REPUBLIKA
Rabu, 07 Desember 2005

Ketika Pak Habibie Sedih 

Oleh : Asro Kamal Rokan 



Pak Habibie tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ia sangat kecewa dan bahkan 
menangis menyaksikan kondisi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) --yang 
bertahun-tahun dibangunnya dan telah menjadi kebanggaan bangsa-- runtuh begitu 
saja. Seperti kertas, kebanggaan itu disobek-sobek dan ditiup angin politik dan 
kebencian.

Belasan ribu pegawai, yang dahulu begitu sibuk menyelesaikan pesanan ratusan 
pesawat untuk militer Korea Selatan, Pakistan, Uni Emirat Arab, Turki, 
Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina, serta memenuhi pesanan komponen 
pesawat Airbus dan Boeing, kini terlihat sepi. Sekitar lima ribu karyawan 
dirumahkan. 

Ribuan tenaga ahli, yang dididik di sekolah-sekolah terkemuka dunia, kini lebih 
dihargai dan dibayar mahal di Eropa, Amerika, dan Asia. Mereka mencari hidup di 
negara-negara itu --negara yang menempatkan teknologi sebagai jalan ke masa 
depan. Di sini, di negara ini, ketika politisi lebih dibutuhkan, maka para ahli 
itu dianggap sebagai pemimpi, orang-orang yang tidak berpijak di bumi. 

Pak Habibie menanam benih. Anak-anak bangsa itu --yang disebutnya sebagai Anak 
Dirgantara-- disekolahkan untuk kemudian ketika pulang mereka menjadi kekuatan 
dahsyat bangsa ini. Ia akan jadi air bah, seperti Kaisar Meiji melakukan 
restorasi. Melalui anak-anak muda itu, Pak Habibie merancang masa depan bangsa 
ini, bangsa yang bermartabat, memiliki harga diri, dan mandiri. 

Pak Habibie percaya, hanya dengan sumber daya manusia yang tangguh, terdidik, 
dan penguasaan teknologi, bangsa ini bisa dibangun, bukan dengan terus-menerus 
menguras sumber daya alam, yang sangat terbatas. Ia menghitung, bangsa besar 
ini akan kehilangan kesempatan untuk merebut masa depan jika terus 
menggantungkan diri dari industri kelontong --sebutan untuk relokasi industri 
garmen-- yang tidak kompetitif dan berpindah-pindah ke negara lain karena gaji 
buruh murah.

Bertahun-tahun Pak Habibie memperjuangkan masa depan bangsa modern, yang 
berbasis teknologi. Benih-benih yang ditanamnya, industri strategis itu, dalam 
kondisi yang menyedihkan, dapat juga tumbuh dan bahkan ada yang berbuah. Namun, 
orang-orang lebih suka bertengkar tentang warna buah itu, membahasnya dalam 
perspektif politik, bukan pada khasiat buah itu. 

Pohon untuk masa depan yang telah berbuah itu tidak hanya dibiarkan kering, 
tapi juga ditebang. Pak Habibie menangis, tapi ia tak punya kekuatan untuk 
menahan orang-orang berpikiran pendek, instan --yang lebih suka mendapatkan 
sesuatu dengan segera, para broker yang memperjual-belikan bangsa ini, dan para 
petualang. 

Pak Habibie sedih, bukan karena karya-karyanya tidak dihargai di negeri 
sendiri, tapi karena bangsa ini melupakan kepentingan masa depannya. Bangsa 
tanpa rencana masa depan akan selalu menjadi bangsa terbelakang, tak mandiri, 
dan terombang-ambing oleh negara lain dengan segala kepentingannya. Negara 
seperti itu tidak akan pernah menjadi tuan. Ia selalu berada dalam perintah dan 
tekanan tanpa henti. 

Pak Habibie tak menginginkan itu. Ia berharap bangsa ini memiliki harga diri, 
kuat, dan tidak dalam perintah sang majikan. Namun, ia harus menerima kenyataan 
bangsa ini lebih senang dalam tekanan dan menutup peluang untuk menjadi tuan. 
Atas nama pembangunan, sering sekali kita menghancurkan --tak peduli itu untuk 
masa depan anak-anak bangsa. Pak Habibie jangan bersedih. Bangunlah. Tanah 
untuk pohon-pohon masa depan itu tumbuh, kini sudah mulai berubah


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/7zgKlB/dnQLAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke