http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005012823140847

 
Sabtu, 29 Januari 2005

100 HARI SBY-KALLA

Dalam Kepungan Neoliberalisme

Oleh: Revrisond Baswir; Pemerhati ekonomi-politik UGM

PADA masa kampanye pemilihan presiden lalu, saya menulis sebuah artikel 
mengenai beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dalam memilih 
presiden. Salah satu hal yang saya tekankan adalah mengenai arti penting 
susunan anggota kabinet.

Hemat saya, visi dan misi seorang calon presiden tidak dapat hanya disimak 
berdasarkan janji-janji yang mereka kemukakan selama masa kampanye. Tidak kalah 
pentingnya dari janji-janji kampanye para calon presiden adalah corak figur 
yang akan membantu mereka dalam menjalankan roda pemerintah.

Setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) muncul sebagai 
presiden dan wakil presiden terpilih, tetapi susunan anggota kabinet belum 
diumumkan, saya kembali menulis sebuah artikel yang mengungkapkan kecemasan 
saya terhadap prospek kebijakan ekonomi pemerintahan SBY-JK. Kecemasan saya itu 
terutama dipicu oleh mencuatnya beberapa nama calon anggota tim ekuin (ekonomi 
keuangan dan industri), yang dalam pandangan saya, memiliki cara berpikir 
ekonomi sangat berbeda dari visi dan misi ekonomi SBY.

Sebagaimana diketahui, visi dan misi ekonomi SBY, yang saya sebut sebagai 
Esbeyenomics, memiliki corak yang sangat berbeda daripada corak pemikiran 
ekonomi arus utama yang banyak dianut oleh para ekonom dan para pengusaha di 
Indonesia. Sebagaimana tertuang secara akademis dalam disertasi yang 
dipertahankannya di Institut Pertanian Bogor (IPB), Esbeyenomics dalam garis 
besarnya memiliki tiga ciri.

Pertama, Esbeyenomics menaruh perhatian yang sangat besar terhadap upaya 
penanggulangan kemiskinan dan pengangguran. Hal ini tidak hanya penting, karena 
sangat kronisnya masalah kemiskinan dan pengangguran yang melanda Indonesia, 
tetapi terutama karena kedua hal tersebut langsung berkaitan dengan pemenuhan 
hak asasi ekonomi warga negara.

Kedua, dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, Esbeyenomics 
dengan sadar meletakkan prioritas pembangunan di sektor pertanian dan 
perdesaan. Hal itu tidak dilakukan semata-mata karena terkonsentrasinya kaum 
miskin dan pencari kerja di sektor pertanian dan perdesaan, tetapi sekaligus 
sebagai upaya untuk memindahkan sumbu perputaran roda ekonomi nasional dari 
pasar internasional ke pasar domestik.

Sebab itu, ketiga, dalam pandangan Esbeyenomics, tindakan utama yang harus 
dilakukan oleh pemerintah dalam mempercepat penanggulangan kemiskinan dan 
pengangguran bukanlah meningkatkan pembuatan utang luar negeri baru atau 
memuliakan masuknya investasi asing, melainkan meningkatkan alokasi anggaran 
negara untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan di sektor pertanian dan 
perdesaan.

Kerangka berpikir Esbeyenomics yang lebih berorientasi pada sektor pertanian 
dan perdesaan, kemandirian ekonomi melalui penguatan pasar domestik, dan 
peningkatan peranan negara tersebut jelas sangat bertolak belakang dengan 
kerangka berpikir ekonomi neoliberal yang dianut oleh kebanyakan ekonom dan 
pengusaha di Indonesia.

Sebagaimana terungkap secara rinci dalam agenda Konsensus Washington yang 
disusun oleh IMF, Bank Dunia, dan Departemen Keuangan Amerika, agenda utama 
ekonomi neoliberal dalam garis besarnya meliputi empat agenda berikut: 
pelaksanaan kebijakan uang ketat dan penghapusan subsidi, liberalisasi sektor 
keuangan, liberalisasi sektor perdagangan, dan pelaksanaan privatisasi Badan 
Usaha Milik Negara (BUMN).

Tetapi, menjelang dini hari 20 Oktober 2004, setelah mendapat kecaman dari 
sejumlah mahasiswa dan mengalami penundaan selama hampir empat jam, ternyata 
justru kecemasan saya itulah yang benar-benar menjadi kenyataan.

Sebagaimana diketahui, tim ekuin Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) tidak hanya 
dipimpin oleh mantan Ketua Kadin Aburizal Bakrie, tetapi diperkuat oleh 
sejumlah nama yang tidak perlu diragukan lagi kegandrungannya terhadap ekonomi 
pasar. Mereka adalah mantan Direktur Bank Pembangunan Asia (ADB) Jusuf Anwar 
sebagai Menteri Keuangan, mantan Menteri ESDM Kabinet Gotong Royong (KGR) 
Purnomo Yusgiantoro pada posisi yang sama, peneliti CSIS Mari Pangestu sebagai 
Menteri Perdagangan, Preskom PT PLN Andung Nitimihardja sebagai Menteri 
Perindustrian, mantan Direktur IMF Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Negara 
Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas.

Menyimak deretan nama tersebut, arah kebijakan ekonomi KIB sebenarnya sudah 
dapat diduga. Artinya, dengan munculnya nama-nama yang sangat probisnis dan 
propasar itu, lebih-lebih dengan munculnya dua nama mantan direktur pada 
lembaga keuangan multilateral, berlanjutnya pelaksanaan agenda ekonomi 
neoliberal dalam penyelenggaraan ekonomi Indonesia menjadi sulit dihindarkan.

Dan, saya kira, memang demikianlah yang berlangsung dalam 100 hari pertama 
pemerintahan SBY-JK. Ibaratnya, 100 hari pertama pemerintahan SBY-JK tidak 
hanya mempertontonkan terjadinya pertarungan ekonomi-politik yang cukup seru 
dalam memperebutkan tim ekuin. Pada saat yang sama ia juga mengungkapkan 
tenggelamnya Esbeyenomics dalam kepungan neoliberalisme.

'The show must go on'

Sehubungan dengan itu, saya setidak-tidaknya mencatat lima hal penting yang 
dapat diajukan sebagai bukti betapa sangat tingginya komitmen tim ekuin KIB 
untuk melanjutkan pelaksanaan agenda ekonomi neoliberal di Indonesia.

Pertama, adanya komitmen tim ekuin KIB untuk bekerja sesuai white paper dan 
APBN 2005. white paper dan APBN 2005 adalah dua dokumen ekonomi-politik yang 
disusun oleh pemerintah dan parlemen era pemerintahan Megawati. Dengan 
demikian, tidak berlebihan bila segera muncul kesan bahwa tim ekuin KIB 
sesungguhnya tidak lebih dari tim ekuin Kabinet Gotong Royong (KGR) II.

Sesuai dengan perhitungan yang terdapat dalam APBN 2005, mudah dimengerti bila 
agenda pertama yang dijual oleh tim ekuin KIB adalah rencana kenaikan harga 
BBM. Hebatnya, yang turut berteriak mengenai rencana kenaikan sebesar rata-rata 
40 persen itu tidak hanya Menkeu atau Menko Perekonomian. Pengumuman rencana 
kenaikan harga BBM justru dikemukakan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kedua, adanya 'kesepakatan bersama' antara Menteri Perdagangan (Mendag) dan 
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) untuk memasukkan pendidikan sebagai 
bagian dari sektor jasa yang akan diliberalkan dalam rangka General Agreement 
on Tariffs and Services (GATS). Padahal, jauh sebelum pembentukan KIB, 
kebijakan yang dimotori oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) itu telah 
ditolak Forum Rektor.

Belakangan, walaupun Mendag dan Mendiknas tampak mencoba mengakomodasi aspirasi 
Forum Rektor, yaitu dengan membatasi liberalisasi pendidikan pada pendidikan 
kejuruan, namun keduanya tetap memperlihatkan kecenderungan yang kuat ke arah 
liberalisasi menyeluruh sektor pendidikan di Indonesia. Sebagaimana dikemukakan 
oleh Mendag Mari Elka Pangestu, "Rencananya pemerintah hendak membukanya, tapi, 
saat ini belum bisa karena ada penolakan dari Forum Rektor."

Ketiga, adanya resistensi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo 
Yusgiantoro terhadap pembatalan Undang-undang (UU) Kelistrikan No 20/2002 yang 
dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Sebagaimana diketahui, dalam rangka 
judicial review UU Kelistrikan yang diajukan oleh Serikat Pekerja PT PLN, MK 
memutuskan bahwa UU tersebut terbukti secara syah bertentangan dengan UUD 1945. 
Sebab itu, sebelum tersusunnya UU Kelistrikan yang baru, pemerintah wajib 
mengelola sektor kelistrikan sesuai dengan UU No 15/1985.

Tetapi tim ekuin Kabinet Indonesia bersatu cenderung berpandangan lain. 
Pembatalan UU Kelistrikan No 20/2002 itu justru cenderung dipandang sebagai 
malapetaka. Sebab itu, dalam rangka penyelenggaraan pertemuan puncak 
infrastruktur, 17-18 Januari 2005, Menteri ESDM segera mengumumkan 
diterbitkannya Perppu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang) No 
15/1985, yang cenderung melanjutkan pelaksanaan agenda-agenda yang tercantum 
dalam UU Kelistrikan No 20/2002.

Keempat, adanya kecenderungan tim ekuin KIB untuk melaksanakan pembangunan 
ekonomi nasional sesuai dengan teori tetesan ke bawah. Sebagaimana terungkap 
secara terinci dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang disusun 
Bappenas, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam periode 2005-2009 diproyeksikan 
akan mencapai rata-rata 6,6% per tahun.

Untuk mencapai laju pertumbuhan yang cukup ambisius tersebut, KIB berencana 
meningkatkan peranan investasi swasta, domestik dan asing, dari sekitar 
Rp2.123,6 triliun untuk periode 2000 - 2004 menjadi sekitar Rp3.684,2 triliun 
untuk periode 2005 - 2009.

Khusus mengenai peranan negara, RPJM memproyeksikan bahwa defisit APBN akan 
terus berlanjut hingga 2007. Artinya, jika UU Program Pembangunan Nasional 
(Propenas) 2000-2004 merencanakan akan mencapai anggaran berimbang pada 2004, 
maka RPJM menundanya menjadi 2008. Hal yang terakhir ini jelas merupakan 
indikasi akan berlanjutnya pelaksanaan agenda ekonomi neoliberal seperti 
penghapusan subsidi, divestasi perbankan, dan privatisasi BUMN, 
setidak-tidaknya hingga akhir 2007.

Kelima, terungkapnya resistensi terbuka Menkeu dan Menteri PPN/Ketua Bappenas 
terhadap tawaran moratorium dan penghapusan sebagian utang luar negeri yang 
dikemukakan oleh negara-negara anggota Paris Club.

Sebagaimana diketahui, menyusul terjadinya bencana tsunami di Aceh dan sebagian 
Sumatra Utara, dimotori oleh Jerman dan Prancis, negara-negara anggota Paris 
Club mengambil inisiatif menawarkan moratorium dan penghapusan utang kepada 
Indonesia.

Alih-alih menyongsong inisiatif tersebut dengan menyusun proposal dan tim lobi 
yang handal, Menkeu dan Menneg PPN/Ketua Bappenas justru sibuk mengemukakan 
berbagai argumentasi mengenai bahaya moratorium bagi perkembangan ekonomi 
Indonesia.

Setidak-tidaknya terdapat tiga alasan utama yang mereka kemukakan untuk menolak 
tawaran bersejarah tersebut. Pertama, mereka yakin moratorium akan memaksa 
Indonesia untuk kembali berada di bawah pengawasan IMF. Kedua, mereka yakin 
bahwa moratorium akan ditolak oleh Jepang. Dan, ketiga, mereka juga yakin bahwa 
pelaksanaan moratorium akan berdampak pada turunnya rating utang Indonesia.

Satu persatu argumentasi mereka itu dibantah oleh IMF, Jepang, dan lembaga 
rating internasional seperti Moody's dan Standard and Poor. Meski begitu, tanpa 
alasan yang jelas, keduanya cenderung bertahan. Akibatnya, meskipun 
diproyeksikan mendapat hibah sebesar US$1,6 miliar dari negara-negara yang 
tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI), tim ekuin KIB nekat 
membuat tambahan utang luar negeri baru (pinjaman proyek untuk rekonstruksi 
Aceh) sebesar US$0,7 miliar.

Tantangan ke depan

Menyimak kelima catatan tersebut, dapat disaksikan betapa sangat kuatnya watak 
neoliberal yang mewarnai tim ekuin KIB. Dibandingkan dengan tim ekuin KGR I, 
kecuali pada Kementerian BUMN, watak neoliberal KGR II justru tampak lebih kuat.

Dengan kecenderungan seperti itu, kecuali terjadi perombakan susunan anggota 
kabinet, dapat disaksikan betapa sangat sempitnya peluang penerapan ekonomi 
kerakyatan ala Esbeyenomics dalam lima tahun ke depan. Lebih-lebih dengan 
bertahannya Post Program Monitoring IMF dan tersusunnya RPJM 2005-2009.

Bahkan, dengan bertambahnya pembuatan utang luar negeri baru dalam rangka 
rekonstruksi Aceh, yang oleh Menteri PPN/Ketua Bappenas diproyeksikan akan 
mencapai US$4,5 miliar, transformasi perekonomian Indonesia menuju ekonomi 
pasar neoliberal akan semakin sulit dicegah.

Dengan menyatakan itu, tentu bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa 
perlawanan terhadap neoliberalisme akan berakhir begitu saja. Sebagaimana telah 
berlangsung lima tahun belakangan, penguatan pelaksanaan agenda ekonomi 
neoliberal dapat dipastikan akan diikuti oleh menguatnya perlawanan terhadap 
tindakan tersebut.

Dengan demikian, secara keseluruhan, perjalanan ekonomi Indonesia dalam lima 
tahun ke depan akan tetap diwarnai oleh terjadinya pertentangan sengit antara 
pemerintah yang tetap melaju dengan agenda ekonomi neoliberalnya, dengan 
meluasnya perlawanan berbagai komponen masyarakat terhadap pelaksanaan 
agenda-agenda ekonomi neoliberal tersebut.

Pertanyaannya, pemulihan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat 
seperti apakah sesungguhnya yang ingin kita capai di tengah-tengah tindasan 
utang dan pertentangan sengit seperti itu? Wallahu a'lam bissawab..


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke