MEDIA INDONESIA
Rabu, 08 Juni 2005

Bahasa Elite untuk Busung Lapar
Boni Hargens, peneliti di Pusat Kajian Ilmu Politik FISIP UI, Jakarta



MENYAKSIKAN wawancara via telepon Gubernur NTB Lalu Serinata dengan presenter 
MetroTV, Della Chantal Concetta, dalam acara berita siang MetroTV, Kamis 26 Mei 
2005, tentang wabah busung lapar yang telah mengakibatkan sedikitnya tujuh 
orang anak meninggal di Mataram, Nusa Tenggara Barat, cukup mengecewakan. 
Mengecewakan karena sangkalan-sangkalan Gubernur Serinata yang cukup konyol 
mengandung kesan seolah-olah busung lapar itu hanya ilusi, padahal sedikitnya 
sudah tercatat 52 anak terserang busung lapar dan tujuh di antaranya meninggal 
dunia.

''Bisa jadi anak-anaknya yang malas makan sehingga terjadi kekurangan gizi,'' 
ujar sang gubernur dengan meyakinkan. Lantas ketika ditanyakan soal langkah 
pemerintah provinsi dalam menangani bahaya krisis gizi di NTB, Serinata secara 
diplomatis mengelak, ''Kita lihat dulu data dari dinas kesehatan,'' ucapnya 
diplomatis.

Usai menyaksikan wawancara singkat itu, saya merasa seperti usai menonton 
sandiwara. Di satu pihak, media berbicara soal fakta, namun di lain pihak 
politikus mengelak dengan retorika politik yang lihai seolah-olah masalah itu 
hanyalah konstruksi media. Implikasinya, kesengsaraan rakyat sering kali hanya 
menjadi polemik yang ramai dibincangkan dan didebatkan dalam wacana publik 
tanpa adanya solusi yang serius dan komitmen yang teguh dalam menuntaskan 
masalah tersebut. Padahal siapa pun sepakat, bahwa busung lapar adalah fakta 
buruk yang tidak untuk didebatkan, melainkan untuk ditangani secara serius. 
Oleh karena itu, yang dituntut adalah tanggung jawab politik yang serius dari 
pemerintah, bukan retorika politik yang ilusif.

Dulu ketika tersandung skandal Watergate, Presiden Nixon mengeluarkan amanatnya 
untuk rakyat Amerika Serikat pada 30 April 1973. ''Siapa yang harus 
dipersalahkan dalam kasus ini? Buat saya, paling gampang untuk mempersalahkan 
mereka yang kepadanya saya melimpahkah tanggung jawab untuk melaksanakan 
kampanye. Tetapi itu artinya saya pengecut. Dalam organisasi mana pun, pemimpin 
puncak harus memikul tanggung jawab. Demi tanggung jawab itu, termasuk di sini, 
dalam jabatan ini, maka saya menerimanya.'' Nixon adalah cermin sikap seorang 
pejabat negara yang memiliki kesadaran etis atas tanggung jawab jabatannya. 
Tentu saja amat luhur kalau keteladanan itu ditiru oleh para pejabat kita.

Krisis tanggung jawab memang persoalan yang cukup serius di kalangan para elite 
politik kita. Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Ketua KPU Nazaruddin 
Sjamsuddin selalu mengelak untuk bertanggung jawab atas kasus korupsi kolektif 
di KPU meskipun banyak saksi mengaku keterlibatan Ketua KPU dalam hal dana 
taktis sebesar Rp20 miliar.

Implikasi yang paling nyata dari krisis tanggung jawab politik tercermin pada 
sikap pemerintah yang acuh tak acuh dengan kesusahan rakyat, bahkan ada 
tendensi untuk menggampangkan masalah yang rumit. Bantahan Gubernur Serinata 
tentang adanya busung lapar di NTB adalah contoh bahasa politik elite yang 
cenderung menutup-nutupi masalah. Padahal, satu hal yang harus disadari adalah 
hakikat kekuasaan demokratis menuntut adanya komitmen dan tanggung jawab 
politik terhadap rakyat. Suatu bentuk tanggung jawab yang konkret bukan 
tanggung jawab klise, sebab kekuasaan itu bukan sesuatu yang ex-nihilio 
melainkan didaulatkan oleh rakyat. Dengan kata lain, proses menyelenggarakan 
kekuasaan adalah suatu upaya mewujudkan tanggung jawab untuk mengabdi pada 
kebaikan hidup orang banyak.

Sungguh luhur kalau pemerintah NTB tidak membantah, namun dengan rendah hati 
mengaku bahwa busung lapar adalah kenyataan pahit yang menjadi tantangan bagi 
pemerintahan Serinata. Kerendahan hati untuk mengakui adanya masalah tentu 
memudahkan langkah untuk mengatasinya. Sebab, ketika banyak anak diserang 
busung lapar, hal itu tentu bukan karena alasan sepele seperti 'anak malas 
makan'. Jelas bahwa ada alasan yang lebih serius di belakang fakta itu, yang 
barangkali bersifat struktural sehingga pada gilirannya dituntut tanggung jawab 
penuh dari pemerintah dalam menyikapinya.

Amat menggelikan, bagi siapa pun, bahwa Gubernur Serinata justru mensinyalir 
kasus busung lapar karena 'anak malas makan'. Menggelikan dalam dua arti. 
Pertama, alasan itu tidak cukup logis untuk menjelaskan masalah yang 
sesungguhnya. Karena, bagaimana mungkin pada waktu yang bersamaan di tempat 
yang berbeda ada banyak anak yang 'malas makan' lalu nyawanya terenggut? Kedua, 
alasan itu adalah konstruksi bahasa politik elite yang gagal menjadi pelayan 
bagi rakyat. Padahal, pemimpin adalah seorang pelayan yang berkuasa untuk 
mewujudkan kebaikan bagi rakyat banyak.

Hal lain yang mesti disadari, bahwa masalah busung lapar adalah problem 
kemanusiaan, bukan kasus politik sehingga tidak perlu sikapi secara taktis dan 
politis. Maka, Pemprov NTB tidak perlu berpolemik tentang ada atau tidaknya 
busung lapar, tetapi bagaimana menangani masalah itu secara komprehensif. Ada 
kesan bahwa Serinata memandang masalah ini dari sisi politis yang berpotensi 
menurunkan citra dan dukungan publik terhadap kinerja Serinata. Kalau itu yang 
dipikirkan oleh Pemprov NTB, saya kira itu logika elite yang mengerdilkan makna 
politik sebagai instrumen kekuasaan belaka, sebaliknya lupa bahwa politik dan 
kemanusiaan adalah satu-kesatuan yang niscaya. Dengan demikian, yang paling 
diperlukan adalah langkah peduli yang segera bukan polemik atau retorika 
politik.

Untuk itu, ada dua hal yang perlu dilakukan Pemerintah Provinsi NTB. Pertama, 
mendefinisikan situasi secara objektif. Tidak usah 'malu' untuk mengaku bahwa 
memang terjadi musibah busung lapar di NTB. Kedua, merumuskan langkah solusi 
yang strategis dan efektif. Untuk jangka pendek, pemerintah menangani dan 
menanggung biaya perawatan korban; pemerintah juga menjamin kecukupan pangan 
bagi seluruh masyarakat. Kalau pemprov tidak bisa menangani itu sendiri, persis 
di situlah arti penting koordinasi dengan pemerintah pusat. Untuk jangka 
panjang, masalah ini menjadi pelajaran bagi pemerintah agar merumuskan pola 
pendekatan pelayanan yang lebih efektif. Sebab, satu hal yang paling penting 
adalah bahwa rakyat bukan sekadar alat untuk memperoleh kekuasaan melainkan 
sasaran sekaligus tujuan teleologis adanya kekuasaan. Untuk itu, pemerintah 
sedapat mungkin menghindari pemakaian bahasa politik yang elitis dalam 
menyikapi kesusahan rakyat, sebaliknya pemerintah mesti memakai bahasa hati 
nurani yang dengan jernih dan tulus mengabdi pada amanat penderitaan rakyat.***

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke