http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/14/opini/1499211.htm
 Jumat, 14 Januari 2005

Tuhan Pasca-Tsunami
Oleh Novriantoni

Sudah bisa diduga, dalam bencana besar seperti gempa pemboyong tsunami yang 
menewaskan tak kurang dari 100.000 orang Aceh ini, akan banyak sekali orang 
yang tidak puas dengan sekadar penjelasan ilmiah. Keterangan para ahli gempa 
dan tsunami soal lempengan-lempengan bumi yang bergeser setiap tahun, lantas 
bergetar, menelan dan lalu memuntahkan air yang sedemikian dahsyat tidak 
dianggap memadai untuk memuaskan dahaga keingintahuan mereka.
Makanya, selalu ada banyak orang yang terobsesi untuk tahu lebih dalam 
tentang penyebab terjauh dari semua itu dengan melontarkan pelbagai ultimate 
questions. Kalau sudah berpikir soal penyebab terjauh, perbincangan tentulah 
sudah masuk ke ranah filsafat atau teologi. Lantas muncullah pertanyaan: 
sejauh apa peran Tuhan di dalam "menghajar" sedemikian banyak korban itu? 
Pada titik inilah spekulasi-spekulasi teologis berlangsung dengan begitu 
liarnya.
Dan, benar saja. Menurut teman tadi, di masyarakat kita, kini ada beberapa 
spekulasi teologis yang semarak bermunculan pascagempa dan tsunami yang 
mengentakkan nurani dunia itu. Pertama, bagi "kiai-kiai Orba" yang punya 
corong untuk berkhotbah di masjid-masjid itu, bencana sebesar ini tak lain 
adalah hukuman Tuhan atas kealpaan dan kesombongan kita selama ini. Lebih 
spesifik, mereka bahkan menyebut bencana ini sebagai akibat atau buah dari 
pertikaian antara pelbagai elemen anak bangsa di Serambi Mekkah yang tidak 
kunjung usai.
Dengan elaborasi yang cenderung menyederhanakan, mereka menyayangkan TNI dan 
GAM yang saling bunuh. Sementara itu, rakyat Aceh juga tak kunjung taat 
terhadap Ibu Pertiwi, NKRI. Demikianlah tafsiran teologis yang sepenuhnya 
spekulatif dan kental aroma pemikiran ala Orba itu menggema di sebagian 
masjid.
Kedua, berbeda dengan logika hukuman tadi, tafsiran kedua justru beranggapan 
bahwa tragedi ini justru bersifat ujian, bukan hukuman. Di beberapa tempat, 
kita dapat menemukan selebaran yang mengatakan antara lain, bencana Aceh 
merupakan "ujian" Tuhan untuk mengukur keteguhan dan konsistensi rakyat Aceh 
dalam menjalankan syariat Islam. Hm..
Sekarang, ketika kita sedang bergulat dengan proses evakuasi dan 
rehabilitasi Aceh, muncul pula isu-isu yang menguatkan kesan bahwa Tuhan 
sedang menguji konsistensi dan keteguhan rakyat Aceh dalam menjalankan 
syariat Islam dan menjaga status Aceh sebagai Serambi Mekkah. Isu 
pemurtadan, kristenisasi, dan adopsi diembuskan sebagian pihak yang mungkin 
sedang menangguk di air keruh. Tak heran, dalam sebuah pertemuan dengan 
ribuan alumni Pondok Modern Gontor di Jakarta Convention Center, Jumat (7/1) 
lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun merasa perlu menanggapi isu-isu 
yang tidak bertanggung jawab itu. Secara reaktif beliau lantas menegaskan, 
"Pemerintah akan sekuat tenaga menjaga status Aceh sebagai Serambi Mekkah!"
DEMI mencermati diskursus tentang Tuhan dan prasangka tentang 
keterlibatan-Nya dalam bencana terakhir ini, Jaringan Islam Liberal 
berinisiatif melangsungkan diskusi soal "Tuhan Pacsa-Tsunami" yang bertempat 
di Freedom Institute, Selasa (11/1) lalu. Diskusi yang bertepatan dengan 
hari milad Ulil Abshar-Abdalla itu beranjak dan bertolak dari keprihatinan 
yang mendalam akan rumusan "teologi bencana alam" yang berkembang dan 
populer di tengah masyarakat dewasa ini.
Baik Goenawan Mohamad maupun Syamsurizal Pangabean yang bertindak sebagai 
pembicara dalam diskusi itu sama- sama prihatin akan rumusan teologis yang 
tidak sungkan- sungkan mengekspos "intervensi" Tuhan yang berlebihan dalam 
kiamat kecil itu. Kecenderungan seperti itu gampang sekali kita simak dari 
khotbah-khotbah Jumat, pengajian di majelis taklim maupun majelis zikir, 
atau ceramah keagamaan di sejumlah televisi.
Intinya, telah muncul rumusan teologi tentang bencana alam (tidak murni 
buatan manusia seperti tragedi Poso dan Maluku) yang pada akhirnya tetap 
terjebak di dalam dua perangkap teologis yang mengharukan: entah 
mengambinghitamkan korban bencana sendiri ataupun menyalahkan Tuhan yang 
dianggap sebagai pihak yang tak pandang ampun dan tak kenal belas kasihan 
menghajar hamba-hamba-Nya. Kedua kecenderungan itu rupanya juga bagian dari 
pandangan teologi masyarakat kita yang cenderung fatalistik.
Ketika rumusan teologis yang dikemukakan mengasumsi bahwa bencana Aceh 
adalah refleksi dari kemurkaan Tuhan, di situ secara eksplisit sudah 
terkandung nada-nada yang menyudutkan dan menyalahkan rakyat Aceh yang kini 
menjadi korban (blaming the victims). Sebaliknya, ketika bencana ini 
dianggap sebagai "ujian" Tuhan untuk umat manusia yang Dia cintai, 
sebagaimana yang dikatakan sejumlah kutipan kitab suci (perhatikan betapa 
beratnya ujian itu!), secara implisit kita juga sedang terlibat dalam proses 
menyalahkan Tuhan (blaming God). Kedua kecenderungan tadi tentu bukanlah 
rumusan teologis yang bisa dianggap elegan dan ideal tentang bencana alam.
Untuk itulah, kita diajak membuat rumusan teologis yang tidak gegabah dan 
potensial menambah luka dan duka rakyat Aceh sekaligus berpandangan elegan 
dan fair terhadap Tuhan sendiri. Itulah rumusan teologis yang sekarang 
sedang kita cari dan kita kehendaki.
Hanya saja, persoalannya tidaklah segampang yang kita kira. Sebagaimana 
dikemukakan Ulil Abshar-Abdalla dalam diskusi itu, godaan bagi agama 
(diwakili oleh pemuka agama ataupun juru khotbah tadi) ataupun ilmu 
pengetahuan untuk menjelaskan sejumlah misteri yang terkandung di dalam 
dunia ini teramat besar. Makanya, sejumlah misteri dan absurditas yang 
terkandung di dalam pelbagai peristiwa di dunia ini keduanya coba 
diterangkan baik oleh agama maupun ilmu pengetahuan.
Secara psikologis, manusia tidak pernah betah menjalankan hidup dengan 
menyisakan sejumlah misteri karena misteri adalah kegelapan. Dan, kegelapan 
pada hakikatnya adalah situasi yang cenderung dibenci. Untuk itu, kegelapan 
itu coba diterobos dan diterangi, baik dengan penjelasan ilmu pengetahuan 
maupun penjelasan agama atau teologi.
Tetapi, sudah nyata bahwa penjelasan ilmu pengetahuan dan penjelasan agama 
memang berbeda. Kita bisa memahami sebuah misteri secara lebih pasti dan 
dapat memverifikasinya secara ilmiah dengan perangkat dan metode yang 
disediakan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, penjelasan agama tak jarang justru 
menjelma menjadi deretan spekulasi yang tiada henti. Dan, naifnya, kita 
tidak pernah kunjung bisa memverifikasi sisi kebenarannya kecuali meyakini 
saja. Kita sesungguhnya tidak pernah bisa menanyakan kebenaran "versi Tuhan" 
akan bencana Aceh, apalagi mendialogkannya secara langsung.
Karenanya, para sosiolog cenderung mengatakan bahwa "kebenaran agama" tidak 
pernah bisa dibuktikan dan bersifat prapengalaman. Walaupun sedang 
berspekulasi secara liar, dia selalu saja diimani sebagai kebenaran yang 
hakiki, sekalipun belum dibuktikan. Di sinilah problematisnya spekulasi- 
spekulasi tentang Tuhan dalam tsunami kemarin.
TIDAK seorang pun yang bisa membuktikan kalau Tuhan ikut aktif 
mengintervensi peristiwa tsunami yang kemarin menghantam kita. Siapa yang 
tahu pasti kalau hal tersebut ditujukan untuk memberi "pelajaran" kepada 
rakyat Aceh yang ironisnya justru taat beragama? Makanya, sembari melakukan 
proses evakuasi dan rehabilitasi Aceh, kita juga dipanggil untuk mencari 
rumusan teologi bencana alam yang lebih mengena. Sembari itu, ada baiknya 
kita juga tidak terlalu lancang dan sok mengerti soal apa sebenarnya yang 
dimaui Tuhan dari bencana ini.
Klaim atau perasaan bahwa kita tahu tentang apa yang dimaui Tuhan dalam 
bencana kali ini, sekalipun bersandar pada argumen dan landasan firman-Nya, 
sesungguhnya merupakan bentuk kesombongan yang tiada tara.
Novriantoni Alumnus Universitas al-Azhar Mesir, Aktivis Jaringan Islam 
Liberal
Search :







Berita Lainnya :
�TAJUK RENCANA
�REDAKSI YTH
�Jangan Tunda Pencabutan Subsidi BBM
�Beban Mahmoud Abbas
�Tuhan Pasca-Tsunami
�POJOK









 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke