http://www.suarapembaruan.com/News/2005/05/18/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Elite? Ya Elite! 



(Presiden, Wapres, Menteri, dan DPR Dilarang Baca!)

 

Muhtadin AR 

SEORANG sahabat berkebangsaan asing dalam sebuah obrolan ringan di warung bakmi 
jawa bertanya kepada penulis, lebih mudah mana, berbuat baik kepada orang lain 
dengan memakai uang (biaya) sendiri, atau berbuat baik kepada orang lain dengan 
memakai uang (biaya) orang lain? 

Tanpa berpikir panjang pun lalu penulis menjawab, menurut akal sehat, pasti 
lebih mudah berbuat baik kepada orang lain dengan menggunakan uang orang lain. 
Karena dalam benak penulis, pertanyaan itu hanyalah canda seorang sahabat 
karib, yang tidak memiliki makna dan kepentingan apa-apa. Sekadar guyon dan 
sindiran agar penulis berkenan menraktir (membayari) salah satu makanan khas 
ini. 

Tetapi, ternyata sahabat itu menyalahkan jawaban penulis. Menurutnya, berbuat 
baik kepada orang lain dengan menggunakan uang sendiri, jauh lebih mudah 
ketimbang menggunakan uang orang lain. Pasalnya, dengan memakai uang sendiri, 
berarti kita tidak akan merepotkan orang lain. 

Merepotkan? Lama penulis merenungi jawaban itu. Benarkah berbuat baik kepada 
orang lain dengan menggunakan uang orang lain itu jauh lebih sulit? Di mana 
kesulitannya? Bukankah dengan menggunakan uang orang lain berarti kita tidak 
mengeluarkan biaya sendiri, hanya sebagai perantara? 

Berbagai literatur yang pernah penulis baca pun, coba penulis ingat-ingat 
kembali, tetapi jawabannya sama, bahwa lebih mudah berbuat baik pada orang lain 
dengan menggunakan uang orang lain ketimbang uang sendiri. 

Tetapi mengapa sahabat itu menyalahkan jawaban penulis? Dari sudut pandang mana 
dia menggunakan analisisnya? Apakah dia melihat persoalan dengan tidak 
menggunakan akal sehat? Tanpa berpikir panjang, atau sekadar canda? 


Kepercayaan 

Memang, untuk berbuat baik kepada orang lain dengan menggunakan uang orang 
lain, dibutuhkan sebuah kepercayaan dan kejujuran. Dan, itu sangat sulit untuk 
kita dapatkan. Tetapi, bukankah dengan memakai uang orang lain, berarti kita 
hanya memerlukan trust? 

Artinya, tanpa mengeluarkan modal saja, kita sudah dapat berbuat baik terhadap 
orang lain, lalu bagaimana seandainya kita mengeluarkan modal, tentu kita akan 
dapat berbuat yang jauh lebih baik lagi. 

Tetapi, benar juga jika melihat kenyataan yang menghampar di depan mata kita. 
Bukankah aparatur negara, mulai dari presiden, wapres, menteri, gubernur, wali 
kota, bupati, juga anggota dewan, camat, lurah dan seluruh aparatur di 
bawahnya, itu sesungguhnya diangkat untuk berbuat baik kepada seluruh rakyat? 
Bahkan untuk berbuat baik, bukankah mereka juga dibayar dengan memakai uang 
orang yang semestinya mereka baiki pula? 

Itu logika akal sehat, Bung! Sahabat itu mencoba mengingatkan penulis kembali. 
Tetapi, kalau itu logika akal sehat, berarti seluruh aparatur di negeri ini 
dalam mengelola pemerintahan tidak memakai akal sehat, dong? 

Nyatanya, angka kemiskinan dan pengangguran dari tahun ke tahun semakin naik? 
Bahkan karena di kampung halamannya sendiri (Indonesia) tidak ada pekerjaan, 
mereka rela digebuki (juga tak sedikit yang diperkosa) di negara orang 
(Malaysia), karena tidak dilengkapi dengan dokumen, sebagai tenaga kerja 
ilegal. Bukankah negeri ini sumber daya alamnya melimpah ruah, yang cukup untuk 
menyejahterakan seluruh rakyatnya? Gemah ripah loh jinawi? 

Bukankah hutan ini telah dibabat dan dijarah habis-habisan, pasir laut dikeruk 
secara berlebihan, tambang emas dikeruk dengan sistem pelaporan tembaga, 
sumber-sumber minyak dieksplorasi sedemikian rupa, lalu hasilnya dijual mentah 
dengan harga sangat murah, dan setelah itu kita mengimpor dengan harga sangat 
mahal, sehingga (dengan terpaksa?) harga BBM dinaikkan hingga 30 persen yang 
berarti semua kebutuhan juga ikut naik, padahal penghasilan kita masih jauh 
dari kategori cukup. Lalu ke mana semua kekayaan itu? Mana untuk rakyat? Rakyat 
yang kecil-kecil ini? 



Kalau seorang pejabat eselon II atau III di sebuah direktorat suatu departemen 
(golongan IV), yang gaji per bulannya kurang dari Rp 4 juta, mengapa bisa 
memiliki rumah sangat mewah dan mobil lebih dari lima buah? Bukankah dia hanya 
seorang pegawai negeri sipil, yang tidak memiliki sumber penghasilan selain 
gaji tersebut? Tetapi, mengapa rakyat biasa untuk sekadar makan saja, harus 
disubsidi? 

Kalau negeri ini miskin, mungkin kenyataan demikian tidak begitu menjadi 
persoalan. Pasalnya, negeri ini kaya! Bahkan kaya raya! Yang kekayaan alamnya 
cukup untuk menyejahterakan seluruh rakyatnya. Tetapi, mengapa sebagian besar 
rakyat di negeri ini selalu saja berimpit dengan kesulitan hidup, sementara 
yang lain justru bergelimang dengan harta? Padahal, golongan kedua ini adalah 
mereka "yang dibayar" untuk mengatur dan mendistribusikan kekayaan negara, agar 
tidak ada ketimpangan dalam masyarakat? 


Benarkah? 

Mungkin, negeri ini kaya atau tidak, yang jika diteruskan akan menjadi debat 
kusir tiada ujung. Satu pihak menganggap bahwa negara ini miskin karena 
memiliki utang di mana-mana. Tetapi, mana mungkin negeri ini miskin kalau uang 
yang dikorup saja (tahun 2004) mencapai Rp 167 triliun, hampir separo dari APBN 
(baca: laporan BPK). Lihatlah gunung-gunung di Kalimantan dan Irian yang berisi 
emas dan batubara. Lihatlah Riau, Aceh, Sulawesi dan daerah lainnya, yang 
alamnya menyimpan gas dan minyak. 

Sekarang yang menjadi persoalan, mengapa orang-orang yang semestinya bertugas 
(aparatur negara) untuk mendistribusikan kekayaan negara itu tidak 
melaksanakannya? Tidak tahukah mereka cara bekerjanya? Ataukah memang karena 
mereka tidak mau? Bukankah untuk melaksanakan tugas itu, mereka tidak perlu 
mengeluarkan modal, tetapi bahkan dibayar? Benarkah bahwa berbuat baik kepada 
orang lain dengan memakai uang orang lain itu memang sulit, sebagaimana 
dinyatakan sahabat itu? 

Penulis jadi teringat keluhan orang di warung-warung kopi, bahwa semua ini 
terjadi karena sistem birokrasi kita yang longgar dan korup, lebih 
mengedepankan kuantitas daripada kualitas kerja. Lebih senang maen catur dan 
baca koran di kantor ketimbang menyelesaikan pekerjaan, lebih senang 
menenderkan proyek kepada rekanan ketimbang mengerjakannya sendiri, dan 
lainnya. 

Tetapi, benarkah yang bobrok adalah sistem birokrasinya? Tidakkah semua ini 
terjadi karena "pola pikir" pejabatnya yang bermental ndoro (majikan) di depan 
rakyatnya, tetapi bermental babu di hadapan negara lain, selalu didikte, 
dikadali, dan dilecehkan? Minta dilayani masyarakatnya, tetapi menjadi pelayan 
di hadapan negara lain. Inikah potret elite dari sebuah negara yang sedang 
mencari identitas? Tidak ingatkah mereka, tugas pejabat negara (beserta 
aparaturnya) hanyalah mengatur dan mendistribusikan kekayaan negara, bukan 
memperkaya diri? 

Pada akhirnya penulis yakin, selama para penyelenggara negara ini tidak 
mengubah pola pikir, bekerja untuk melayani yang membayar, maka selama itu pula 
kekayaan negara ini tidak akan pernah dinikmati oleh seluruh rakyatnya. 

Elite, di mana pun dan kapan pun juga tetaplah elite. Karena posisinya, dia 
(beserta kelompoknya) akan tetap memperkaya diri, meskipun di kanan-kirinya 
orang tidak bisa makan. Dan benar, berbuat baik dengan uang orang lain, 
ternyata lebih sulit ketimbang memakai uang sendiri. Buktinya, aparatur negeri 
ini tetap tidak bisa berbuat baik terhadap seluruh rakyat. Padahal, untuk 
berbuat baik, mereka dibayar. 

Lama penulis merenungi hal ini sebelum akhirnya ditegur wajah ganteng berambut 
pirang di sebelah: ayo makan dulu, kagak usah dipikirin. Namanya juga 
Indonesia! * 


Penulis adalah peneliti Pe himpunan Pengembangan P santren dan Masyarakat (P3M) 
Jakarta 


Last modified: 18/5/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke