http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/02/opini/1717301.htm

 
Pancasila dan Keberlanjutan NKRI 
Oleh Siswono Yudo Husodo

NEGARA kebangsaan Indonesia terbentuk dengan ciri yang amat unik dan spesifik. 
Berbeda dengan Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Yunani, yang menjadi suatu 
negara bangsa karena kesamaan bahasa. Atau Australia, India, Sri Lanka, 
Singapura, yang menjadi satu bangsa karena kesamaan daratan. Atau Jepang, 
Korea, dan negara-negara di Timur Tengah, yang menjadi satu negara karena 
kesamaan ras.

Indonesia menjadi satu negara bangsa meski terdiri dari banyak bahasa, etnik, 
ras, dan kepulauan. Hal itu terwujud karena kesamaan sejarah masa lalu; nyaris 
kesamaan wilayah selama 500 tahun Kerajaan Sriwijaya dan 300 tahun Kerajaan 
Majapahit dan sama-sama 350 tahun dijajah Belanda serta 3,5 tahun oleh Jepang.

Negara kebangsaan kita juga terbentuk atas upaya besar founding fathers, yang 
tanpa kenal lelah keluar masuk penjara memantapkan rasa kebangsaan Indonesia 
yang resminya lahir pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Negara kebangsaan 
Indonesia lahir melalui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan UUD 1945 
yang ditetapkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945, yang pada bagian pembukaannya 
memuat Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila merupakan sublimasi dari 
pandangan hidup dan nilai-nilai budaya yang menyatukan masyarakat kita yang 
beragam suku, ras, bahasa, agama, pulau, menjadi bangsa yang satu, Indonesia.

Itulah sebabnya, meski UUD 1945 telah diamandemen empat kali, bagian pembukaan 
ini tetap tidak berubah, karena jika berubah berarti membentuk negara baru, 
bukan yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Paradigma fungsi

Sosiolog Talcott Parsons dalam buku Social System menyatakan, jika suatu 
masyarakat ingin tetap eksis dan lestari, ada empat paradigma fungsi (function 
paradigm) yang harus terus dilaksanakan oleh masyarakat bersangkutan.

Pertama, pattern maintenance, kemampuan memelihara sistem nilai budaya yang 
dianut karena budaya adalah endapan perilaku manusia. Budaya masyarakat itu 
akan berubah karena terjadi transformasi nilai dari masyarakat terdahulu ke 
masyarakat kemudian, tetapi dengan tetap memelihara nilai-nilai yang 
dianggapnya luhur, karena tanpa hal itu akan terbentuk masyarakat baru yang 
lain.

Kedua, kemampuan masyarakat beradaptasi dengan dunia yang berubah dengan cepat. 
Sejarah membuktikan banyak peradaban masyarakat yang telah hilang karena tidak 
mampu beradaptasi dengan perubahan dunia. Masyarakat yang mampu menyesuaikan 
diri dengan perubahan serta memanfaatkan peluang yang timbul akan unggul.

Ketiga, adanya fungsi integrasi dari unsur-unsur masyarakat yang beragam secara 
terus-menerus sehingga terbentuk kekuatan sentripetal yang kian menyatukan 
masyarakat itu.

Keempat, masyarakat perlu memiliki goal attainment atau tujuan bersama yang 
dari masa ke masa bertransformasi karena terus diperbaiki oleh dinamika 
masyarakatnya dan oleh para pemimpinnya.

Jika negara kebangsaan Indonesia terbentuk oleh kesamaan sejarah masa lalu, 
maka ke depan perlu dimantapkan oleh kesamaan cita-cita, pandangan, harapan, 
dan tujuan tentang masa depannya.

Pudarnya ideologi Pancasila

Sebuah negara bangsa membutuhkan Weltanschauung atau landasan filosofis. Atas 
dasar Weltanschauung itu, disusunlah visi, misi, dan tujuan negara. Tanpa itu, 
negara bergerak seperti layangan putus, tanpa pedoman.

Dalam perspektif negara bangsa, empat function paradigm Parson yang harus terus 
dilaksanakan masyarakat Indonesia agar dapat hidup dan berkembang, kerangka 
sistemiknya termanifestasikan (terkristalisasi) dalam Pancasila yang merupakan 
Weltanschauung bangsa Indonesia.

Akhir-akhir ini, terasa pamor Pancasila sedang menurun. Pancasila juga dapat 
dipandang sebagai ideologi negara kebangsaan Indonesia. Mustafa Rejai dalam 
buku Political Ideologies menyatakan, ideologi itu tidak pernah mati, yang 
terjadi adalah emergence (kemunculan), decline (kemunduran), dan resurgence of 
ideologies (kebangkitan kembali suatu ideologi). Tampaknya, sejak awal 
reformasi hingga saat ini sedang terjadi declining (kemunduran) pamor ideologi 
Pancasila seiring meningkatnya liberalisasi dan demokratisasi dunia.

Sosialisasi Pancasila di masa lalu, di mana yang mengikuti penataran memperoleh 
sertifikat dan menjadi persyaratan dalam promosi jabatan, telah menjadikan 
Pancasila hafalan, dan tidak mewujud secara substansial pada perikehidupan 
sehari-hari masyarakatnya.

Membangkitkan kembali ideologi Pancasila

Dalam buku The Meaning of The 20th Century, Kenneth E Boulding menyatakan, 
"Kebenaran yang diakui benar oleh semua orang bukan ideologi yang patut 
diperjuangkan. Kebenaran yang diakui benar oleh sebagian orang adalah ideologi 
yang patut diperjuangkan".

Agar Pancasila sebagai ideologi bangsa tetap mempunyai semangat untuk 
diperjuangkan, kita perlu menerima kenyataan belum diterimanya Pancasila oleh 
semua pihak. Dunia juga tampak belum yakin pada kelangsungan dan kemajuan 
sebuah negara bangsa bernama Indonesia.

Pancasila perlu disosialisasikan agar dipahami oleh dunia sebagai landasan 
filosofis bangsa Indonesia dalam mempertahankan eksistensi dan mengembangkan 
dirinya menjadi bangsa yang sejahtera dan modern.

Sebagai ideologi nasional, ia harus diperjuangkan untuk diterima kebenarannya 
melewati batas-batas negara bangsa kita sendiri. Tentu bentuk perjuangan 
ideologi pada waktu ini berbeda dengan zaman berbenturannya nasionalisme dengan 
imperialisme, sosialisme dengan kapitalisme, dan antara demokrasi dengan 
totaliterianisme. Keberhasilan Pancasila sebagai suatu ideologi akan diukur 
dari terwujudnya kemajuan yang pesat, kesejahteraan yang tinggi, dan persatuan 
yang mantap dari seluruh rakyat Indonesia.

Ke depan, bangsa kita perlu berani menjadi seperti bangsa Amerika Serikat yang 
ingin menyebarkan ideologi demokrasi ke seluruh penjuru dunia.

Dalam pidato pelantikan untuk masa jabatan kedua (2005-2009) pada 20 Januari 
2005 lalu, Presiden George Walker Bush mengatakan, kebijakan bangsa Amerika 
adalah terus mencari dan mendukung pertumbuhan gerakan dan institusi demokrasi 
di segala bangsa dan budaya, dengan tujuan utama mengakhiri tirani dunia.

Bangsa AS mampu melakukan itu hari ini karena ideologi nasionalnya, demokrasi 
yang berintikan liberty (kebebasan), fraternity (persaudaraan), dan egality 
(kesetaraan), telah berhasil menempatkan AS sebagai negara bangsa terkemuka di 
dunia. Keberhasilan AS di berbagai bidang kehidupan bukan saja telah 
melegitimasikan posisinya sebagai negara yang dirujuk dan dihormati, tetapi 
juga menempatkannya sebagai sumber inspirasi serta teladan banyak bangsa.

Hanya dengan mencapai kondisi bangsa yang maju, sejahtera, dan bersatu sajalah 
Indonesia dapat menjadi salah satu rujukan dunia. Saat itulah Pancasila 
berpotensi untuk diterima oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Saya berpendapat, 
kondisi itu adalah hal yang mungkin terjadi yang perlu diwujudkan; menjadi 
mission sacre kita sebagai suatu bangsa.

Tugas kaum terpelajarlah untuk mengartikulasikan keinginan rakyat untuk maju 
dengan mewarnai Pancasila yang memiliki rumusan tajam di segala bidang untuk 
menjawab tantangan yang sedang dihadapi bangsa dan negara kita. Konsepsi dan 
praktik kehidupan yang Pancasilais terutama harus diwujudkan dalam keseharian 
kaum elite, para pemimpin, para penguasa, para pengusaha, dan kaum terpelajar 
Indonesia untuk menjadi pelajaran masyarakat luas.


Siswono Yudo Husodo Ketua Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke