http://www.antaranews.com/view/?i=1244194320&c=ART&s=PUM

Kisah Peci dan Gaya Obama

Jumat, 5 Juni 2009 16:32 WIB 

Diah Novianti

Jakarta, (ANTARA News) - "Aku merasa sedikit tegang. Perutku terasa mulas. 
Berlindung di belakang tukang sate di jalan yang gelap, kuamati kedatangan 
kawan-kawan seperjuangan yang banyak lagak itu, yang semuanya tidak memakai 
tutup kepala karena ingin seperti orang barat yang berkulit putih.

Aku awalnya merasa ragu-ragu. Kemudian aku berdebat dengan diriku sendiri."
"Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?"

"Aku seorang pemimpin," jawabku tegas.

"Kalau begitu, buktikanlah," kataku lagi pada diriku.

"Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang 
rapat...SEKARANG!!!"

"Begitulah yang kulakukan. Setiap orang ternganga melihatku tanpa bicara. 
Agaknya lebih baik memecahkan kesunyian itu dengan berbicara, `Demi tercapainya 
cita-cita kita, para pemimpin politik tidak boleh lupa bahwa mereka berasal 
dari rakyat, bukan berada di atas rakyat`."

"Mereka masih saja menatapku. Aku lanjutkan kata-kataku, `Kita memerlukan 
sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, 
mirip yang dipakai oleh para buruh Bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat 
kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini 
sebagai lambang Indonesia Merdeka`."

Itu adalah nukilan kisah Bung Karno dalam biografinya "Penyambung Lidah Rakyat 
Indonesia" yang ditulis Cindy Adams. Ternyata, pemimpin besar yang mampu 
menyatukan Indonesia dan membawa kemerdekaan ke bumi pertiwi itu merasakan 
mulas dan harus menguatkan hati karena persoalan peci.

Peristiwa pengenalan peci yang kemudian menjadi ciri khas penampilan Bung Karno 
itu terjadi pada Juni 1921, ketika ia baru tiba di Bandung dari Surabaya untuk 
berkuliah. Ketika itu, ia menghadiri rapat Jong Java yang menyebut diri sebagai 
kaum intelegensia namun membenci memakai blangkon, sarung, dan peci karena 
dianggap sebagai cara berpakaian kaum lebih rendah.

"Mereka seharusnya belajar, bahwa seseorang tidak akan dapat memimpin massa 
rakyat jika tidak masuk ke dalam lingkungan mereka. Karena tidak seorang pun di 
kalangan kaum intelektual melakukan hal demikian, aku memutuskan sendiri untuk 
menjadikan diriku bagian dari rakyat jelata. Pada rapat berikutnya, aku 
memutuskan memakai peci."

Itulah alasan Bung Karno memberanikan diri memakai peci sampai harus merasakan 
mulas perut. Bung Karno memang terbukti seorang tokoh besar, karena pengaruhnya 
sampai hal seperti peci pun masih bertahan hingga kini.

Foto-foto calon presiden maupun calon wakil presiden laki-laki yang sekarang 
tersebar di ruang publik pada masa kampanye Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 
2009 tidak ada yang bertelanjang kepala. Semua menebar senyum dengan mengenakan 
peci hitam.

Pada masa kini, mereka tentu tidak perlu mengalami mulas perut atau perdebatan 
dengan diri sendiri karena urusan peci. Cukup Bung Karno yang mengalaminya. 
Pada masa kini, para calon pemimpin itu tinggal mengenakan simbol yang telah 
diperkenalkan oleh Bung Karno dan publik diharapkan dapat mengerti.

Perbedaannya, Bung Karno masih amat muda dan belum terbayang menjadi presiden 
ketika pada 1921 memutuskan mengenakan peci. Ia baru berusia 20 tahun ketika 
memutuskan menjadi rakyat jelata dengan berpeci dan memang benar-benar hidup 
seperti rakyat jelata untuk memperjuangkan kemerdekaan sehingga ketika baru 
terpilih sebagai presiden pertama ia merayakannya dengan memakan sate di 
pinggir jalan di sebelah got dan tempat sampah, tanpa tukang sate tahu bahwa ia 
melayani seorang presiden.

Rentang waktu berpuluh tahun antara peci sebagai kepribadian dan peci sebagai 
simbol menemukan ruang eksploitasi makna ketika pada masa kampanye Pemilu 
Presiden 2009, para calon pemimpin berpeci berebut klaim mampu berpikir seperti 
rakyat jelata dan mampu berjuang demi mereka.

Dengan kepala berpeci hitam dan kemeja biru melambangkan warna Partai Demokrat, 
Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Kamis malam 4 Juni 2009 memberikan 
pidato politik perdana mengawali masa kampanye di Hall D Arena Pekan Raya 
Jakarta, Kemayoran.

Pidato politik selama 40 menit bertajuk "Membangun Pemerintahan yang Bersih 
Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat" itu dibawakan di atas panggung 
melingkar beralas karpet biru dan berhias kain merah putih di tengah ruang.

Pengaturan ruang persis meminjam gaya Barrack Obama ketika berkampanye pada 
akhir 2008 untuk merebut kursi presiden Amerika Serikat ke-44. Selama masa 
kampanye hingga terpilih presiden, Obama adalah tokoh berkulit hitam terpopuler 
dibicarakan dunia karena gaya pidatonya yang simpatik dan meyakinkan, dengan 
slogan-slogan politik, "Change, We Believe", dan "Yes, We Can."

Kemenangan Obama diyakini para pengamat politik sebagai ekspresi mayoritas 
warga AS yang jenuh dengan politik perang era mantan Presiden George W Bush 
serta kebijakan ekonomi longgar minim regulasi yang berbuah krisis finansial.

Di atas panggung gaya Obama, Yudhoyono lancar berpidato dipandu dua prompter di 
kanan-kiri podium bertuliskan "SBY Presidenku" untuk meyakinkan pendengarnya 
bahwa pemerintahan yang ia pimpin selama hampir lima tahun telah bekerjakeras 
dan akan meningkatkan hasilnya jika ia terpilih lagi sebagai presiden selama 
lima tahun mendatang.

Pidato Yudhoyono seringkali disambut riuh tepuk tangan dan gaduh teriakan 
"lanjutkan" dari sekitar seribu penonton yang duduk melingkari panggung, 
sehingga pria kelahiran Pacitan, Jawa Timur, itu harus sering menghentikan 
pidatonya dan bahkan harus berkata "Diam dulu", kepada para penonton.

Para pendengar pidato itu juga semangat mengacung-acungkan karton segi empat 
bertuliskan "SBY-Boediono", "Lanjutkan", dan "I Love SBY", berukuran cukup 
besar yang juga dicetak persis sama dengan gaya kampanye Obama.

Pada era modern, sejarah bisa diperlakukan sebagai sesuatu yang dihadirkan 
kembali pada masa kini dengan mengambil kepingan-kepingan dari masa lalu, entah 
itu berupa gaya atau bentuk, seperti yang terjadi pada peci dan gaya Obama.

Pemikir sosial yang mengupas masalah post modern, David Harvey, dalam karyanya 
"Time-Space Compression" menyebutnya sebagai diskontinuitas historis. Usaha 
memilih kepingan-kepingan dan merangkainya menjadi satu rangkaian campuran itu 
sering disebut sebagai bentuk eklektisisme, yaitu mengambil yang terbaik dari 
semua sistem.

Menurut Harvey, penilaian dasar estetika yang kemudian hadir adalah spektakuler 
dan fantastis yang dapat menimbulkan kebahagiaan fisik dan mental yang 
justrumengandung efek orgasmik.

Namun, keterputusan historis itu juga menandakan pencarian dengan cara serba 
cepat atau instan yang membawa resiko kehilangan kedalaman, persis seperti 
tayangan televisi yang menyiarkan beragam gambar dari pelosok dunia tanpa henti 
dan mencabut para penontonnya dari kondisi sebenarnya untuk berkelana di 
awang-awang.

Menurut Harvey, kenyataan dalam citra elektronik seperti itu pada dasarnya 
memberikan kesempatan "mengalami" sesuatu tanpa harus secara langsung 
mengalaminya.

Pengalaman menyimak pidato Yudhoyono tentu nyata karena suara tegasnya jelas 
terdengar di telinga. Tapi Obama dan peci sepertinya hanya bisa bertemu di alam 
awang-awang.(*)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke