http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=278186

Kamis, 29 Mar 2007,

Selangkah Lagi, SBY Diinterpelasi 




Reaksi atas Sikap Pemerintah Dukung Sanksi Nuklir Iran 
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus bersiap-siap menjawab 
pertanyaan wakil rakyat yang menggugat keputusan pemerintah yang mendukung 
sanksi terhadap program nuklir Iran. Hak interpelasi yang diajukan para wakil 
rakyat itu hampir pasti terwujud karena para anggota dewan begitu antusias atas 
isu tersebut. 

Agenda interpelasi itu oleh para pengusulnya kemarin diserahkan ke pimpinan 
DPR. Saat diserahkan ke pimpinan, ada 131 tanda tangan anggota DPR pendukung. 
Ketua DPR Agung Laksono yang menerima usul interpelasi itu langsung meneken 
menjadi penanda tangan ke-132. Selain itu, perkembangan maju juga terjadi pada 
perolehan dukungan dari Partai Damai Sejahtera (PDS). Sebelumnya dua Fraksi PDS 
dan Partai Demokrat memilih untuk berpikir dulu sebelum menandatangani usul 
interpelasi terebut.

"Dengan demikian, semua wakil fraksi minus FPD telah menyetujui usul 
interpelasi ini," ujar salah seorang penggagas interpelasi Abdillah Toha. Para 
penggangas berharap agar usul interpelasi tidak ditangapi negatif oleh 
pemerintah. "Sebab, memang niatnya baik," timpal Agung.

Dalam draf materi usul interpelasi, DPR meminta klarifikasi pemerintah atas 
tujuh poin. Di antaranya dasar persetujuan terhadap resolusi, apakah mendukung 
resolusi tidak melanggar UUD 1945, apakah persetujuan terhadap resolusi bukan 
dukungan terhadap penindasan, sikap mendukung sebagai standar ganda. 

Selain itu, dukungan terhadap resolusi tersebut justru akan merugikan posisi 
Indonesia sebagai anggota tidak tetap DK PBB dan terakhir bukankah pemerintah 
selalu mendukung program nuklir Iran untuk perdamaian. "Kami berharap agar 
pemerintah bisa menjawab tujuh pertanyaan tersebut," lanjut Abdillah.

Keraguan terhadap konsistensi DPR dalam setiap pengajuan interpelasi juga 
menjadi perhatian para penggagas. Untuk menwaspadai hal tersebut, anggota 
Komisi I Effendy Choirie meminta usul interpelasi tersebut bisa dibacakan dalam 
rapat paripurna hari ini. Bahkan, jika memungkinkan, pada penutupan masa sidang 
ketiga Jumat (29 Maret) bisa langsung diambil keputusan. "Kalau bisa, langsung 
voting saja," ujar politikus PKB tersebut.

Menanggapi permintaan itu, Ketua DPR Agung Laksono hanya bisa berjanji. "Saya 
sebagai pimpinan DPR akan melanjutkan usul ini. Dan, bakal diusahakan akan 
dibacakan dalam rapat paripurna besok (hari ini,Red)," katanya. Wakil Ketua 
Umum DPP Partai Golkar tersebut juga berharap agar jika usul interpelasi itu 
lolos, presiden akan menjawab pertanyaan DPR dan tidak diwakilkan kepada 
menteri. (cak)

Amien Nazar Potong Ayam

Kekhawatiran terhadap kandasnya interpelasi juga diungkapkan mantan Ketua 
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Amien Rais. Dia menilai, budaya 
interpelasi selalu menguap dalam waktu 1-2 minggu saja. "Tanpa mengurangi 
penghormatan saya kepada DPR, biasanya interpelasi itu anget-anget silit ayam," 
katanya.

Namun, politikus dari Partai Amanat Nasional tersebut menyambut baik adanya 
inisiatif anggota DPR untuk mengusulkan hak interpelasi. Sebab, sikap 
pemerintah menyetujui resolusi DK PBB merupakan cerminan dari gagalnya politik 
luar negeri bebas aktif. "Artinya, bebas di bawah bayang-bayang Amerika dan 
aktif di bawah Washington," tanggapnya.

Karena itu, dia sempat bernazar jika DPR berhasil meloloskan usul interpelasi. 
"Kalau DPR mampu membawa Presiden Yudhoyono ke sini, saya akan sembelih ayam 
dua ekor," janjinya.

Menjawab argumen pemerintah yang sudah memperjuangkan resolusi tandingan untuk 
memojokkan Israel, Amien mengatakan bahwa alasan tersebut hanya dicari-cari. 
Sebab, Indonesia sebenarnya tidak bisa melanjutkan gagasan itu. "Karena selama 
ini Amerika selalu memveto keputusan PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada 
Israel," jelasnya. 

Dalam resolusi klausul pembentukan kawasan bebas senjata pemusnah masal, 
termasuk alat pengirimnya (rudal atau misil) di seluruh kawasan Timur Tengah. 
Dengan dimasukkannya poin tersebut, Indonesia bisa menggalang dukungan untuk 
menyusun resolusi tandingan (counter resolution) yang memungkinkan dilakukannya 
inspeksi senjata nuklir di kawasan Timur Tengah, termasuk Israel, oleh badan 
nuklir dunia (IAEA). 

Pendapat Amien didukung salah satu penggagas interpelasi Abdillah Toha. 
Keberhasilan delegasi Indonesia di DK PBB memasukkan poin tersebut tidak akan 
berpengaruh apa-apa. "Itu hanya akan menjadi hiasan," ujarnya. Sebab, Amerika 
akan melindungi Israel dengan hak vetonya.

Menurut Abdillah, selama ini perlakuan DK PBB dalam menangani masalah nuklir 
Iran sangat tidak transparan. Dugaan bahwa Iran menggunakan nuklir sebagai 
senjata pemusnah masal masih perlu dibuktikan. "Israel yang sudah jelas-jelas 
mengaku mempunyai senjata nuklir dibiarkan saja," tandasnya


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke