Setelah mengunjungi pelbagai milis, selama ber-tahun2, dan pernah juga aku
tulis soal ini ber-tahun2 yang lalu di milisnya Mcdougal, tapi rupanya perlu
untuk di-refresh kembali. Entah ini akan membuahkan hasil atau tidak, adalah
suatu pertanyaan. Soalnya kalau bicara di ladang negara amburadul, kritik
membangunpun tidak mendapatkan simpati, boro2 mau mengajukan pikiran2 yang
berguna bagi negara.
Kendati itu aku perlu menyimak suatu kejadian sejarah dan mengkaitkan dengan
tokoh sejarah lain, yang tanpa kaitan ini rasanya kita tidak bisa benar2
menyikapi dengan betul kejadian sejarah ini.
Siapa gerangan seorang tokoh, tokoh yang selain pinter/ berjasa dan
nasionalis sejati tapi beliau tidak laku? Tidak laku karena beliau rupanya
dilupakan oleh anak bangsanya sendiri, setelah beliau berjoang untuk
kemerdekaan bangsanya. Tidak lain yalah exponent lain dari sebuah ikatan yang
dinamakan Dwi Tunggal.
Mohammad Hatta, beliau adalah pejoang dan ber-sama2 dengan Soekarno,
kedua2nya memperjoangkan kemerdekaan negara Indonesia. Tapi bagaimana Dwi
Tunggal ini bisa pecah, hal ini sudah banyak disimak dalam tulisan2 sejarah.
Belum lagi friksi dan clash antara pikiran sehat dan pragmatis ketimbang visi
yang dianut Soekarno yang bisa dikatakan nasionalis2an secara meng-gebu2 tanpa
memperhatikan pembangunan ekonomi. Disinilah sebentulnya perbedaan yang besar
antara kedua sosok sejarah ini.
Syukurlah bahwa se-tidak2nya ada seorang individu, seorang negarawan yang
benar2 menyandang kriteria seorang yang pinter/berjasa dan seorang nasionalis
sejati. Beliau tidak mau mengorbankan visinya, kehormatannya untuk ikut2
"membangun" dengan caranya Bung Karno, yang selain ber-nada advonturis dalam
politik, ditambah sesuatu yang sangat mencelekakan masa depan Indonesia yalah
Bung Karno men-sepelekan pembangunan ekonomi.
Bung Hatta adalah seorang terhormat, beliau lebih baik mengundurkan diri
ketimbang namanya terpuruk dalam sejarah.
Apa artinya predikat sebagai seorang founding father, seorang yang bisa
memperstukan bangsa, tapi keberhasilannya hanya sampai ke aspek meraih
kemerdekaan dan mempersatukan bangsa tapi tidak bisa mengisi kemerdekaan itu.
Merdeka tidak hanya untuk merdeka saja, tapi bagaimana caranya mengisi
kemerdekaan itu dengan cara memimpin bangsa menuju ke negara yang adil dan
makmur, inilah aspek /kriteria yang fundamentil bagi seorang pemimpin!
Apa yang kita dapati setelah merdeka? Apa yang bisa dikatakan keberhasilan
Soekarno dalam pembangunan ekonomi? Fakta sejarah sudah menuliskan.....hasilnya
nol besar! Apa kemerdekaan itu cuman bertujuan hanya mempersatukan bangsa? Aku
teringat akan ungkapan orang Jowo yang jadi sindirin bagi orang2 yang tidak
punya visi untuk maju......."mangan orak mangan asal kumpul". Apa artinya
Soekarno itu sudah berjasa mempersatukan bangsa?.....albeit tanpa memberi
artian yang lebih agung yakni membangun negara menuju masyarakat yang adil dan
makmur?
Syukurlah tapi nyatanya sosok sejarah terhormat ini seorang selain
pinter/berjasa/nasionalis sejati tapi dilupakan oleh anak bangsanya sendiri.
Rupanya untuk masa depan orang2 yang terhormat selain langka di temui di
Indonesia saat ini ,seperti misalnya Mohammad Hatta, juga misalnya ada seorang
yang jujur dan terhormat akan tidak "laku" di negara deldel duwel. Seorang
jujurpun tidak akan bisa "hidup" di negara yang penuh dengan penyamun, simple
as that!
Harry Adinegara
---------------------------------
On Yahoo!7
Messenger: Make free PC-to-PC calls to your friends overseas.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/