http://www.suaramerdeka.com/harian/0505/16/opi1.htm
tajuk rencana Peringkat Daya Saing yang Makin Memprihatinkan - Dalam lima tahun terakhir daya saing Indonesia di tingkat global makin merosot. Hasil survei International Institute for Management Development tentang peringkat daya saing global tahun 2005 menunjukkan posisi kita di peringkat 59 dari 60 negara di dunia yang disurvei. Hanya Venezuela yang di bawah kita, yakni di peringkat 60. Tahun 2001 posisi Indonesia masih di urutan 46, kemudian tahun 2002 menurun di peringkat 47. Tahun 2003 merosot drastis di peringkat 57, sedangkan tahun 2004 turun lagi ke 58 sebelum tahun 2005 di peringkat 59. Negara tetangga kita seperti Malaysia sudah mampu di urutan 28, sedangkan Thailand 27. Jarak itu terasa makin jauh sehingga kita benar-benar prihatin. - Ada empat faktor utama yang menjadi ukuran penilaian, yakni kinerja ekonomi, efisiensi usaha, efisiensi pemerintahan, dan infrastruktur. Dari keempat faktor itu kemudian diperinci lagi menjadi berpuluh-puluh item penilaian. Hasilnya diharapkan cukup valid dan memberikan gambaran riil tentang daya saing di suatu negara. Lebih dari itu hasil survei semacam itu sering menjadi patokan atau informasi awal bagi investor yang akan menanamkan modal di suatu negara. Wajar saja bila Indonesia menjadi pilihan buncit, karena iklim usahanya dianggap kurang baik. Tahapan pemulihan sudah berjalan, tetapi harus diakui secara keseluruhan kondisi kita belum berubah secara signifikan. Perekonomian secara makro sudah lebih baik, namun tiga faktor lain masih relatif buruk. - Tentang iklim usaha di Indonesia, kita sudah sering mendengar keluhan dari kalangan pengusaha terutama investor asing. Sudah lama keluhan itu muncul dan tampaknya sampai sekarang belum dapat teratasi. Hal itu terbukti dari penurunan peringkat secara terus- menerus, terutama sejak lima tahun terakhir. Kalaupun kita sudah berupaya, namun hasilnya belum tampak atau kemungkinan lain negara-negara lain lebih cepat bergerak dan efektif bertindak. Khususnya dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Maka kitalah yang akhirnya tertinggal. Kalau tak ada langkah apa pun dikhawatirkan keadaan bukan membaik, melainkan malah memburuk. Laju investasi terutama dari asing pun melamban. Demikian juga investasi domestik. - Kita juga sering bertanya-tanya atau merasa tidak habis mengerti. Mengapa kondisinya masih begini terus, padahal reformasi dan pemulihan ekonomi sudah berjalan. Tampaknya tak cukup dengan melihat besaran angka-angka indikator ekonomi. Tak cukup diyakinkan hanya dengan dua kata, yakni demokrasi dan reformasi. Para pengusaha lebih taktis dan pragmatis. Mereka melihat dan merasakan apa yang terjadi di lapangan. Bagaimana harus berhadapan dengan peraturan yang berubah-ubah, pungutan liar yang masih merajalela, birokrasi dan perizinan yang berbelit dan instabilitas sosial, politik, dan keamanan. Semua akan berdampak pada ongkos. Dan kalau ongkos menjadi mahal, otomatis daya saing akan makin menurun. - Sementara pada saat yang sama negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, apalagi Singapura, makin menunjukkan kinerja ekonomi dan pemerintahannya jauh lebih baik. Efisiensi di dunia bisnis dan pemerintahan menjadi faktor penentu. Semua bisa diukur dan dirasakan sendiri. Di sisi lain kelemahan infrastruktur masih akan selalu menjadi kendala klasik. Infrastructure Summit yang digelar di Jakarta dengan sukses belum lama ini ternyata belum memperoleh respons berupa peningkatan investasi infrastruktur secara signifikan. Kalau sudah tahu di mana titik-titik lemah itu, mengapa tak segera dapat diselesaikan? Justru itulah masalahnya. Selalu muncul kerumitan, kompleksitas, dan permasalahan-permasalahan yang dilematis. - Pemerintahan baru belum memiliki power dan energi besar untuk segera memperbaiki keadaan. Sementara yang terjadi di era reformasi justru stagnasi kalau tidak malah setback. Misalnya dalam kehidupan politik dan pemerintahan. Pemerintah telah berusaha lebih bersih, tetapi soal hambatan dan kendala investasi di lapangan rasanya belum mengalami banyak perubahan. Karena perubahan bergantung juga pada faktor manusianya. Sistem dan struktur gampang diotak-atik, tetapi kalau sudah menyangkut moral dan mental, akan sulit. Kita perlu mengurai lagi kelemahan-kelemahan itu dan dicarikan segera pemecahannya dengan segala cara. Kalau tetap begini, bisa jadi daya saing akan terus melemah dan kita makin tidak diperhitungkan dalam percaturan global. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
