http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=4293

  
     

      Reintegrasi Atau Konsolidasi GAM?
      Oleh Gatut Priyowidodo 
      Oleh admin padek 1 
            Kamis, 11-Agustus-2005, 09:41:54    
     
     
            HELSINKI menjadi saksi bisu putaran kelima perundingan RI-GAM. 
Bahkan menjadi saksi mmonumental ditekennya Nota Kesepahaman (MOU) antar kedua 
belah pihak pada 15 Agustus nanti. Terobosan kebuntuan yang memasuki babakan 
baru.  
     
     
      Empat koridor yang cukup menguntungkan Indonesia yakni masalah Aceh 
adalah masalah domestik, tidak ada internasionalisasi Aceh, pengakuan NKRI dan 
UUD 1945 serta penjabarannya didasarkan pada peraturan perundangan yang 
berlaku, memaksa pihak GAM harus lebih piawai lagi memainkan kartu truf agar 
misi perjuangan mereka terselamatkan. Memecah kebuntuan GAM pun secara sporadis 
tampil dengan usulan partai politik lokal. 

      Meletuplah partai politik lokal menjadi wacana publik yang menghipnotis. 
Belum juga juru runding pulang, semua pihak lekas merespon dengan segala 
kekuatiran plus-minusnya. Ada yang bilang UU No.31/2002 tentang Partai Politik 
harus cepat diamandemen, parpol lokal keniscayaan sejarah, menstimulasi efek 
domino hingga parpol lokal dinilai instrumen kompromistis yang termurah. 

      Opini berseberangan, nyaris hanya lantang disuarakan PDIP. Bukan 
substansinya yang dipersoalkan, tetapi mekanisme perundingan. Dikatakan 
informal tapi keputusannya mengikat seluruh bangsa. Ada ketidakpatuhan prosedur 
konstitusional (Kompas 25/7). 

      Integrasi Baru 

      Muncul pertanyaan, cukup signifikankah 30 tahun konflik berdarah 
dikonversi hanya dengan terkabulnya usulan pendirian parpol lokal di Aceh? 
Telah begitu lemahkah spirit ideologis dan obsesi kemerdekaan Aceh Sumatera 
yang telah diproklamirkan 4 Desember 1976 tersebut? Dimana pula berlabuhnya 
jiwa militansi orang Aceh yang telah gagah perkasa mengusir Portugis tahun 
1520-an dan Belanda (1873-1913)? Dan sederet nada gugat yang lain. 

      Meragukan bahwa semua pertanyaan tersebut tak bakal memperoleh jawaban 
yang tegas, muncul kekuatiran GAM sedang memasang strategi apa lagi? Kekuatiran 
ini wajar. Beberapakali sudah, ketulusan RI untuk berdamai dengan anak 
bangsanya dinodai. Nota 'Saling Pengertian Bagi Jeda Kemanusiaan untuk Aceh' 
yang ditandatangani di Jenewa Mei 2000 ternyata tak banyak manfaatnya. 

      Jeda konflik justru diisi dengan saling baku tembak. Begitu pula tawaran 
otonomi khusus, malah direspon sebaliknya. Termasuk pengusiran warga 
transmigran Jawa dari bumi rencong. Belum cukup sampai di situ baru tiga minggu 
seusai penandatanganan "The Cessation of Hostilities Agreement (COHA)" tanggal 
9 Desember 2002 sudah terjadi 50 insiden yang merugikan RI. 

      Bahkan Komite Keamanan Bersama (JSC) yang dipimpin oleh Mayjen Thanungsak 
Tuvinan dari Thailand dan wakilnya Brigjen Nogomora Lomodag dari Filipina yang 
bertugas untuk memantau pelaksanaan perjanjian itupun tak bisa berbuat banyak. 

      Bercermin atas beberapa fakta empirik tersebut, wajar kiranya 
mempertanyakan jalan peta damai ini sungguhan atau bagian dari strategi 
implementasi "hidden agenda" GAM? Karena penyebab konflik Aceh itu sendiri 
tidak tunggal. Menurut Staffan Bodemar (Conflict in Aceh, Maret 2004) 
sekurangnya ada tiga sebab utama yakni harapan otonomi yang lebih luas, 
membesarnya skala pelanggaran HAM dan faktor sosial ekonomi termasuk korupsi. 

      Jika nyatanya GAM berpikir bahwa ikut Republik jauh lebih baik, tentu 
saja hasil perundingan Helsinki ini menjadi pintu masuk reintegrasi sebagian 
anak bangsa untuk merajut masa depan yang lebih baik. Tragedi tsunami kiranya 
turut menjadi momentum kontemplasi paling historis bahwa bersatu itu tetap 
lebih baik. 

      Konsolidasi GAM 

      Postulasi klasik partai politik adalah kekuasaan. Hampir tak ada partai 
politik didirikan tanpa berorientasi kekuasaan. Sementara muara kekuasaan 
adalah dominasi birokrasi. Melalui penguasan birokrasi lokal diharapkan bakal 
mempermudah terjadinya konsolidasi organisasi. Tak-tik perjuangan ini juga 
selaras dengan implementasi otonomi khusus Aceh. 

      Maka, Jakarta harus lebih seksama melihat perkembangan di lapangan. 
Konversi bahwa setiap penarikan 50 ribu pasukan TNI akan diimbangi dengan 
penyerahan 5000 pucuk senjata milisi, pengakuan GAM bahwa Aceh bagian dari NKRI 
dan tidak menuntut referendum, mesti hati-hati disikapi. Adakah jaminan yang 
bisa dipertaruhkan? Pemerintah harus tegas dan jelas mendudukan soal ini, agar 
kelak tidak terjadi kerumitan baru. 

      Tentang persyaratan diberi keleluasaan pemantau Uni Eropa dan media asing 
meliput, untuk apa? Jika GAM sudah mengakui NKRI, Aceh adalah integral bagian 
Indonesia. Maka, percayalah pemerintah Indonesia juga akan berpikir untuk 
memakmurkan Aceh, sama derajatnya dengan upaya pemerintah memakmurkan 
daerah-daerah lain. 

      Jika rakyat bumi Rencong banyak yang miskin, terbelakang di daerah 
lainpun hal serupa masih banyak ditemukan. Aceh tidak sendiri. Maka jika 
kebobrokan seperti itu harus diketahui pihak luar sebagai tidak adanya 
perhatian pihak Indonesia pasca kesepakatan damai rasanya juga tidak adil. 

      Terobosan damai konflik Aceh, harus ditempatkan dalam perspektif yang 
holistik dan konprehensif. 

      Berlakunya otonomi khusus, syariat Islam dan tuntutan parpol lokal yang 
berbasis di Aceh kiranya disemangati kerinduan bersama untuk menciptakan rasa 
damai yang permanen. 

      Jangan sampai justru setelah partai lokal dibentuk, birokrasi 
kabupaten/kota dikuasai. Jaringan GAM semakin terkonsolidasi, tuntutan 
proklamasi Aceh merdeka dikumandankan lagi. Jika itu yang terjadi TNI tidak ada 
pilihan lain kecuali berkata, game is over bung. Let's play the gun...! 

      *Penulis adalah dosen FISIPOL Univ. Ekasakti dan Direktur Humanity and 
Social Community Studies (HSCS) Padang. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hun5q04/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123717222/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke