http://www.suaramerdeka.com/harian/0504/18/nas06.htm
Senin, 18 April 2005NASIONAL

Analisis 
Politik Bisnis Anak Pejabat 
 
Didik J Rachbini

DALAM menanggapi isu bisnis anak pejabat, para petinggi kita dengan longgar 
menyatakan bahwa hal itu tidak apa-apa, sepanjang mengikuti aturan main. 
Pernyataan normatif itu tidak ada yang salah, karena KKN dapat dihindari dengan 
aturan main yang sehat, transparan, serta dukungan perilaku yang demokratis. 
Tanpa pilar aturan main dan kultur perilaku tersebut, maka bisnis anak-anak 
pejabat akan menjadi pintu masuk menuju jalan tol KKN, seperti dulu.
Ungkapan senada pernah disampaikan mantan Presiden Soeharto dan pejabat-pejabat 
Orde Baru dulu. Tetapi kenyataan di lapangan, yang terjadi adalah praktik KKN 
yang sangat meluas. Akhirnya, sistem ekonomi modern menjadi praktik kronisme, 
yang menimbulkan dampak kesenjangan ekonomi.

Alasan Budaya dan Sistem
Dengan demikian, isu tentang bisnis anak pejabat merupakan faktor kritis dalam 
politik bisnis di Indonesia. Jika sistem menjadi longgar terhadap hal itu, maka 
kemungkinan KKN akan menjadi meluas, meskipun ada keinginan kuat untuk 
meletakkan aturan main yang sehat. Tapi masalahnya tidak lain karena kultur 
kolektif kita masih bersifat feodal di mana pejabat menjadi sentral di dalam 
masyarakat.

Bangsa kita, merupakan bangsa yang memiliki pengalaman sejarah dari bentuk 
kerajaan, yang kemudian menjadi negara republik. Pengalaman itu tidak serta 
merta dapat meninggalkan kultur feodal di dalam masyarakat. Faktor budaya 
seperti itu, merupakan kondisi yang harus diperhitungkan dalam melihat sistem 
ekonomi politik nasional, dan transisi demokrasi menuju negara modern. Artinya, 
modernisasi demokrasi dan pemberantasan KKN tidak cukup mudah untuk diatasi 
tanpa secara bersamaan memperbaiki faktor budaya seperti itu, misalnya, melalui 
pendidikan, media massa, dan sebagainya.

Sebagai negara republik, kita mempunyai pengalaman-pengalaman tersendiri 
berkaitan dengan kepemimpinan negara. Mulai dengan terjadinya kepemimpinan 
diktator oleh kalangan sipil, otoriterisme oleh kalangan militer, sampai dengan 
saat ini setelah tumbangnya kepemimpinan Orde Baru yang dipegang Soeharto, 
sampai dengan munculnya kepemimpinan masa transisi demokrasi. Periode belajar 
demokrasi juga belum terlalu panjang, sehingga basis budaya, sistem konstitusi, 
dan aturan main dalam politik ekonomi masih sangat rapuh.

Tentu saja dalam masa transisi demokrasi itu perlu pengawalan secara seksama 
oleh berbagai pihak, baik kalangan cendekiawan, agamawan, maupun masyarakat 
sipil lainnya, agar transisi itu tidak berlarut-larut atau mati di tengah 
jalan. Karena bagaimana pun juga pengalaman-pengalaman yang terjadi, seperti di 
Amerika Latin, transisi demokrasi berjalan terseok-seok dan berlarut-larut, 
sehingga belum mampu memberikan apa yang diharapkan rakyat, berupa 
kesejahteraan rakyat.

Transisi demokrasi yang gagal menimbulkan sosok demokrasi yang tidak 
terkonsolidasi. Di dalamnya akan muncul lagi feodalisme modern, kapitalisme 
kroni, konglomerasi, kesenjangan kaya dan miskin, kepincangan dalam 
kesejahteraan ekonomi, dan kemiskinan yang meluas. Pejabat punya kuasa, 
sekaligus menguasai sumber-sumber ekonomi, yang kemudian didistribusikan secara 
terbatas di lingkungan sekitarnya, kerabat, dan kroni-kroninya.

Transisi demokrasi demokrasi yang gagal, sepertinya hanya menguntungkan 
elit-elit politik saja, belum mampu menyentuh sebagian besar masyarakat. 
Artinya, transisi demokrasi hanya dinikmati segelintir kelompok karena tatanan 
yang modern, transparan, dan terbuka belum terwujud. Tentu saja hal itu sangat 
rawan bagi prospek pembangunan demokrasi karena yang mengambil peluang ekonomi 
hanya kalangan elite pusat dan daerah.

Riskan
Dalam masa transisi demokrasi itu, harus diingat bahwa aturan main yang akan 
ditegakkan belum sepenuhnya bisa berjalan. Karenanya dalam setiap tindakan 
masyarakat dalam bernegara belum ada kepaduan pegangan aturan. Ini yang 
menjadikan belum mungkinnya kita melakukan usaha (bisnis) secara fair tanpa 
adanya perlindungan dari pihak yang berkuasa.

Karenanya, isu bisnis anak pejabat akan menjadi masalah di dalam sistem, ketika 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan bahwa tidak menjadi soal 
bila keluarga atau anak pejabat terjun di dunia bisnis, asal mengikuti aturan 
main. Syarat berpegang pada aturan yang ditetapkan, adalah suatu hal yang sulit 
untuk diwujudkan karena faktor-faktor budaya tersebut di atas. 

Karena bagaimanapun juga sebagai negara yang sedang menghadapi masa transisi 
demokrasi, masih sangat sulit untuk mematuhi aturan main dengan baik. Isu 
bisnis anak pejabat mesti tetap diwaspadai agar tidak menjadi pintu masuk KKN 
kembali seperti di masa yang lalu.

Pengalaman sejarah bisnis keluarga atau anak pejabat di Indonesia, adalah 
buruk. Kebanyakan pebisnis kroni tersebut, masuk dengan cara KKN dan ingin 
mengerjakan semua bidang usaha. Praktik tersebut kemudian menjadi jaring-jaring 
konglomerasi yang tidak efisien, dan tidak berbeda dengan perburuan rente 
ekonomi. 

Hal itu sebenarnya menunjukkan ketidakprofesionalan dalam cara kerja, seperti 
yang ditunjukkan dengan tidak adanya konsentrasinya usaha pada satu bidang 
untuk menjadi core-nya. Dengan cara itu, berarti mereka bekerja secara 
serabutan, tentu saja cara kerja seperti itu menunjukkan bahwa praktik tersebut 
hanya merupakan semangat berburu rente ekonomi, yang memang tidak profesional. 
Apa yang menjadi objek bisnis semata-mata hanya dalam rangka mendapatkan 
perlindungan dari negara, yang terkait sebagai keluarga. Praktik bisnis 
tersebut tidak dilakukan dengan cara yang fair sesuai dengan kemampuan secara 
profesional.(Didik Rachbini, ekonom dan anggota DPR RI-69) 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke