Suryadi Sunuri mengirim link ini ke "Palanta R@ntauNet"

http://www.merdeka.com/khas/berhaji-dan-berumrah-berulang-kali-pengabdi-setan-wawancara-ali-mustafa-y-2.html

Saya kutip:

"Yang jelas, mal berhasil menyedot jamaah banyak ke masjid menjadi banyak ke 
mal. Apalagi mal ada di depan masjid, sekalian. Ini bukan karena malnya. Ini 
karena faktor konsumtif. Perilaku itu membuat orang lebih banyak ke mal 
ketimbang ke masjid."


--
Jumat, 24 Agustus 2012 07:29:00 Berhaji dan berumrah berulang kali pengabdi 
setan Reporter : Islahudin
Berhaji dan berumrah berulang kali pengabdi setan
Mekkah (Shutterstock/ayazad)

Tidak hanya pindah ke pusat-pusat belanja, kalangan atas gandrung berumrah saat 
Ramadan hingga tembus Lebaran, meski ibadah itu sudah berkali-kali dilakoni. 
Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Ali Mustafa Yaqub, Nabi Muhammad 
tidak pernah mencontohkan hal itu. Dia menegaskan bolak balik berhaji dan 
berumrah adalah salah satu produk konsumerisme berbungkus ibadah.

Berikut penuturan Ali Mustafa Yaqub saat ditemui Islahuddin dari merdeka.com di 
rumahnya, belakang Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam 
Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (16/8) siang.

Apa masjid kalah bersaing dengan mal di Jakarta?

Saya tidak mengenal kata bersaing. Yang jelas, mal berhasil menyedot jamaah 
banyak ke masjid menjadi banyak ke mal. Apalagi mal ada di depan masjid, 
sekalian. Ini bukan karena malnya. Ini karena faktor konsumtif. Perilaku itu 
membuat orang lebih banyak ke mal ketimbang ke masjid.

Bagi sosiolog, perubahan perilaku ini sangat menarik untuk diteliti. Lebih 
parah lagi, konsumerisme itu ada yang dibungkus dalam bentuk ibadah. Misal 
bentuknya umrah saat Ramadan. Pada 2009, ada 3,6 juta orang umrah ke Makkah. 
Sekarang mungkin sekitar empat juta orang. Dari jumlah itu, kalau per orang 
dikenai biaya dua ribu dolar, jumlah uangnya ada delapan miliar.

Jumlah itu terbuang hanya untuk hal-hal tidak wajib dan itu tidak pernah 
dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau itu itu wajib mungkin wajar, demikian juga 
kalau pernah dicontohkan oleh Rasullah, itu tidak masalah. Rasulullah saja 
tidak pernah mencontohkan pergi umrah saat Ramadan. Saya juga tidak tahu 
bagaimana pergeseran yang mulanya infak itu hingga menjadi umrah saat Ramadan.

Sekarang banyak masjid membuat brosur Ramadan memasukkan umrah itu sebagai amal 
ibadah Ramadan. Padahal umrah itu tidak ada kaitannya dengan Ramadan. Di luar 
Ramadan boleh seperti itu. Tapi memasukkan umrah sebagai amaliyah Ramadan itu 
sudah punya tujuan lain. Mungkin saja pengurus masjid ingin menjaring jamaah 
agar dia bisa gratis ke sana. Ini bergesernya pelan-pelan, tidak terasa.

Seperti apa peran ulama dalam hal ini?

Ulama saja jadi korban konsumerisme karena ulamanya tidak mau mempelajari 
hadis, bagaimana perilaku Rasulullah pada Ramadan. Maka yang penting senang 
pergi ke Makkah. Bagaimana tidak senang, dia dan istrinya bisa gratis kalau 
dapat jamaah banyak. Bagaimana tidak senang seperti itu. Maka jamaahnya dirayu 
untuk pergi umrah saat Ramadan.

Bagaimana dengan teladan dari ulama?

Siapa diteladani kalau dia tidak pernah membaca hadis perilaku nabi. Tidak 
pernah baca hadis dan syirah. Itulah kendalanya dan akhirnya dia menjadi korban 
konsumerisme, bahkan ikut terlibat membikin konsumerisme.

Apakah ada pihak membahas hal ini setiap selesai Ramadan?

Setahu saya tidak pernah ada. Siapa mau mengevaluasi. Saya yakin tidak ada. 
Yang bicara seperti ini juga tidak ada selain saya. Saya punya keinginan kita 
kembali mengikuti perilaku nabi patut kita contoh. Bagaimana beribadah saat 
Ramadan, bukan mengumbar nafsu seperti itu. Selain itu agar infaknya lebih 
digalakkan saat Ramadan. Di bulan lain beliau dermawan, bahkan dilukiskan 
kedermawanan beliau saat Ramadan itu seperti angin kencang. Kalau sekarang 
tidak, umat muslim lebih senang umrah saat Ramadan.

Mungkin yang umrah saat Ramadan itu merasa tenang batinnya?

Bukan ketenangan batin, tapi kesenangan batin. Kalau ketenangan bisa dengan 
qiyamul lail di Masjid Istiqlal di malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan. 
Coba Anda baca Republika kemarin ada orang-orang mengikuti kegiatan itu dan 
mendapatkan ketenangan. Bukan malah ke Makkah. Itu tidak mendapatkan 
ketenangan, tapi kesenangan.

Makanya diperlukan sekarang adalah ulama-ulama bisa memberikan keteladanan. 
Dari mana sumber keteladanan itu, ya mengikuti perilaku Rasulullah. Kalau 
sekarang mengikuti perilaku nafsu dan itu ironis sekali di bulan Ramadan. 
Mestinya mengekang nafsu, malah mengumbar nafsu.

Saat saya berkunjung ke masjid Sunda Kelapa pada Ramadan, ada orang mendekati 
saya dan bilang, "Pak Ustad, saya baru pulang dari Makkah." Saya langsung 
balas, "Saya tidak tanya." Dikira ke Makkah saat Ramadan itu bagus. Kalau itu 
bagus, Rasulullah akan mencontohkan itu. Bila perlu setiap hari akan umrah, 
bila itu bagus. Yang dicontohkan Rasul justru berinfak sebanyak-banyaknya. 
Hingga kemudian infak itu dibelokkan ke perilaku konsumtif. Akhirnya yang 
menonjol konsumtifnya, bukan infaknya.

Menurunnya kedermawanan ini apa juga dipengaruhi oleh turunnya ekonomi negara?

Kalau itu dijadikan parameter mungkin orang tidak akan berbondong-bondong 
umrah. Anda coba tanya ke Kedutaan Besar Arab Saudi yang umrah dari Indonesia 
saat Ramadan berapa orang? Kedutaan Arab Saudi mengeluarkan visa pasti sebelum 
Ramadan. Kalau di luar Ramadan saya pernah diberitahu rata-rata 7.500 orang. 
Itu dari jumlah stempel paspor umrah diberikan

Kalau faktor ekonomi masalahnya, tentu tidak banyak yang pergi umrah. Ini 
faktor konsumerisme dibungkus dengan ibadah.

Kenapa itu jarang terdengar?

Saya kadang banyak mengecam. Saya menulis buku Haji Pengabdi Setan, maksudnya 
untuk orang berhaji ulang. Itu niatnya ikut siapa, sementara kondisi negara 
masih terpuruk. Indonesia kalau mengikuti indikator PBB, masih ada 117 juta 
orang miskin. Nabi berkata, "Tidak beriman orang pada malam perutnya kenyang, 
sedangkan tetangganya kelaparan." Berapa juta orang Indonesia masih kelaparan.

Saya tanyakan kepada ustad-ustad yang merekomendasikan haji ulang atau umrah 
itu. Tidak bisa menjawab, malah dia larut dalam arus konsumerisme itu. Melihat 
hal ini, perlu ada revolusi moral. Saya kadang merasa sendirian dalam 
memberitahukan hal ini. Saya sering mengatakan berhaji ulang itu rugi. Saya 
katakan itu dilawan banyak kalangan dan bilang, "Berhaji kok rugi."

Coba bandingkan biayanya itu untuk infak sebanyak-banyaknya. Padahal nanti itu 
jelas ganjarannya, surga bersama nabi. Kita menyantuni anak yatim, jaminannya 
surga bersama nabi dalam satu kompleks. Coba berhaji, itu kalau mabrur. Itu pun 
surganya kelas dek, kelas ekonomi.

Ini lebih kepada yang berhaji ulang. Menurut saya, itu bermasalah, sementara 
kewajibannya masih banyak. Kewajiban itu tidak hanya ibadah, kewajiban sosial 
juga banyak sekali. Tapi pura-pura buta saja.

Siapa yang diikuti untuk berhaji ulang. Mana ada ayat Alquran dan hadis 
menyuruh berhaji ulang, sementara kewajiban sosial lain masih banyak. Mau 
mengikuti Rasulullah, sebutkan hadis yang menyatakan itu, tidak ada, maka kamu 
hanya mengikuti bisikan dan keinginan nafsu. Meski begitu masih banyak 
alasannya, ada yang bilang masih belum puas. Saya katakan, sejuta kali kamu 
berhaji, tetap kamu belum puas. Setan masuknya dari situ kok. Ada yang bilang 
masih belum sempurna, terus dan terus naik haji. Makanya itulah yang disebut 
sebagai haji pengabdi setan.

Mulanya mendengar itu, banyak yang menentang, tapi setelah membaca dan memahami 
yang saya maksud, banyak juga yang mendukung. Opini itu pertama kali saya tulis 
di Majalah Gatra. Ada Kiai dari Jawa Timur dikasih orang untuk membaca itu dan 
berkomentar, "Ini apa-apaan, haji penyembah setan." Sama orang yang memberi 
opini itu disuruh baca buku saya tentang hal itu, dia bilang, "Pak Kiai, 
komentarnya nanti saja setelah baca buku ini." Setalah baca buku itu, dia 
langsung bilang, "Ini yang saya cari, ayo disalin seratus, bagi ke ulama-ulama 
Jawa Timur."

Ini saya amati tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di seluruh negara yang 
ada penduduk muslimnya. Di Amerika juga begitu. Pada 2007 saya di Amerika, 
acara televisi di sana penuh iklan umrah dan haji, bahkan ada koran khusus 
iklan dibagikan gratis. Koran itu isinya penuh iklan, terutama iklan haji dan 
umrah. Itulah yang yang diteliti Walter Armbrust, hal itu terjadi bukan hanya 
di negara-negara Islam, tapi di negara-negara yang ada orang Islamnya. Itu 
gencar sekali.

Mestinya masjid juga menjadi sumber kesejahteraan bagi orang miskin?

Mungkin itu ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Paling diberi makan sahur dan 
berbuka, itu sedikit. Tapi untuk menuntaskan kemiskinan mereka tidak ada 
program seperti itu.
(fas)


print | close




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke