Lampung Post
Minggu, 23 Mei 2004
FOKUS
Menyimpan Wanita di Dalam Kampus
Belakangan banyak mahasiswi di perguruan tinggi di Lampung yang berstatus
wanita simpanan pria pejabat dan eksekutif. Ada juga yang bekerja sebagai
perempuan panggilan (call girl) dan perempuan pendamping (escort girl) di klub
eksekutif dan sejumlah diskotek.
SABTU sore lalu, saat baru keluar dari halaman kampus U di Jalan Z,
ponsel di saku celana jins AM mendering. Pada layar Nokia foliphonic tipe
terbaru itu, tertulis 0811xxxxx. "Bapak," kata AM sambil menunjukkan ponselnya.
Gadis berambut lurus yang setiap gerakkan tubuhnya seolah mengekspose bagian
sex-appeal-nya itu, meladeni si penelepon sebentar, lalu menutup pembicaraan
dengan kecupan yang mesra.
Setelah menyeka tetes keringat di keningnya, gadis berwajah ayu sesuai
dengan namanya itu mengaku memanggil "Bapak" kepada anggota DPRD Lampung Barat
itu. Menurut dia, laki-laki paro baya yang telah beristri itu, seperti biasa
setiap Sabtu malam selalu meminta ditemani. "Biasa, paling dugem," katanya.
Dugem alias dunia gemerlap, belakangan, menjadi bagian dari keseharian
AM. Gadis asal Liwa, Kabupaten Lampung Barat, ini tak pernah membayangkan akan
melakoni jalan hidup seperti itu. Tapi, lantaran tidak ada pilihan, AM tidak
bisa menolak. "Saya mau kuliah. Kalau kuliah saya sudah selesai, saya nggak mau
menjalani hidup seperti ini," kata AM, yang mengaku seluruh biaya hidup dan
kuliahnya ditanggung anggota DPRD Lampung Barat yang dipanggilnya "Bapak" itu.
Tapi, untuk semua kemurahan itu, AM harus rela menuruti kemauan "Bapak",
termasuk melayani nafsu layaknya seorang istri kepada suaminya. Bagi AM,
mula-mula perbuatan itu membuatnya risi, tetapi belakangan AM tidak peduli.
Yang dia pikirkan saat ini cuma satu, "Semoga kuliah saya cepat selesai."
Tidak sedikit mahasiswi yang merangkap sebagai wanita simpanan seperti
AM. Sebut saja KR, H, EM, dan D, yang menjadi mahasiswa di kampus U dan kampus
S di Jalan Z., kampus M di Jalan P, dan kampus T di Jalan Z. Sepintas, mereka
terlihat seperti mahasiswi biasanya. Bergaul sesama mahasiswi dan tidak sedikit
dari mereka yang memiliki kekasih dari kalangan sendiri. Tetapi di luar status
sebagai mahasiswi, mereka adalah wanita simpanan yang seluruh hidup dan biaya
kuliahnya dibiayai orang lain.
KR mengaku disewakan sebuah rumah di Komplek V di Jalan Antasari oleh
"suami tak resminya". Gadis berambut sebahu berkulit kuning langsat ini, tidak
mau memberi tahu siapa "suami tak resmi"-nya itu. Tapi, pria paro baya itu
seorang anggota Dewan di Kota Metro dan cukup dikenal di kalangan masyarakat
Kota Metro.
"Saya memangilnya 'Oom'. Pertama bertemu di tempat saya bekerja," kata
KR, yang mengaku bekerja sambilan sebagai gadis penghibur (escort girl) di
sebuah diskotek di Jalan M.
Perkenalan terjadi ketika "Oom" yang datang ke diskotek bersama dua
temannya dari Kota Metro meminta manajer diskotek mencarikan gadis yang bisa
menemani mereka. KR mengaku mengenali dua teman "Oom" karena biasa datang ke
diskotek itu. Tapi, "Oom" baru pertama sekali itu datang. "Manajer diskotek
meminta saya menemani mereka bersama dua teman. Kebetulan saya bersama dia,"
ujar KR.
Gadis yang mengaku berasal dari Lampung Tengah ini sudah bekerja di
diskotek sejak tahun kedua menjadi mahasiswa di kampus S. Tahun pertama kuliah,
KR mengaku belum ada persoalan menyangkut biaya kuliah dan biaya hidupnya di
Bandar Lampung. Tapi, memasuki tahun kedua, orangtuanya tak sanggup membiaya
dan meminta berhenti kuliah.
"Daripada kuliah saya terhenti, saya bekerja sambilan di diskotek.
Orangtua saya tidak tahu soal ini," kata KR.
Belum lama bekerja, KR bertemu anggota DPRD Kota Metro. Menurut KR,
lantaran tertarik kepadanya, anggota Dewan itu memintanya berhenti bekerja dan
berjanji akan membayar uang kuliahnya. Cuma, kata KR, "Oom" meminta kesediaan
saya meladeninya seperti seorang istri kepada suaminya. Sampai sekarang, KR
masih menjadi wanita simpanan. Tapi, gadis yang akan menyelesaikan kuliah tahun
ini mengaku akan mengakhiri semua begitu kuliahnya selesai.
Datang dari Daerah
Sebagian besar mahasiswi-mahasiswi yang menjadi wanita simpanan pria-pria
pejabat dan eksekutif di Lampung berasal dari daerah. Tidak sedikit dari mereka
yang mengaku sengaja dibawa dari daerah tempat tinggalnya ke Bandar Lampung,
kemudian dikontrakkan rumah dan dibiayai hidupnya.
Sebagai wanita simpanan, beberapa di antara mahasiswi itu mengaku
berharap menjadi istri sah. Ada juga yang tidak ingin dijadikan istri sah,
karena tidak berharap akan menekuni kehidupan seperti ini seterusnya.
"Sepanjang hidup saya pasti disumpahi istri sahnya," kata D, mahasiswi
perguruan tinggi di Jalan Z, yang berhubungan "tak resmi" dengan seorang
anggota Dewan di DPRD Lampung yang dipangil D dengan "Bapak".
Sebagai "wanita simpanan", D tahu persis kalau "Bapak" mampu memiliki dua
istri yang sah. Tapi, D mengaku tidak ingin menjalani kehidupan sebagai istri
kedua. "Saya mau menjalani seperti ini karena dia bisa menjadi sumber kehidupan
saya. Saya punya pacar dan kami berencana mau menikah begitu saya selesai
kuliah," kata D.
Menurut D, soal hubungannya dengan anggota DPRD Lampung itu tidak
diketahui kekasihnya, meskipun dia sering mendengar kabar burung dari
teman-temannya. Setiap kekasihnya mempertanyakan, D selalu bisa menjawab yang
tidak mencurigakannya.
Tapi, lama-kelamaan situasi "membohongi" itu membosankan D. Menurut gadis
ini, dia menyadari kekeliruannya, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak karena
tuntutan hidup.
Sosiolog dari Unila, Dra. Handi Mulyaningsih, M.A., mengakui adanya
mahasiswi yang merangkap menjadi wanita simpanan pejabat di daerah dan
eksekutif di Provinsi Lampung. Baginya, ini fenomena sosial ini akibat faktor
gaya hidup dan menurunnya nilai moral serta menurunnya kontrol masyarakat
menjadi penyebabnya.
Faktor gaya hidup di sini sangat dipengaruhi informasi yang makin
mengglobal ditambah nilai-nilai materialisme yang diusung masyarakat, kata dia.
Ditambah lagi kondisi ekonomi masyarakat dan bangsa yang terpuruk, memperparah
hal tersebut.
"Kalau saya menilai, ketiga faktor tersebut yang sangat dominan
memengaruhi terjadinya permasalahan ini. Selain itu, juga makin tidak
diindahkannya lembaga perkawinan dalam masyarakat, sehingga yang terjadi
samenleven (kumpul kebo, red) atau menjadi istri simpanan menjadi sangat
biasa," kata Handi.
Selain itu, ikatan-ikatan keluarga yang terjalin di masyarakat mulai
kendur. "Hingga akhirnya yang terjadi tetangga tidak saling memedulikan. Maka,
yang terjadi keluarga saya adalah yang terpenting, sedangkan keluarga orang
lain tidak pernah dipedulikan," ujar aktivis gender Lampung ini.
Padahal, jika itu yang terjadi, yang menjadi korban yang paling menderita
adalah perempuannya. Apabila dengan melakukan pernikahan siri pun, tetap
perempuannya tidak ada hak di mata hukum karena sah menurut agama saja. Bahkan,
dampak yang sangat besar akan dirasakan sang anak nantinya. "Menurut saya,
hak-hak anak biasanya yang akan terlanggar." kata dia. n HUT/CR-8/M-3
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/