http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=117872


            Kelaparan dan Ketimpangan Akses Pangan
            Oleh Ahmad Nurhasim 


            Kamis, 11 Agustus 2005
            Kelaparan, wujud dari kemiskinan paling ekstrim di Indonesia tidak 
hanya cerita tanpa fakta. Kelaparan bukan dongeng masa lalu dari nenek moyang 
yang hidup pada masa pergerakan dan revolusi fisik sebelum kemerdekaan 
Indonesia. Tapi sekarang, setelah hampir 60 tahun Indonesia merdeka secara 
politik, kelaparan adalah fakta, kenyataan, dan bukan mimpi atau sekadar cerita 
novel yang gemar mengangkat tema kemiskinan. 

            Baru-baru ini, beberapa media melaporkan munculnya busung lapar di 
Nusa Tenggara Barat (NTB). Atas kasus tersebut, kita semua tidak hanya 
terkejut, tapi juga terheran-heran. Karena NTB berbeda dengan NTT yang beberapa 
bulan lalu menderita kelaparan juga. NTB adalah daerah surplus beras, sama 
seperti pulau Jawa dan Lampung. Namun sampai akhir Mei 2005, terungkap 338 anak 
di NTB mengalami busung lapar (marasmic kwashiorkor), beberapa di antaranya 
meninggal dunia. 

            Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah orang miskin 
Indonesia mencapai 40 juta jiwa. Dengan jumlah total penduduk Indonesia 
sebanyakl 220 juta, jumlah ini mengalami kenaikan 2% dari tahun 2004 yang 
mencapai 36,17 juta. Angka tersebut hanya yang terdata di BPS, belum termasuk 
mereka yang menjadi korban dampak ikutan kenaikan harga barang memyusul 
kenaikan harga BBM yang terus merambah hingga kini. Dengan demikian, sebagian 
warga negara Indonesia tidak hanya berada di bawah garis kemiskinan, tapi lebih 
jauh berada level kemiskinan absolut. Busung lapar di NTB menunjukkan bahwa 
kebutuhan subsisten ternyata belum terpenuhi semua. 

            Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998 kelahiran India, dalam buku 
Poverty and Femine: An Essay on Entitte and Deprivation (1981) menunjukkan 
bahwa kemiskinan yang menjerat beberapa negara Asia dan Afrika adalah buah 
kelalaian negara yang menafikan demokrasi dalam memutar roda perekonomiannya. 

            Dalam berbagai penelitiannya, ia menemukan bahwa bencana kelaparan 
merupakan perwujudan paling ekstrim dari kemiskinan -- tidak melulu disebabkan 
oleh kekurangan pangan. Risetnya di sejumlah negara Asia dan Afrika yang 
dilanda kelaparan menunjukkan, di sana masih cukup tersedia bahan makanan. 
Menurut Sen, bencana itu lebih disebabkan oleh distribusi dan pemerataan yang 
kurang baik. 

            Bencana kelaparan, lanjut Sen, hanya terjadi dalam masyarakat 
otoritarian, negara diktator teknokratis, dalam ekonomi kolonial yang 
dijalankan oleh negara-negara imperialis dari utara dan negara-negara baru 
merdeka di selatan yang dijalankan oleh pemimpin nasional yang despotik atau 
partai tunggal yang tidak toleran. Sebaliknya, kelaparan tidak terwujud di 
negara mana pun yang independen, yang mengadakan pemilihan umum secara teratur, 
yang memiliki partai-partai opisisi untuk menyuarakan kritik dan mengizinkan 
surat kabar untuk membuat laporan secara terbuka dan mempertanyakan pemerintah. 
(Eskpresi XII Juli 2004). 

            Analisis Sen di atas membantu kita bahwa persoalan mendasar 
kelaparan bukan disebabkan kekurangan makanan. Memang betul di Indonesia sudah 
ada lembaga, aturan, dan prosedur demokrasi. Tapi, apakah dengan demikian 
Indonesia sudah demokratis? Adanya lembaga, prosedur, dan aturan demokratis 
belum tentu melahirkan demokrasi. Karena pada kenyataannya, nilai-nilai 
demokrasi seperti kesetaraan, transparansi, akuntabilitas publik, tanggung 
jawab, dan keadilan, justru dibunuh oleh lembaga-lembaga demokrasi itu sendiri 
dengan argumentasi yang demokratis. 

            Dengan dalih otonomi daerah, pemerintah pusat berpikiran bahwa 
kelaparan di daerah menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi atau kabupaten. 
Padahal, pemda atau pemkab, meski sudah mengadopsi otonomi daerah, tetap 
berharap bahwa pemerintah pusat juga bertanggung jawab terhadap persoalan yang 
menyangkut hak dasar hidup warga negara. Karena itu, di sinilah perlu 
dijernihkan bahwa tanggung jawab itu bukan hanya pemerintah daerah/kapubaten, 
tapi juga pemerintah pusat. 

            Demokrasi politik tidak menjamin terjadinya pemerataan 
ekonomi/materiil. Salah satu isu yang sentral sekarang adalah isu kesetaraan 
atau pemerataan. Bagi kaum liberal abad ke-18, kesetaraan diartikan secara 
sempit sebagai kesetaraan di hadapan hukum, atau kesetaraan semua orang untuk 
sama-sama bisa memilih dan berpartisipasi dalam memilih pemimpin politik. 
Tetapi sekarang kita tahu bahwa tanpa kesempatan memperoleh pendidikan dan 
kesempatan menikmati penghasilan yang layak (termasuk terhindar dari 
kelaparan), kesamaan di depan hukum itu hanya omong kosong. 

            Demokrasi politik bisa bebas, tapi ekonomi tidak bisa mengacu pada 
pasar bebas yang memberikan kesempatan kelompok kuat bermodal untuk "mengeruk 
sumber daya alam" dan keuntungan, sementara kelompok miskin hanya menjadi 
penonton/konsumen, atau bahkan korban. Di sinilah, peran sosial negara 
dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan yang tidak bisa diselesaikan warganya. 
Dalam kasus kelaparan, banyak faktor yang memengaruhi: produksi pertanian, baik 
lokal ataupun non-lokal, transportasi yang buruk, ketergantungan pada beras, 
harga beras yang tidak terjangkau oleh masyarakat miskin, dan yang jelas 
minimnya perhatian pemerintah untuk "mengenyangkan" warganya. 

            Justru demokrasi politik yang tidak disertai keadilan ekonomi akan 
makin menyengsarakan rakyat. Sejak reformasi, tampaknya pemerintah mulai 
mengadopsi cara-cara berfikir kaum neoliberal, di mana negara (dan tentu juga 
kebijakkanya) menyerahkan sektor ekonomi kepada sistem pasar bebas. Rezim 
perdagangan internasional menginginkan agar ekonomi diserahkan kepada 
pelaku-pelaku bisnis, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Bahkan 
pemerintah sekarang lebih dekat dengan pemodal dan lembaga donor, daripada 
rakyat. Meski Presiden dan Wakilnya dipilih secara demokratis oleh rakyat, 
kebijakannya lebih memihak kepada lembaga donor. Kenaikan harga BBM adalah 
jeritan dan derita rakyat, tapi tawa dan kegembiraan lembaga-lembaga donor. 

            Benar, kata Amarty Sen, bahwa kelaparan bukan disebabkan oleh 
kekurangan bahan makanan. Tapi disebabkan buruknya distribusi dan pemerataan. 
Dalam kasus busung lapar NTB pernyataan Sen benar. Karena di pulau lain, 
misalnya Jawa, ratusan ribu ton beras tersimpan di gudang-gudang dan Bulog. 
Jika demikian, bukan karena kekurangan beras, tapi tiadanya pemerataan dan 
distribusi yang baik. Di sinilah pemerintah mau tidak mau harus menciptakan 
sistem transportasi dan pemerataan yang baik sampai ke daerah-daerah pedalaman 
yang rawan terancam kelaparan. *** 

            Penulis, mantan Ketua Umum PMII Cabang Yogyakarta.  
     
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hh5cjb4/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123716595/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke