Rasa tenang dan nyaman itu bisa saya capai, antara lain, ketika saya duduk disebuah cafe kecil, sembari menunggu "urang rumah" nilpon orang tuanya di negeri Belanda, di Plain Abraham dimusim rontok di kota Quebec, ketika daun-daun pepohonan berwarna-warni yanag duh indahnya, sembari melihat beberapa bocah menari dikejauhan sementara loudspeaker mamancarkan Symphony Bethoven no 9..
Atau ketika saya jogging dimusim dingin yang bersalju, melihat pepohonan dan perahu diliputi salju di Schelpenkade.. Atau ketika kami jalan-jalan sambil berpegangan pinggul di tepi kanal dimusim rontok yang berkabut. Banyak kok kesempatan untuk merasakan kenikmatan dan ketenangan diluar kuil, gereja atau mesjid. Dan nggak heran memang di negeri Belanda gereja itu udah pada kosong, atau dijadikan fitness-center. --- In [email protected], "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@...> wrote: > > rasa tenang kayak gitu pernah saya dapatkan juga saat saya ikut sembahyang > sama para penganut budha. di palembang. > > mulanya nddak sengaja, mau ada keperluan ajah, eh. . . lagi pada aayik > rupanya, ya udah deh ikutan . . . > > oooommmmmmm. . . > ooommmmmmm. . . . > > ketika itu diucap bareng bareng sambil nutup mata dengan suara lembut. > weleh. . . . . ada perasaan yang tak bisa dijelasin sama kata kata. > > dan . . . > > telimga ini sempet mau copot saat di hari yang lain dwnger suara adzan > bersahutan adu kenceng, balapan, dilantunkan tanpa seni, tanpa nyawa, tanpa > penjiwaan. . . jauh dari merdu . . . > > suasana "religius" juga sering saya dapetin di rumah mey mey, mantan pacar > sayah yang ruang keluarganya sering terhirup wangi dupa . . . > > asyik dan ikut khuayu kalau saya pas kebetulan lihat si oma lagi sembahyang > sambil ngacung ngacung hio di depan photo leluhur dengan beberapa buah buahan > dan sajian di atas meja . . . oma berdoa terlihat nikmat, khusyu . . . > > jadi . . . > > kalau tiba tiba ada islam dwbil yang merusak vihara, ngelempar gereja, atau > nge bom patung karena dianggap berhala, saya teh sula keseeelllll. . . > > karena apan coba lihat ke sekwliling . . . mereka yang mengangkat dupa atawa > nyembah yesus apanan banyak yang jauh lebih bijak, santun, sopan dalam > keseharian. > > --- In [email protected], "suryana" <gsuryana@> wrote: > > > > From: "Habe Proletar" <proletar4@> > > > > tapi yang jelas gue merasakan ketenangan, ketenangan yang sama seperti > > ketika gue masuk gereja di Arkansas atau kuil shinto di Jepang kemarin , > > ini > > mungkin cuma efek samping suasana. > > +++ > > Idem dong bila aku masuk ke gereja, maupun klenteng di hari biasa ( > > klenteng > > di hari raya terlalu sumpek oleh umat, apalagi pasang dupa, jadi nangis > > saking tebalnya ntu asap dupa ). > > Dulu aku suka masuk mushola, bawaannya adem, tentram, dan paling asoy > > mendengar suara azan subuh, 1 kota hanya ada 1 speaker jadi mendengarnya > > sungguh beda dengan mendengar musik, hanya sekarang mushola juga pakai TOA, > > dan yg baca azan saling adu cepat, beneran rusak suaranya. > > > > Di Masjid raya Bogor didekat statsiun termasuk enak didengar, setelah > > nanya, > > ternyata yg baca nya dibayar, ide bagus dari pada sembarang orang main > > tarik > > suara dan suaranya fals pula. > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
