http://www.indomedia.com/bpost/062005/15/opini/opini1.htm



Mengungkap Pesona DAS Barito
Oleh: Nasrullah

"Saya senang melihat matahari senja yang menghilang di rerimbunan pepohonan," 
kata seorang teman dari Jogja, setelah menikmati sunset di pinggir Sungai 
Barito. Ia mengatakan demikian, mungkin karena terbiasa dengan sunset di Pantai 
Parangtritis. Tapi ia berkilah, pemandangan Sungai Barito tetap menarik.

Sungai Barito merupakan salah satu sungai terbesar dan terpanjang di 
Kalimantan. Menurut Maulani (2000), panjangnya tidak kurang dari 900 kilometer 
(hampir sepanjang pulau Jawa), dapat dilayari sepanjang 300 kilometer ke 
hulunya. Sungai Barito yang panjang tersebut, melewati dua wilayah propinsi 
yakni Kalsel dan Kalteng.

Di sungai yang sedemikian panjang, terdapat berbagai fenomena alam maupun 
masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito. Jika menyusuri Sungai 
Barito dengan perahu, terlihat kondisi perdesaan dan komunitas masyarakat yang 
saling terpencar serta sebagian besar hanya bisa terhubung dengan transportasi 
sungai.

Goerge Junus Aditjondro (2003) menggambarkan permukiman di tepi Sungai Barito, 
Kapuas dan Kahayan: 1) Perkampungan umumnya dibangun di pematang sungai yang 
ada tanjungnya, atau di muara persimpangan dua sungai besar. Pemilihan lokasi 
ini didasarkan pada keadaan tanahnya lebih padat dan keras, dibanding dengan 
tanah rawa yang jauh dari tepi sungai; 2) Perkampungan yang berprofil linier 
dan dibangun sejajar sungai dapat tumbuh memanjang ke hulu atau ke hilir. Atau 
dibangun berbanjar sejajar dengan kampung lama, asal tetap dekat sungai.

Sepanjang DAS Barito, perkampungan penduduk dipisahkan hutan belantara dan 
sampai sekarang jalan darat belum bisa menghubungkan antarperkampungan 
penduduk. Pemandangan umum yang terlihat adalah masyarakat menggunakan 
jukung/klotok sebagai transportasi sungai.

Dari keadaan tersebut, pesona apakah yang terdapat di DAS Barito? Sebab, 
perhatian masyarakat maupun wisatawan pada umumnya terfokus pada kegiatan Pasar 
Terapung di muara Barito. Melayari Sungai Barito hingga ke hulu belum menjadi 
hal menarik, terutama untuk kegiatan perjalanan wisata. Sementara bagi orang 
yang lahir dan dibesarkan di DAS Barito, pemandangan sungai adalah biasa saja. 
Apalagi beberapa bulan lalu, Sungai Barito berlaku tidak ramah. Menenggelamkan 
permukiman penduduk di empat wilayah kabupaten di tepian Barito.

Selain komentar di atas, awal 1990-an ada keluarga membawa orang Bali pulang ke 
kampung. Pendapatnya ternyata sama. Ia mengagumi panorama alam, hutan dan 
kehidupan penduduknya di DAS Barito. Kalau dicermati, komentar demikian justru 
disampaikan dari orang-orang yang tempatnya terkenal sebagai daerah kunjungan 
wisata domestik maupun internasional.

Disadari juga, gambaran tersebut memang tidak bisa dikatakan refresentatif 
untuk mewakili pendapat orang luar. Beberapa waktu lalu, media lokal 
memberitakan komentar orang asing yang kecewa mendapati pemandangan Marabahan. 
Di benak orang asing itu, masih tergambar keramaian bandar perdagangan 
internasional di Kota Marabahan sebagaimana tulisan pelancong di masa silam.

Kini Kota Marabahan sepi, jauh dari gambaran sebelumnya. Ini sungguh tidak 
menguntungkan. Di masa lalu Marabahan sebagai kota di tepi Sungai Barito yang 
ramai sekali, sekarang sebaliknya. Berarti dalam setting yang berbeda, kita 
sebenarnya telah terlempar ke masa lalu, dan jauh sebelum zaman keemasan Kota 
Marabahan tempo dulu.
Reaktualisasi Masa Lalu
Sungai Barito memiliki dua anak sungai yang besar yaitu Sungai Bahan atau 
Nagara dan Sungai Martapura. Di sekitar Sungai Nagara dengan cabangnya Sungai 
Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Amandit dan Amas, bermukim sebagian besar 
penduduk Kalsel. Kota penting di wilayah tersebut antara lain Tanjung, Amuntai, 
Barabai, Kandangan, Rantau dan Negara. Sungai Martapura mengalir melewati kota 
Banjarmasin dan Martapura.

Sementara ke arah hulu (utara), Sungai Barito mempunyai persimpangan ke Kapuas 
dan Palangka Raya. Jika bergerak lurus menyusuri Sungai Barito, akan menemukan 
tiga kota besar sebagai ibukota kabupaten di propinsi Kalteng yakni Buntok, 
Muara Teweh dan Puruk Cahu.

Jauh sebelum berkembang transportasi darat, strategis Sungai Barito 
memungkinkan dua fungsi sungai di masa lalu. Yakni tempat perdagangan dan 
perlawanan Suku Dayak terhadap penjajah, dengan membangun basis perlawanan di 
hulu Barito.

Sekarang ada upaya untuk mereaktualisasinya, ini patut mendapat respon positif 
berbagai pihak. Langkah konkret dilakukan Pemkab Barito Utara, dengan 
mengadakan seminar tenggelamnya Kapal Unrost. Mereka juga mendatangi museum di 
Belanda, mencari data kapal Unrost. Kiranya untuk menarik wisatawan, situs 
Kapal Onrust bisa dijadikan magnet.

Selain tenggelamnya Unrost, masih ada daya tarik DAS Barito. Kita bisa melihat 
tongkang yang mengangkut batu bara, seperti gunung berjalan lalu lalang setiap 
hari di Sungai Barito. Pemandangan indah malam hari, manakala melihat lampu 
minyak yang dinyalakan di ujung rakit. Mirip kunang-kunang pergi berarak di 
atas permukaan air Sungai Barito.

Begitu pula dengan tradisi budaya berbagai etnis di DAS Barito. Kalau di 
Marabahan setiap tahun diadakan Lomba Perahu Naga, di Buntok, Muara Teweh dan 
Puruk Cahu ada upacara adat seperti Wara, Batiwah dan lain-lain. Tentu sangat 
menarik apabila bisa mengelolanya untuk even wisata tahunan, dengan icon Sungai 
Barito.
Pesona Yang Terancam

Di hulu DAS Barito, terdapat aktivitas penebangan hutan dan penambangan emas di 
pinggir sungai. Kalau tidak dikelola dengan baik, hutan menjadi gundul dan 
masyarakat ditimpa banjir tiap tahun. Kemudian efek dari penambangan emas, 
tercemarnya air sungai dengan merkuri membahayakan bagi penduduk yang 
meminumnya. Di sepanjang sungai, permukiman penduduk dan jalan desa mendapat 
ancaman serius, berupa abrasi yang disebabkan ombak kapal angkutan besar.

Kemudian di Muara Barito, air laut merembes ke darat apabila benteng Kalimantan 
yakni hutan mangrove binasa. Semuanya apabila tidak diantisipasi segera, tidak 
hanya pesona DAS Barito yang terancam, tetapi membawa mudharat bagi manusia.

Benarlah yang ditulis Amir Sodikin (Kompas, 21/05) sungai di Kalimantan 
benar-benar fungsional untuk transportasi. Lalu lintas air sungai besar ramai, 
tak ubahnya seperti darat. Tidak hanya perahu kecil, kapal penumpang besar 
hingga tongkang batu bara leluasa di sungai Kalimantan (termasuk Sungai Barito).

Kalisel bahkan membuat pelabuhan untuk angkutan antarpulau, bukan di tepi laut 
melainkan di tepi Sungai Barito. Namun, kejayaan angkutan sungai akan segera 
berakhir. Penyebabnya tidak hanya faktor alam, melainkan lebih pada 
ketidakberdayaan atau mungkin ketidakpahaman pemerintah dalam memandang 
pembangunan.

Jadi, selagi Sungai Barito dan alam sekitarnya masih bisa dikelola, alangkah 
lebih baik kita merawatnya agar keindahannya bisa kita nikmati dan pesonanya 
menarik perhatian masyarakat luar. Bukankah alam tidak akan berkhianat terhadap 
orang yang merawatnya.

Divisi Litbang CRDS Kalimantan tinggal di Banjarmasin e-mail: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke