MEDIA INDONESIA
Kamis, 08 Desember 2005



Memahami Politik Keamanan Presiden Yudhoyono
Adrianus Meliala, advisor pada Partnership for Governance Reform in Indonesia, 
Kriminolog UI



SUATU hal yang menarik diperhatikan dari kepemimpinan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono setelah setahun berkuasa adalah tidak diperlakukannya sektor keamanan 
secara mencolok dan memberi prioritas dibanding sektor-sektor lain. Hal ini 
pernah menjadi sumber kekhawatiran mengingat latar belakang Yudhoyono adalah 
militer, di samping juga masih belang-bonteng-nya situasi sektor keamanan itu 
sendiri.

Mungkin, menjadi salah satu konsekuensi pula akhirnya, apabila di balik 
ramai-ramai reshuffle kabinet, tidak terlalu banyak pihak yang mengangkat 
perlunya mengganti Menko Polkam, Menteri Pertahanan, Kepala BIN, atau bahkan 
Panglima TNI.

Beberapa contoh
Sebagai contoh, terkait kepolisian, presiden tampak tidak terburu-buru 
mengesahkan Komisi Kepolisian Nasional betapa pun nama kedua belas calon telah 
diusulkan oleh Polri awal Juli lalu. Demikian pula terkait proses seleksi 
anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), dilakukan dengan kecepatan 
normal saja.

Yang lebih mencolok adalah penggantian Panglima TNI, Jenderal Endriartono 
Sutarto. Walau sudah diwacanakan sejak masa pemerintahan Megawati, hingga kini 
tak kunjung terealisasi. Ketika Yudhoyono tampak menunggu tibanya masa pensiun 
mantan KSAD Ryamizard Ryacudu (sebagai calon paling senior untuk jabatan 
Panglima TNI) sebelum mengganti Endriartono, tidak ada yang menyodok hal itu 
sebagai permainan politik Yudhoyono.

Terkait beberapa masalah keamanan akhir-akhir ini, Presiden Yudhoyono (termasuk 
pula Jusuf Kalla) sebenarnya memberikan reaksi yang tidak konsisten. Apabila 
Yudhoyono memberi respons segera terhadap langkah sebagian kecil anggota 
Kongres AS yang menyetujui pemisahan Papua dari NKRI, tidak demikian halnya 
terhadap konflik-konflik lokal yang begitu marak di seputar pilkada.

Yudhoyono bisa cukup cepat memenuhi permintaan kepolisian guna memeriksa 
bupati-bupati dan anggota DPRD yang disangka korupsi, tetapi terkait kasus 
Gubernur Lampung (ketika MA tidak mengesahkan pencopotan Gubernur Alzier 
Dianis) yang sudah mulai mengganggu keamanan setempat, pemerintah seperti sakit 
gigi. Demikian pula saat menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi 
Departemen Pertahanan terkait bujet, suku cadang alat utama sistem senjata 
(alutsista), pemekaran organisasi TNI maupun legislasi terkait pertahanan yang 
masih tumpang-tindih, presiden juga tidak bersuara khusus.

Meskipun demikian, tercatat pula beberapa hal yang Presiden Yudhoyono melakukan 
tindakan cepat. Misalnya, ketika terjadi pembunuhan terhadap aktivis Munir, 
Presiden responsif terhadap permintaan membentuk tim pencari fakta. Insiden 
Ambalat juga lalu direspons dengan kunjungan Presiden Yudhoyono, bahkan hingga 
bermalam di kapal perang. Hal ini oleh sementara kalangan dianggap sebagai 
prematur. Lalu, segera setelah Menteri Kehutanan, MS Kaban, melambung ke 
presiden terkait maraknya praktik illegal logging, dikeluarkanlah keppres 
tentang Operasi Hutan Lestari I dan II.

Selain itu, terdapat pula kebijakan pemerintah yang tampaknya telah menjadi 
agenda sejak awal dia berkuasa. Sebagai contoh, upaya pemerintah melakukan 
perundingan dengan GAM di Helsinki, Finlandia, tampak terkait dengan harapan 
pemerintah mengurangi beban anggaran apabila operasi militer di Aceh 
dilanjutkan terus. Contoh lain, pelantikan Sutanto sebagai Kapolri yang 
tampaknya telah dibidik sejak Yudhoyono belum menjadi presiden, dan bukan 
pertama-tama karena judi sudah tidak terkendali. Pembentukan Timtas Tipikor 
juga dapat dilihat sebagai upaya Yudhoyono mempertegas corak kepemimpinannya 
yang antikorupsi. Sejalan dengan itu kita juga bisa melihat respons yang cepat 
saat Polri berhasil membongkar jaringan teroris dan juga pabrik ekstasi ketiga 
terbesar di dunia baru-baru ini.

Beberapa analisis

Dalam rangka memahami kebijakan Presiden Yudhoyono terkait sektor keamanan 
tersebut, beberapa analisis bisa diajukan:

Pertama, ada kemungkinan presiden menyadari karakter sektor keamanan yang amat 
politis dan strategis. Segala perubahan terkait sektor ini tidak bisa dilihat 
atau berimplikasi secara parsial, namun mencakup politik makro. Dalam kaitan 
itu, tampaknya pemerintah belum siap dengan visi jangka pendek dan menengah 
menyangkut, misalnya, peran TNI yang seyogianya makin terbatas, tentang 
kontroversi isu hankam, tentang profil dan postur pertahanan, tentang 
pengendalian intelijen, tentang sumber dan bentuk konflik lokal, tentang 
ancaman keamanan regional dan sebagainya. Jika menyangkut visi saja tidak siap, 
bisa dibayangkan ketidaksiapan tentang implikasinya.

Kedua, Yudhoyono tampaknya juga menghindari kesan pemerintahannya 
'mengobok-obok' institusi-institusi keamanan. Pada saat kecenderungan yang ada 
adalah meminta institusi keamanan menerapkan good governance (yang dapat 
diinterpretasikan sebagai harapan guna menjadi lebih efisien, efektif, 
akuntabel, menjauhi diskriminasi dan lain sebagainya), akan gampang muncul 
pelintiran berupa persepsi 'Yudhoyono anti-TNI' atau yang lain. Walau sebagai 
presiden terpilih Yudhoyono masih memiliki modal politik besar, namun ada 
kemungkinan dia tengah mengikuti jejak banyak negarawan untuk tetap 
mengandalkan dukungan lembaga-lembaga keamanan (khususnya militer) sebagai 
penopang kekuasaan bila terjadi krisis politik. Untuk itu, bila perubahan 
memang harus melanda lembaga-lembaga keamanan tersebut, diusahakan berlangsung 
dengan model sama-sama menang (win-win), halus, dan tidak terasa mengancam.

Ketiga, terlihat juga reaksi naluriah Yudhoyono sebagai mantan tentara saat, 
misalnya, meminta TNI mengaktifkan koter (komando teritorial) guna memerangi 
terorisme. Kebijakan ini seperti diketahui banyak ditentang. Jadi, tampaknya 
bukan karena pengaktifan koter adalah alternatif terbaik, tetapi lebih karena 
perspektif militer yang masih kental dalam diri Presiden Yudhoyono sendiri.

Implikasi
Terkait situasi di atas, secara umum dapat disimpulkan Yudhoyono bertindak 
proporsional mengingat begitu beragamnya permasalahan pemerintah pusat. Juga 
disadari bahwa, dengan menyentuh bidang-bidang nonkeamanan, sebenarnya secara 
langsung maupun tak langsung akan memengaruhi dinamika sektor keamanan pula. 
Demikian pula halnya bahwa pembenahan sektor keamanan itu sendiri juga akan 
memengaruhi dinamika berbagai bidang nonkeamanan.

Terkait hubungan kausalitas antara sektor keamanan dan sektor nonkeamanan 
tersebut, maka ke depan, pemerintahan Yudhoyono tampaknya perlu 
mempertimbangkan adanya batas atau limit yang akan segera dicapai bila 
pendekatan lebih diarahkan pada sektor nonkeamanan. Kontraksi bidang ekonomi, 
misalnya, perlu dijaga agar tidak menjadikan bidang itu sendiri tumbang.

Apabila sektor nonkeamanan memperoleh perhatian khusus lebih dari sektor 
keamanan, kondisi kontraproduktif dikhawatirkan akan terjadi. Situasi good 
governance yang diharapkan muncul di bidang-bidang nonkeamanan akan 
ternetralisasi kembali apabila aparat keamanan tidak diarahkan guna mencapai 
kualitas yang sama secara sama cepat.

Sektor keamanan yang tak kunjung tereformasi akan menjadi parasit bagi sektor 
nonkeamanan. Walau tak memberi kontribusi riil, sektor nonkeamanan tetap 
menginginkan pembagian atau keuntungan (rent-seeker). Bahkan, melihat 
pengalaman militer di negara-negara Afrika, sektor keamanan amat mungkin 
menjadi pencipta gangguan (trouble maker) itu sendiri. Itulah bahayanya bila 
salah menerapkan kebijakan terhadap mereka yang memiliki akses pada senjata dan 
upaya paksa.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/7zgKlB/dnQLAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke