia 
juga mengatakan, elite PKS telah bertemu dengan JK beberapa hari lalu.

PKS juga merasa ditinggal saat penentuan cawapres. Proses jatuhnya pilihan SBY 
kepada Boediono dinilai tanpa ada komunikasi. ''Mbok ya, mbok ya kami ini 
diajak bicara,''keluh Ketua DPP PKS Bidang Politik Mahfudz Siddiq. 
(aga/dyn/agm) 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke