Tujuh Petinggi Polri Diduga Terlibat

JAKARTA -- Tujuh petinggi Polri diduga terlibat penyelewengan proyek pembelian 
alat dan jaringan komunikasi senilai Rp 240 miliar di tubuh Kepolisian Republik 
Indonesia selama periode 2001-2005. Pengadaan alat dan jaringan komunikasi ini 
menelan biaya Rp 602 miliar. "Inisial pejabat yang terlibat AD, AG, SS, DB, YM, 
IG, dan TH," kata Ketua Presidium Indonesian Police Watch Neta S. Pane kemarin.

Proyek alat dan jaringan komunikasi ini antara lain meliputi pengadaan satu 
situs trunking di Kepolisian Daerah Sumatera Utara pada 2002 senilai US$ 4 
juta, dan perluasan trunking Polda Sumatera Utara tahun 2003 senilai US$ 5,5 
juta. Juga pengadaan alat komunikasi Pemilu 2003 senilai Rp 111 miliar, 
trunking Polda Jawa Timur pada 2004 senilai US$ 10 juta, dan perluasan jaringan 
komunikasi PJR Sumatera (2005) senilai US$ 6 juta.

Namun juru bicara Mabes Polri Irjen Sisno Adiwinoto, saat ditanya tentang 
keterlibatan tujuh nama itu, mengatakan pihaknya belum bisa mengklarifikasi 
tujuh nama mantan pejabat Polri itu. "Saat ini penyidikan masih berjalan," 
katanya.

Menurut Sisno, selama ini BPK belum mengeluarkan hasil audit dari proyek alat 
dan jaringan komunikasi Polri itu. "Kalau BPK sudah mengeluarkan, akan kami 
tindaklanjuti," ujarnya.

Korupsi pengadaan alat dan jaringan komunikasi ini juga melibatkan Henry 
Siahaan, suami penyanyi Yuni Shara. Henry, yang ditahan di Polda Metro Jaya, 
terlibat pengadaan alat dan jaringan komunikasi melalui perusahaannya, PT 
Chandra Eka Karya Pratama.

Henry akan dikenai dua gugatan pidana terkait dengan dugaan korupsi pengadaan 
alat komunikasi dan jaringan komunikasi di Polri itu. Selain dikenai tuduhan 
korupsi yang merugikan negara sebesar Rp 240 miliar, Henry juga akan dikenai 
pasal pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Konsumen. 

Menurut Kepala Bagian Reserse dan Kriminal Mabes Polri Komjen Polisi Hendarso 
Danuri, saat itu Henry terlibat dalam penyediaan alat komunikasi handy talkie. 
Namun sampai saat ini alat yang disediakan itu tak berfungsi. 

Kata Sisno, "Ada kemungkinan Henry bisa kena jeratan berlapis." 

Menurut Neta, penangkapan Henry dan rekan kerjanya, Santo, hanyalah bagian 
kecil dari keseluruhan kasus dugaan markup ini. "Jangan berhenti sampai 
penahanan Henry saja," ujarnya. MUSLIMA HAPSARI | ERWIN d

Sumber: Koran Tempo - Jumat, 09 Februari 2007

++++++++++


Untuk berita aktual seputar pemberantasan korupsi dan tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance) klik
http://www.transparansi.or.id/?pilih=berita

Untuk Indonesia yang lebih baik, klik
http://www.transparansi.or.id/

Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI)
Jl. Polombangkeng No. 11 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110
Telp: (62-21) 727-83670, 727-83650
Fax: (62-21) 722-1658
http://www.transparansi.or.id

========================================================
The Indonesian Society for Transparency 
http://www.transparansi.or.id 
E-mail: [EMAIL PROTECTED] 



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke