http://www.suaramerdeka.com/harian/0506/02/nas05.htm

Laporan dari Belanda (3-Habis)
Akmil Breda, Jauh dari Kesan Angker
       
      SM/Hendro Basuki DITERIMA RAMAH: Tim kecil rombongan Gubernur Mardiyanto 
ketika diterima perwira penerangan Mayor Joan Janssen di halaman masuk Akademi 
Militer Breda. Di belakang tampak tank tua yang dijadikan monumen di dekat 
pintu masuk.(57)   
     
BREDA identik dengan nama sebuah akademi militer di Belanda. Akademi militer 
yang terkenal ini melahirkan banyak sekali jenderal legendaris. Beberapa 
jenderal Indonesia pernah mengenyam pendidikan militer di sana, seperti mantan 
KSAD dan menteri dalam negeri Jenderal (Purn) Rudini pada 1951-1955. 

Mantan Dubes RI di Maroko, Prancis, dan Spanyol serta Wakil Ketua DPA Letjen 
(Purn) Gusti Pangeran Haryo Djatikusumo. Juga alm Letjen (Purn) Soekemi. 
Setelah era tokoh-tokoh itu, tidak banyak lagi prajurit TNI-AD yang sekolah di 
sana, karena pemindahan orientasi pendidikan militer dari Belanda ke Amerika 
Serikat.

Akademi militer yang biasa disebut sebagai Royal Netherlands Military Academy 
ini menempati sekolah kastil yang sangat tua dan dibangun tahun 1198. Sedangkan 
akmil ini dideklarasikan ketika Pangeran Frederik, putra Raja William I, secara 
resmi membuka pelatihan perwira pada 24 November 1828. Setidak-tidaknya ada 173 
prajurit yang mengikuti latihan angkatan pertama ini.

Pada periode berikutnya makin banyak prajurit yang belajar di akademi ini, 
yakni 1907-1909, mencapai 328 prajurit, 1939 (555 prajurit) dan pada periode 
beberapa tahun terakhir ini setiap tahunnya menerima sekitar 800 siswa untuk 
tiga angkatan, yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

Membayangkan sebuah akademi militer, tentu seperti suasana militeris yang biasa 
terlihat di pusat pendidikan kemiliteran dan barak-barak. Tetapi, jika Anda 
masuk ke Akmil Breda, sangat berbeda dari kesan yang selama ini melekat di 
benak Anda. 

Pintu masuk ke area itu hanya dijaga oleh seorang petugas piket dan seorang 
perempuan, yang tampak sekali bukan prajurit, melainkan tenaga administrasi. 

Perbincangan antara seorang staf pengantar dari Kedubes RI di Belanda dan 
petugas jaga hanya singkat.

Huis van Brecht

Mayor Joan Janssen, seorang perwira penerangan, langsung menyambut kami dengan 
senyuman ramah. Masih agak kikuk pertama kali menyapa, tetapi tampak sekali 
Mayor Janssen antusias memberikan gambaran tentang lembaganya.

"Dari Indonesia? Ya, saya juga!" katanya.

"Kok?"

"Nenek moyang saya pernah tinggal di Aceh," jelas Janssen.

Dan kami pun mengangguk pelan. Wah, perwira ini tampaknya nenek moyangnya 
pernah dikirim dan hidup di Aceh. Mungkin zaman Snouck Hurgronye menaklukkan 
Aceh.

Dan kami pun dibawa ke sebuah gedung yang terlihat sangat berumur. Gedung di 
sebelah kanan itu diberi nama The Huis van Brecht. Nama gedung ini diambilkan 
dari nama keluarga Van Brecht yang pernah tinggal di situ pada abad ke-16. Di 
situlah tiga generasi dari keluarga besar Van Brecht tinggal. Setelah beberapa 
kali renovasi, gedung itu masih tampak kukuh hingga sekarang.

Meskipun kami mengelilingi sebagian area yang luasnya hanya 6.000 meter 
persegi, terasa lama juga karena tampak sekali Mayor Janssen sangat menguasai 
medannya sehingga alur cerita yang runtut menenggelamkan pada kekaguman. 

"Ya, itulah para kadet yang ingin berakhir pekan," tunjuk Janssen, ketika 
melihat seorang kadet keluar dari area akmil dengan sepeda motor Kawasaki Ninja 
yang besar.

Sesaat kemudian seorang kadet perempuan jalan dengan ransel di punggungnya. 
Tegap dan acuh tak acuh. Sempat melirik rombongan kami, tetapi berlalu begitu 
cepat. Di sisi jalan yang lain, terlihat beberapa prajurit perempuan sedang 
berbincang akrab dengan teman lelakinya. Santai saja. Dan, di sisi jalan yang 
lain, beberapa kadet sedang naik sepeda keluar area.

Tujuan Wisata

Pemandangan hari Jumat sore 27 Mei itu memperlihatkan para kadet akan berakhir 
pekan. Ada yang dijemput keluarganya, jalan sendirian atau rombongan. Dalam 
sekejap, area akmil sepi. 

Toh demikian Mayor Janssen tetap saja asyik bercerita. Bahkan dia makin 
antusias, ketika Gubernur Mardiyanto mengaku menjadi tentara karena 
terinspirasi oleh salah seorang pamannya, yakni alm Letjen (Purn) Soekemi yang 
nota bene pernah mengenyam pendidikan militer di Breda ini.

Ups! Ternyata ada juga rombongan lain yang masuk area akmil. 

"Itu wisatawan. Cukup banyak wisatawan yang datang ke sini. Setiap tahun, tidak 
kurang dari 6.000 turis baik lokal maupun mancanegara datang ke sini," turtur 
Janssen, sambil menunjuk rombongan yang sedang dipandu petugas sipil.

Ada bedanya. Tim kecil Gubernur diajak masuk ke seluruh ruang termasuk yang 
biasanya tidak boleh ada orang luar masuk. Di lantai dua, gedung sebelah kanan 
dipajang beberapa senjata tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Ada 
badik, pedang, tombok, dan keris dari Jawa. Logam keris terlihat bersih, 
pertanda memang diberi warangan, dengan ganja emas.

Masa pendidikan di akmil ini sebenarnya hanya 1,5 tahun. Untuk menuju 
spesialisasi membutuhkan lagi waktu sepanjang 2 tahun. Jadi, praktis 3,5 - 4 
tahun lama studinya, atau relatif sama dengan akmil di sini.

Gubernur Mardiyanto sangat terkesan atas bangunan tua yang melingkupi seluruh 
area itu. Tampak rapi, terawat, kukuh, meskipun kesan militernya sangat 
minimal. 

"Ini pelajaran penting bahwa sekolah tentara bisa menerima rombongan wisatawan 
dari luar. Bukan dari keluarga kadet yang kebetulan sekolah di sini," tuturnya.

"Jadi, keberadaan akmil itu tidak terlalu asing bagi lingkungan masyarakat 
sekitarnya. Jawa Tengah memiliki Akmil di Magelang dan Akpol di Semarang. Eh, 
siapa tahu kita bisa mengambil pelajaran dari cara Akmil Breda mengelola 
akademi itu," tuturnya.

Sebuah catatan penting bahwa Akademi Breda ini pernah dipindahkan ke Bandung 
tahun 1940-1942, ketika kastil itu dikuasai oleh Jerman. Tetapi sayang tidak 
banyak informasi yang bisa didapatkan ketika akmil ini dipindah ke Bandung. 
Mungkin masa yang terlalu singkat, sehingga belum bisa membuat sejarah dan 
legenda. (Hendro Basuki-14t) 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke