Teladan nabi itu kan piara bini sebanyak2nya, ngembatin bini2nya semalaman, termasuk bini anak ingusan yg 2x diembat lbh sering dibandingkan dng yg lain, lalu pergi ngerampok dan malak.
>________________________________ > From: Bukan Pedanda <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Wednesday, September 5, 2012 2:02 AM >Subject: [proletar] Merdeka: Berhaji dan berumrah berulang kali pengabdi setan > > > > >Suryadi Sunuri mengirim link ini ke "Palanta R@ntauNet" > >http://www.merdeka.com/khas/berhaji-dan-berumrah-berulang-kali-pengabdi-setan-wawancara-ali-mustafa-y-2.html > >Saya kutip: > >"Yang jelas, mal berhasil menyedot jamaah banyak ke masjid menjadi banyak ke >mal. Apalagi mal ada di depan masjid, sekalian. Ini bukan karena malnya. Ini >karena faktor konsumtif. Perilaku itu membuat orang lebih banyak ke mal >ketimbang ke masjid." > >-- >Jumat, 24 Agustus 2012 07:29:00 Berhaji dan berumrah berulang kali pengabdi >setan Reporter : Islahudin >Berhaji dan berumrah berulang kali pengabdi setan >Mekkah (Shutterstock/ayazad) > >Tidak hanya pindah ke pusat-pusat belanja, kalangan atas gandrung berumrah >saat Ramadan hingga tembus Lebaran, meski ibadah itu sudah berkali-kali >dilakoni. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Ali Mustafa Yaqub, Nabi >Muhammad tidak pernah mencontohkan hal itu. Dia menegaskan bolak balik berhaji >dan berumrah adalah salah satu produk konsumerisme berbungkus ibadah. > >Berikut penuturan Ali Mustafa Yaqub saat ditemui Islahuddin dari merdeka.com >di rumahnya, belakang Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam >Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (16/8) siang. > >Apa masjid kalah bersaing dengan mal di Jakarta? > >Saya tidak mengenal kata bersaing. Yang jelas, mal berhasil menyedot jamaah >banyak ke masjid menjadi banyak ke mal. Apalagi mal ada di depan masjid, >sekalian. Ini bukan karena malnya. Ini karena faktor konsumtif. Perilaku itu >membuat orang lebih banyak ke mal ketimbang ke masjid. > >Bagi sosiolog, perubahan perilaku ini sangat menarik untuk diteliti. Lebih >parah lagi, konsumerisme itu ada yang dibungkus dalam bentuk ibadah. Misal >bentuknya umrah saat Ramadan. Pada 2009, ada 3,6 juta orang umrah ke Makkah. >Sekarang mungkin sekitar empat juta orang. Dari jumlah itu, kalau per orang >dikenai biaya dua ribu dolar, jumlah uangnya ada delapan miliar. > >Jumlah itu terbuang hanya untuk hal-hal tidak wajib dan itu tidak pernah >dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau itu itu wajib mungkin wajar, demikian juga >kalau pernah dicontohkan oleh Rasullah, itu tidak masalah. Rasulullah saja >tidak pernah mencontohkan pergi umrah saat Ramadan. Saya juga tidak tahu >bagaimana pergeseran yang mulanya infak itu hingga menjadi umrah saat Ramadan. > >Sekarang banyak masjid membuat brosur Ramadan memasukkan umrah itu sebagai >amal ibadah Ramadan. Padahal umrah itu tidak ada kaitannya dengan Ramadan. Di >luar Ramadan boleh seperti itu. Tapi memasukkan umrah sebagai amaliyah Ramadan >itu sudah punya tujuan lain. Mungkin saja pengurus masjid ingin menjaring >jamaah agar dia bisa gratis ke sana. Ini bergesernya pelan-pelan, tidak terasa. > >Seperti apa peran ulama dalam hal ini? > >Ulama saja jadi korban konsumerisme karena ulamanya tidak mau mempelajari >hadis, bagaimana perilaku Rasulullah pada Ramadan. Maka yang penting senang >pergi ke Makkah. Bagaimana tidak senang, dia dan istrinya bisa gratis kalau >dapat jamaah banyak. Bagaimana tidak senang seperti itu. Maka jamaahnya dirayu >untuk pergi umrah saat Ramadan. > >Bagaimana dengan teladan dari ulama? > >Siapa diteladani kalau dia tidak pernah membaca hadis perilaku nabi. Tidak >pernah baca hadis dan syirah. Itulah kendalanya dan akhirnya dia menjadi >korban konsumerisme, bahkan ikut terlibat membikin konsumerisme. > >Apakah ada pihak membahas hal ini setiap selesai Ramadan? > >Setahu saya tidak pernah ada. Siapa mau mengevaluasi. Saya yakin tidak ada. >Yang bicara seperti ini juga tidak ada selain saya. Saya punya keinginan kita >kembali mengikuti perilaku nabi patut kita contoh. Bagaimana beribadah saat >Ramadan, bukan mengumbar nafsu seperti itu. Selain itu agar infaknya lebih >digalakkan saat Ramadan. Di bulan lain beliau dermawan, bahkan dilukiskan >kedermawanan beliau saat Ramadan itu seperti angin kencang. Kalau sekarang >tidak, umat muslim lebih senang umrah saat Ramadan. > >Mungkin yang umrah saat Ramadan itu merasa tenang batinnya? > >Bukan ketenangan batin, tapi kesenangan batin. Kalau ketenangan bisa dengan >qiyamul lail di Masjid Istiqlal di malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan. >Coba Anda baca Republika kemarin ada orang-orang mengikuti kegiatan itu dan >mendapatkan ketenangan. Bukan malah ke Makkah. Itu tidak mendapatkan >ketenangan, tapi kesenangan. > >Makanya diperlukan sekarang adalah ulama-ulama bisa memberikan keteladanan. >Dari mana sumber keteladanan itu, ya mengikuti perilaku Rasulullah. Kalau >sekarang mengikuti perilaku nafsu dan itu ironis sekali di bulan Ramadan. >Mestinya mengekang nafsu, malah mengumbar nafsu. > >Saat saya berkunjung ke masjid Sunda Kelapa pada Ramadan, ada orang mendekati >saya dan bilang, "Pak Ustad, saya baru pulang dari Makkah." Saya langsung >balas, "Saya tidak tanya." Dikira ke Makkah saat Ramadan itu bagus. Kalau itu >bagus, Rasulullah akan mencontohkan itu. Bila perlu setiap hari akan umrah, >bila itu bagus. Yang dicontohkan Rasul justru berinfak sebanyak-banyaknya. >Hingga kemudian infak itu dibelokkan ke perilaku konsumtif. Akhirnya yang >menonjol konsumtifnya, bukan infaknya. > >Menurunnya kedermawanan ini apa juga dipengaruhi oleh turunnya ekonomi negara? > >Kalau itu dijadikan parameter mungkin orang tidak akan berbondong-bondong >umrah. Anda coba tanya ke Kedutaan Besar Arab Saudi yang umrah dari Indonesia >saat Ramadan berapa orang? Kedutaan Arab Saudi mengeluarkan visa pasti sebelum >Ramadan. Kalau di luar Ramadan saya pernah diberitahu rata-rata 7.500 orang. >Itu dari jumlah stempel paspor umrah diberikan > >Kalau faktor ekonomi masalahnya, tentu tidak banyak yang pergi umrah. Ini >faktor konsumerisme dibungkus dengan ibadah. > >Kenapa itu jarang terdengar? > >Saya kadang banyak mengecam. Saya menulis buku Haji Pengabdi Setan, maksudnya >untuk orang berhaji ulang. Itu niatnya ikut siapa, sementara kondisi negara >masih terpuruk. Indonesia kalau mengikuti indikator PBB, masih ada 117 juta >orang miskin. Nabi berkata, "Tidak beriman orang pada malam perutnya kenyang, >sedangkan tetangganya kelaparan." Berapa juta orang Indonesia masih kelaparan. > >Saya tanyakan kepada ustad-ustad yang merekomendasikan haji ulang atau umrah >itu. Tidak bisa menjawab, malah dia larut dalam arus konsumerisme itu. Melihat >hal ini, perlu ada revolusi moral. Saya kadang merasa sendirian dalam >memberitahukan hal ini. Saya sering mengatakan berhaji ulang itu rugi. Saya >katakan itu dilawan banyak kalangan dan bilang, "Berhaji kok rugi." > >Coba bandingkan biayanya itu untuk infak sebanyak-banyaknya. Padahal nanti itu >jelas ganjarannya, surga bersama nabi. Kita menyantuni anak yatim, jaminannya >surga bersama nabi dalam satu kompleks. Coba berhaji, itu kalau mabrur. Itu >pun surganya kelas dek, kelas ekonomi. > >Ini lebih kepada yang berhaji ulang. Menurut saya, itu bermasalah, sementara >kewajibannya masih banyak. Kewajiban itu tidak hanya ibadah, kewajiban sosial >juga banyak sekali. Tapi pura-pura buta saja. > >Siapa yang diikuti untuk berhaji ulang. Mana ada ayat Alquran dan hadis >menyuruh berhaji ulang, sementara kewajiban sosial lain masih banyak. Mau >mengikuti Rasulullah, sebutkan hadis yang menyatakan itu, tidak ada, maka kamu >hanya mengikuti bisikan dan keinginan nafsu. Meski begitu masih banyak >alasannya, ada yang bilang masih belum puas. Saya katakan, sejuta kali kamu >berhaji, tetap kamu belum puas. Setan masuknya dari situ kok. Ada yang bilang >masih belum sempurna, terus dan terus naik haji. Makanya itulah yang disebut >sebagai haji pengabdi setan. > >Mulanya mendengar itu, banyak yang menentang, tapi setelah membaca dan >memahami yang saya maksud, banyak juga yang mendukung. Opini itu pertama kali >saya tulis di Majalah Gatra. Ada Kiai dari Jawa Timur dikasih orang untuk >membaca itu dan berkomentar, "Ini apa-apaan, haji penyembah setan." Sama orang >yang memberi opini itu disuruh baca buku saya tentang hal itu, dia bilang, >"Pak Kiai, komentarnya nanti saja setelah baca buku ini." Setalah baca buku >itu, dia langsung bilang, "Ini yang saya cari, ayo disalin seratus, bagi ke >ulama-ulama Jawa Timur." > >Ini saya amati tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di seluruh negara yang >ada penduduk muslimnya. Di Amerika juga begitu. Pada 2007 saya di Amerika, >acara televisi di sana penuh iklan umrah dan haji, bahkan ada koran khusus >iklan dibagikan gratis. Koran itu isinya penuh iklan, terutama iklan haji dan >umrah. Itulah yang yang diteliti Walter Armbrust, hal itu terjadi bukan hanya >di negara-negara Islam, tapi di negara-negara yang ada orang Islamnya. Itu >gencar sekali. > >Mestinya masjid juga menjadi sumber kesejahteraan bagi orang miskin? > >Mungkin itu ada, tapi jumlahnya sangat sedikit. Paling diberi makan sahur dan >berbuka, itu sedikit. Tapi untuk menuntaskan kemiskinan mereka tidak ada >program seperti itu. >(fas) > >print | close > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
