http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/30/humaniora/2324571.htm

 
Kecap Nomor Tiga 


Tri Budhi Sastrio

Profesor Budi Darma pernah memberi tugas kepada mahasiswa S-3 Program 
Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Surabaya, untuk membaca satu 
novel terjemahan dan satu novel karya penulis Indonesia yang diterbitkan oleh 
Gramedia. Dua novel ini masih fresh from the oven, kata Profesor Budi ketika 
itu.

Kemudian para mahasiswa yang kandidat doctor of philosophy itu diminta menelaah 
dan mengeksplorasi dua novel tersebut dengan menggunakan teori sastra pilihan 
mahasiswa. Novel yang pertama, Sang Alkemis-nya Paulo Coelho, dibedah dengan 
menggunakan pendekatan intrinsik. Adapun novel yang kedua, The (Un)Reality Show 
tulisan Clara NG menggunakan pendekatan ekstrinsik.

Sampai di sini tidak ada persoalan. Mahasiswa harus membeli novel-novel 
tersebut, membaca, menelaah dan mengeksplorasinya, kemudian harus menuangkan 
seluruh hasil telaah dan eksplorasi mereka dengan rambu-rambu yang telah 
ditetapkan ke dalam karya berbentuk makalah ilmiah. A piece of cake, kata 
orang-orang bule.

Persoalan justru muncul dua hari setelah tugas tersebut diberikan. Profesor 
Budi Darma, lewat SMS, mengirimkan pesan sekaligus perintah baru bagi para 
mahasiswa untuk membeli dan kemudian membaca koran Kompas tanggal 9 Desember 
2005, halaman 14. Gunakan artikel tersebut sebagai salah satu pisau analisis 
untuk membedah dua novel yang telah diberikan pada Saudara, begitu kurang lebih 
bunyi pesan Profesor Budi Darma.

Begitu berita ini menyebar, para mahasiswa bak tawon kena gebah khususnya yang 
tidak berlangganan Kompa segera mencari Kompas dan artikel yang dimaksud. Saya 
yang berlangganan juga segera membuka Kompas halaman 14: Klaim tulisan Radhar 
Panca Dahana pengasuh Humaniora-Teroka  dan Sisi Lain Demokrasi; Kecap Nomor 
Satu karya L Wilardjo, fisikawan yang tinggal di Salatiga. Dua artikel ini 
segera saya baca sampai tuntas dan saya tidak paham isinya. Baru setelah 
membaca untuk yang kedua kalinya, meskipun masih samar- samar, apa yang 
dimaksud oleh sang pengasuh maupun penulis artikel ini mulai memberikan bentuk 
dan bayangannya di kepala saya.

Sulit mengidentifikasi diri

Klaim dibuka dengan sebuah pernyataan bahwa hadiah terbesar yang telah 
diberikan oleh bangsa Yunani dan Perancis mungkin ada dalam satu kata: 
demokrasi. Kening saya sebenarnya sudah berkerut membaca pernyataan ini. 
Perancis? Mengapa Perancis yang disebut setelah Yunani? Yunani sih oke! Tetapi 
Perancis? Bukankah orang-orang Romawi lebih pantas untuk disebut alih-alih 
Perancis?

Ah, mungkin bung Dahana menganggap jika Yunani telah disebut maka di dalamnya 
pasti juga masuk Romawi sehingga tidak perlu disebut lagi. Kalau memang 
demikian, bolehlah! Selanjutnya bung Dahana menjelaskan bahwa rahmat demokrasi 
yang paling dirasakan oleh manusia di seantero bumi adalah munculnya kebebasan 
berbicara, berpendapat, dan didengar.

Bahkan setelah lahirnya apa yang dinamakan postmodernism semua kebenaran 
marjinal, lokal dan bahkan personal memperoleh tempat dan hak yang sama. Tapi, 
klaim-klaim semacam ini, masih menurut bung Dahana, pada gilirannya nanti 
justru memunculkan apa yang dinamakan antidemokrasi, sebuah tindakan yang 
menafikan orang lain.

Mungkin karena tidak menyadari bahwa klaim-klaim yang dikejar oleh banyak orang 
tersebut tergolong ke dalam ranah antidemokrasi, banyak orang, dengan 
menggunakan uang, kekuasaan, perkariban, dan sebagainya, terus mengejar 
klaim-klaim semacam ini untuk eksis dan unggul dalam relasi sosial, aksi 
eksistensial, maupun pembenaran kultural.

Bahkan, ini mungkin yang menarik, seseorang dapat menjadi politikus, kritikus, 
pengamat politik, atau sastrawan sekalipun, semata-mata karena berhasil 
memperoleh apa yang dinamakan klaim. Dalam ruang inilah, bung Dahana menutup 
tulisannya, dan tulisan Sisi Lain Demokrasi; Kecap Nomor Satu lalu mengambil 
ruang. Ruang di mana secara terus-menerus muncul dan mengalami kesulitan 
mengidentifikasi, termasuk mengidentifikasi diri sendiri.

Sampai di sini saya berhenti sejenak. Jangan-jangan tokoh- tokoh utama dalam 
dua novel yang harus saya baca dan telaah tersebut juga mengalami hal yang 
sama. Mereka sulit mengidentifikasi banyak hal, termasuk diri mereka sendiri. 
Kalau begini, satu kata kunci penting telah saya dapatkan! Terima kasih, bung 
Dahana!

Berikutnya tentang Kecap Nomor Satu. Jargon yang sudah klise ini dipilih 
sebagai judul, apalagi ketika didampingkan dengan Sisi Lain Demokrasi, pasti 
ada maksudnya. Sayangnya maksud tersebut tetap samar dan berkabut bagi saya. 
Hal ini mungkin disebabkan karena ciri lugas, obyektif, denotatif, kuantitatif, 
dan matematis, sebagai elemen yang diperlukan agar sesuatu dapat dianggap 
ilmiah atau diterima oleh kelompok ilmuwan, tidak berhasil saya tangkap karena 
saya memang bukan orang yang pantas dan berhak meng-klaim diri sebagai ilmuwan. 
Saya bukan ilmuwan!

Lalu bagaimana jika ciri subyektif dan konotatif yang digunakan untuk memahami 
judul-judul ini? Saya juga bukan sastrawan! Lalu bagaimana saya mampu memahami 
hal-hal yang menjadi lahan bermain-main para sastrawan itu?

Istilah demokrasi sendiri saja masih terus membingungkan bagi saya. Apalagi 
setelah saya berasumsi bahwa apa yang dikatakan bung Dahana benar adanya. 
Demokrasi melahirkan antidemokrasi, kata beliau, sementara antidemokrasi 
tampaknya hanya mungkin melahirkan antidemokrasi yang lain, dan begitu 
seterusnya.

Jadi, kalau begitu, demokrasi sudah tidak ada, dong? Bukankah sekali konsep ini 
digunakan, hasilnya adalah antidemokrasi? Apalagi kalau sampai teringat apa 
yang dikatakan oleh James Russell Lowell (1819-1891) dalam The Biglow Papers 
yang mengatakan bahwa democracy gives everyman the right to be his own 
oppressor. Wah, makin susah kalau begini!

Bebas berkomentar, tidak peduli salah atau benar, adalah jaminan yang diberikan 
demokrasi. Tetapi, komentar yang bebas namun tidak tepat itu, yang diberi 
istilah kecap nomor satu, adalah antidemokrasi. Lalu? Ternyata, menjaga 
komentar agar tidak melukai perasaan orang lain itu penting. Tetapi, berani 
menyatakan pandangan yang diyakini kebenarannya juga penting. Meskipun 
hendaknya benar-benar diingat bahwa apa yang diyakini benar dapat memang 
benar-benar benar, dapat setengah benar, dan juga dapat salah sama sekali!

Ha-ha-ha inilah alasannya mengapa jika saya harus menjual kecap maka saya 
selalu menawarkannya sebagai kecap nomor tiga, bukan yang nomor dua apalagi 
yang nomor satu! Jika rasanya enak, saya dapat mengklaim yang nomor tiga saja 
sudah enak, apalagi yang nomor satu. Kalau tidak enak, saya dapat berkelit: 
lha, wong nomor tiga kok minta enak! Klaim ini menurut saya sangat demokratis 
dalam bentuk analogisnya.

Ketika seorang guru besar kependidikan mewakili para guru (kecil) yang sedang 
berulang tahun dengan membacakan puisi, Wakil Presiden republik ini 
marah-marah. Gedung-gedung dan kelas-kelas sekolah kita memang tidak mewah, 
tetapi seperti kandang ayam, bohong itu! Tidak benar itu, kata Wakil Presiden. 
Gaji guru memang belum mencukupi, tetapi dipakai sehari saja sudah habis, dusta 
itu, kata Wakil Presiden berang. Kalau bukan para guru yang menghormati dunia 
pendidikan di Indonesia ini, lalu siapa?

Persoalannya bukan lagi hormati-menghormati, tetapi bagaimana pernyataan yang 
figuratif ditanggapi secara harfiah? Bagaimana (mungkin) pernyataan yang 
metaforis ditanggapi secara literer? Jelas tidak nyambung. Jelas tidak pas!

Bukankah analogi semacam ini juga yang terjadi antara L Wilardjo yang terhormat 
ketika memberi komentar, menyalahkan, dan tidak membenarkan pernyataan Profesor 
Budi Darma yang mengatakan tentang benturan yang dahsyat antara elektron dan 
kutub positif dan negatif'? Tidak ada benturan elektron berdasarkan hukum- 
hukum fisika yang sejauh ini diketahui dan kebenarannya telah diakui oleh 
banyak ilmuwan, kata L Wilardjo. Dalam regatan atau untai regat yang terjadi 
hanyalah munculnya arus elektrik melalui lintasan penghantar yang hambatannya 
praktis nol, sehingga arus itu sendiri menjadi sangat besar.

Profesor Budi Darma mengungkapkan konsep pemikirannya dengan menggunakan bahasa 
figuratif, Pak Wilardjo mengungkapkan pendapat dan sanggahannya dengan bahasa 
literer. Wah, jelas tidak nyambung!

Tetapi, kalau kedua-duanya sama-sama menjual dengan label kecap nomor tiga, 
maka keadaan dan jagat dunia keilmuan dan kesusastraan di Tanah Air masih boleh 
dikata aman dan terkendali. Kebebasan berbicara tetap terjaga, ketersinggungan 
banyak pihak tidak terjadi, pemahaman dan pencerahan pun merasuk ke tulang 
sumsum sidang pembaca! Bravo Kompas!

Tri Budhi Sastrio Pengajar Fakultas Sastra Universitas Dr Soetomo, Surabaya


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Know an art & music fan? Make a donation in their honor this holiday season!
http://us.click.yahoo.com/.6dcNC/.VHMAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke