Refleksi: Kalau kecurangan-kecurangan di BUMN menyakitkan kaum Nasionalis, maka 
timbul pertanyaan apakah benar ada yang namanya kaum nasionalis? Bila ada di 
mana mereka selama ini? Ataukah karena sekarang "mereka" tidak kebagian rejeki 
lantas menyakitkan?

 
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0504/18/taj01.html

Kecurangan di BUMN Menyakitkan Kaum Nasionalis


Nilai impor minyak mentah yang semakin besar karena kebutuhan domestik tinggi 
dan rupiah yang terus melemah terhadap dolar telah membuat sulit keuangan 
pemerintah. Kesulitan makin bertambah lantaran pemerintah harus mengeluarkan 
dana untuk program rehabilitasi akibat berbagai bencana alam. 


Pemerintah boleh jadi tidak akan menaikkan harga BBM lagi sebab masyarakat 
bakal memberikan reaksi lebih tajam dari kenaikan pertama. Namun bila harga 
tidak dinaikkan untuk kedua kali, defisit yang harus ditanggung amat besar.
Sebagai gambaran kasar, bila impor minyak mentah dan produk BBM per bulan 
mencapai 26.000 barrel sementara harganya US$ 52 per barrel, dana yang 
dibutuhkan lebih dari US$ 1.350.000.000. 

Pemerintah memang akan memperoleh penerimaan dari hasil ekspor minyak bumi, 
namun hasilnya tetap defisit sebab berdasarkan UU Otonomi Daerah maka harus 
dikurangi bagi hasil migas untuk daerah-daerah yang menghasilkan migas itu. 


Keputusan Paris Club yang menunda utang selama setahun, membuat pemerintah 
mungkin bisa menambal selisih yang muncul, apalagi bila ada penajaman skala 
prioritas dalam pembangunan proyek-proyek.
Peluang juga ada bila pemerintah menerbitkan obligasi atau surat utang yang 
memungkinkan perolehan dana segar. Berbagai pihak menilai penerbitan ini 
merupakan cara yang terbaik ketimbang berutang secara tradisional, namun 
kabarnya gagasan itu terganggu karena lemahnya unsur kredibilitas.

Pemerintah juga punya pilihan lain seperti menjual aset-aset pemerintah 
sebagaimana yang dilakukan pemerintahan sebelumnya. Terbukti, sekalipun 
dikritik tajam dan dicurigai ada kolusi, penjualan aset tersebut memungkinkan 
pemerintah mengisi kocek APBN. Penerimaan pajak dari aset-aset yang dijual itu 
juga memperlihatkan kenaikan yang sangat berarti.


Bila pendapatan dari hasil penerbitan surat utang tidak mencukupi, pemerintah 
mau tidak mau harus meninjau kembali aset-asetnya. Masih ada Badan Usaha Milik 
Negara yang layak jual dan diminati dunia usaha, seperti perbankan.
Persoalannya sekarang masih ada perbenturan antara kerelaan menjual dengan 
dalih yang realistis-pragmatis dan ketidakrelaan melepaskan aset karena alasan 
nasionalisme dan sebagainya. Walaupun kenyataannya sudah banyak aset negara 
yang dijual maupun dikelola seluruhnya oleh pihak asing, namun ketidakrelaan 
itu masih tetap ada, apalagi ketika diketahui aset yang dijual terlalu murah 
dan penjualannya mengandung motif tersembunyi.

Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, penjualan aset pemerintah adalah sesuatu 
yang harus dihindari. Jiwa nasionalisme menghendaki supaya aset-aset nasional 
dikuasai dan dikelola bangsa sendiri, apalagi bila sekalian aset tersebut 
berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. 


Kendati pahit, harus diakui, kepercayaan yang diberikan rakyat untuk mengelola 
BUMN telah disia-siakan. Perilaku menjadikan BUMN sebagai kasir tak pernah 
hilang, kendati pun kita sudah masuk ke alam yang demokratis. 
Para pihak yang mengelola BUMN tersebut ternyata memanfaatkan kekuasaannya 
untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya. Maka tidak heran bila sekarang 
muncul fakta, BUMN tertentu mengalami skandal keuangan. Jumlahnya sudah 
mencapai triliunan rupiah.


Fakta-fakta penyelewengan tersebut sangat menyakitkan bagi mereka yang memiliki 
jiwa nasionalisme. Mereka tersudut lantaran perilaku eksekutif berdasi yang 
tidak taat hukum itu, padahal tidak ada yang salah dengan nasionalisme karena 
negara-negara yang memelopori globalisasi perdagangan mendasari sikapnya itu 
juga dengan nasionalisme. Mereka ingin mempertahankan kesejahteraan rakyatnya 
melalui dominasi pasar. Kebetulan, kebanyakan pasar itu bekas negara jajahan.


Perbedaan pandangan antara mereka yang pro pasar bebas dan nasionalisme 
tampaknya akan dimenangkan oleh mereka yang pro pasar bebas. Penyebab utamanya 
adalah karena sejak awal pembangunan ekonomi diarahkan kepada bangunan pasar 
bebas dengan dalih menarik investasi asing dan karena pemerintah tidak bisa 
menanggung beban pembiayaan pembangunan. 


Pengarahan tersebut makin mengerucut sementara di lain pihak, pengelolaan BUMN 
tidak pernah dilakukan secara semestinya. Sejumlah BUMN dari berbagai bidang 
usaha yang nyata-nyata sangat vital telah dijual. 
Sumber-sumber daya alam telah dikelola pihak asing dengan keleluasaan yang amat 
luas, sementara anak negeri telah menangani hutan secara semena-mena padahal 
mereka memperoleh persentase yang sangat kecil dibandingkan dengan sang cukong.


Kita mengharapkan sekalipun aset-aset pemerintah yang tersisa akhirnya dijual, 
hendaknya unsur-unsur nasionalisme tetap dipertahankan. Indonesia sesungguhnya 
telah dikarunia berbagai kelebihan ketimbang negara lain. Untuk itu sebaiknya, 
kita tidak hanyut dengan irama gendang yang dimainkan pihak asing seperti yang 
terjadi selama ini. 
Sejalan dengan perkembangan seperti di atas, kita harapkan pemerintah memberi 
perhatian yang lebih besar kepada pengajaran nilai-nilai kejuangan di 
sekolah-sekolah. Selain itu, pemerintah juga perlu menganekaragamkan 
sumber-sumber pendidikan di luar negeri supaya pola pikir kaum intelektual 
tidak berorientasi ke Barat. ***
  
Copyright � Sinar Harapan 2003 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke