(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)
Catatan A. Umar Said
Imperialisme AS adalah
musuh kita bersama
Aksi kekerasan yang dilancarkan pada tanggal 29 Maret 2007 oleh
kelompok-kelompok yang menamakan diri Front Pembela Islam (FPI), Forum
Betawi Rempug (FBR) - dan kelompok-kelompok lainnya yang sejenis --
terhadap massa Papernas (Partai Persatuan Pembebasan Nasional) yang mau
mengadakan appel akbar di Tugu Proklamasi patut mendapat perhatian dari
kalangan seluas-luasnya, mengingat seriusnya masalah ini bagi kehidupan
demokratis di negara kita Republik Indonesia dan bagi martabat bangsa kita.
Aksi penyerangan yang dilakukan oleh ratusan orang itu terjadi di jalan
Jenderal Sudirman Dukuh Atas, Jakarta, ketika massa Papernas, di
antaranya banyak ibu-ibu beserta anak-anak, sedang beramai-ramai dengan
konvooi belasan mini-bus dan bus besar menuju tempat Apel Akbar Kebulatan
Tekad Nasionalisasi Industri Pertambangan Asing. Sebagai akibat aksi
pengacauan dengan kekerasan tersebut telah rusak 17 kendaraan bermotor dan
27 orang luka-luka. Jadi; aksi pengacauan yang kali ini sudah mengambil
bentuk yang keterlaluan kebiadabannya.
Adanya pengacauan secara kekerasan oleh kelompok-kelompok yang sejenis FPI,
Front Anti-Komunis Indonesia terhadap Papernas ini menunjukkan kepada kita
semua bahwa sebagian kecil sekali dari kalangan Islam di Indonesia masih
terus bisa dihasut, ditipu, dan digunakan oleh sisa-sisa kekuatan gelap
rejim militer Orde Baru untuk melanjutkan praktek-praktek yang tidak
demokratis, melanggar HAM dan hukum, anti-kerakyatan, dan menguntungkan kaum
imperialis. (Pada kesempatan yang lain, akan ada tulisan khusus tentang
kelompok-kelompok semacam ini).
Dengan menuduh Papernas sebagai organisasi komunis, kelompok-kelompok ini
melakukan berkali-kali aksi-aksi terror terhadap berbagai kegiatan Papernas.
Pada 18 September 2006, deklarasi Komite Persiapan PAPERNAS di Surabaya
mengalami ancaman dan terror serupa; termasuk serangan terhadap kongres
pendirian PAPERNAS 18-20 Januari 2007 lalu, di Kaliurang, Jogjakarta, serta
Konferensi Daerah (Konferda) I PAPERNAS Jawa Timur di Batu, 4 Maret 2007.
Dalam serangan-serangan yang berkali-kali ini selalu dikerahkan ratusan
orang, untuk berusaha mengacau dan menggagalkan berbagai pertemuan-pertemuan
besar Parpenas, dengan menguar-uarkan teriakan dan selogan-selogan
anti-komunis, yang disertai berbagai tindakan kekerasan.
Sisa-sisa kekuatan Orba di belakangnya
Aksi-aksi terror, ancaman dan penyerangan terhadap Papernas yang telah
dilakukan berkali-kali oleh berbagai kelompok yang menamakan diri sebagai
golongan Islam ini sejak diselenggarakannya pertemuan besar untuk deklarasi
berdirinya Komite Persiapan Papernas tahun lalu, menunjukkan dengan jelas
bahwa aksi-aksi itu dilakukan secara sistematis, dan terencana, serta
terkoordinasi oleh satu kekuatan yang berdiri secara sembunyi-sembunyi --
di belakangnya.
Dituduhkannya Papernas sebagai komunis, dan suara-suara galak untuk
melarangnya di Indonesia (antara lain selogan Darah para anggota PAPERNAS
halal untuk ditumpahkan)
menggambarkan bahwa kelompok-kelompok ini sekarang disuruh menjalankan
politik yang sudah dijalankan selama puluhan tahun oleh rejim militer Orde
Baru, sedangkan sama-sama kita lihat bahwa situasi internasional dan
nasional sudah mengalami perubahan.
Kita semua ingat bahwa politik anti-komunis telah dijalankan Suharto dkk
untuk menggulingkan presiden Sukarno dengan menghancurkan habis-habisan
seluruh kekuatan kiri, terutama kekuatan PKI, yang merupakan tulang-punggung
berbagai politik presiden Sukarno yang anti-nekolim (anti- neo-kolonialisme,
kolonialisme dan imperialisme). Seperti yang sudah ditunjukkan sejarah
bangsa kita, maka nyatalah bahwa sebagian pimpinan militer Indonesia, di
bawah perintah Suharto, dengan politik mereka yang anti-Sukarno dan
anti-komunis ini telah menyeret Republik Indonesia ke kubu imperialisme
(terutama AS) dalam jangka waktu yang lama sekali.
Selama 32 tahun Orde Baru, rejim Suharto dkk telah menggunakan
anti-komunisme sebagai senjata utama untuk mempertahankan kekuasaan mereka
yang berbau fasisme di samping digunakannya bedil. Artinya, walaupun
kekuatan kiri atau kekuatan PKI sudah dihancur-luluhkan melalui cara-cara
yang biadab dan tidak berperikemanusiaan sejak pembantaian jutaan orang
tahun 65-66, tetapi selama 32 tahun Orde Baru momok komunis selalu
diuar-uarkan dengan berbagai cara. Dengan selalu menghidup-hidupkan momok
komunis ini (yang bohong atau dibikin-bikin ini) rejim militer Suharto
berusaha menakut-nakuti orang banyak. Dan dengan menyebar terror ini para
penguasa Orde Baru berusaha mematahkan segala macam perlawanan yang tumbuh
di kalangan masyarakat.
Situasi internasional sudah berubah
Untuk menjalankan politik anti-komunisme dan anti-Sukarno ini , para
penguasa Orde Baru berhasil merangkul, membiayai, menggunakan, membodohi,
sebagian kecil kalangan Islam. Dalam jangka yang lama sekali, sebagian
kalangan Islam yang fanatik ini telah digiring oleh penguasa militer untuk
menjalankan politik yang pro-imperialis AS, sehingga kalangan-kalangan
sejenis FPI ini ikut-ikutan getol bersuara bahwa komunismelah tetap
merupakan bahaya utama atau musuh pokok dari bangsa Indonesia, dan bukannya
imperialisme AS.
Padahal, setelah Perang Dingin dalam bentuknya yang lama sudah berakhir,
maka momok komunis di tingkat dunia pun mulai menghilang. Dengan jatuhya
blok Soviet, maka kelihatan sekali bahwa imperialisme AS-lah yang menjadi
bahaya utama atau musuh pokok bagi banyak negara dan bangsa di dunia,
termasuk juga di Indonesia.
Perkembangan situasi internasional menunjukkan dengan jelas bahwa berbagai
politik hegemoni imperialisme AS mendapat perlawanan yang makin meningkat
dari banyak bangsa dan negara di dunia. Persoalan yang rumit di Timur
Tengah, yang disebabkan oleh pertentangan Israel dan berbagai negara Arab
(termasuk Palestina), dan oleh agresi AS terhadap Irak, menunjukkan bahwa
kerakusan dan kesombongan imperialisme AS mendapat tantangan dari berbagai
fihak.. Sekarang ditambah lagi dengan persoalan Iran, yang terancam oleh
serangan bersenjata dari AS.
Bagi banyak rakyat di negara-negara Arab serta negara-negara yang
berpenduduk Muslim lainnya, makin nyatalah bahwa pada dewasa ini musuh atau
bahaya utama adalah imperialisme AS, dan bukannya komunisme atau
negara-negara yang dipimpin oleh partai komunis.
Imperialisme AS, melalui sistem kapitalismenya yang dipraktekkan dalam
macam-macam bentuk (antara lain; Bank Dunia, IMF, WTO, perjanjian-perjanjian
perdagangan bilateral, investasi dalam tambang-tambang di banyak negeri di
dunia) tidak saja mendapat kritikan atau kecaman dari banyak fihak,
melainkan juga perlawanan dari banyak rakyat di dunia. Ini tercermin dalam
berbagai pertemuan internasional yang diselenggarakan oleh bermacam-macam
organisasi rakyat di Seattle, di Mexico, di Porto Allegre (Brasilia),
Caracas (Venezuela) Roma, Genoa, Paris, Koln, Berlin, Helsinki, London,
Bombay, Karachi, Manila; Seoul, Nairobi, Dakar (Senegal), Afrika Selatan,
dan banyak tempat-tempat lainnya di dunia.
Imperialisme AS dilawan oleh banyak rakyat dunia
Adalah menarik sekali untuk diamati bahwa perjuangan melawan berbagai macam
kekuatan imperialisme AS ini sekarang tidak lagi hanya dilakukan oleh
orang-orang komunis di dunia saja, melainkan juga oleh orang-orang dari
berbagai partai politik, bermacam-macam aliran agama dan kepercayaan. Dalam
sejarah dunia sampai sekarang, imperialisme (terutama AS) belum pernah
mengalami perlawanan dari berbagai rakyat yang seluas sekarang ini. Tidak
dapat diragukan lagilah agaknya bahwa pamor imperialisme AS sudah jatuh
merosot dan citranya bertambah buruk di mata banyak orang di dunia.
Yang juga patut diperhatikan ialah bahwa suara-suara yang menentang
neo-liberalisme dan globalisasi atau sikap kritis terhadap imperialisme AS
(berikut kakitangannya) juga mulai banyak dikeluarkan oleh berbagai
kalangan di Indonesia. Berbagai kalangan intelektual dan tokoh-tokoh
masyarakat mengajukan kritik-kritik pedas terhadap politik pemerintah yang
bersengkongkol dalam praktek-praktek maskapai-maskapai besar multinasional
dan asing Tidak salahlah kiranya, kalau sekarang ini ada orang-orang yang
mengatakan bahwa fenomena yang menonjol di dunia sekarang ini, adalah
perlawanan yang makin meningkat di banyak negeri, termasuk di Indonesia,
terhadap imperialisme AS, dan bukannya terhadap komunisme.
Fenomena yang demikian ini dapat kelihatan lebih jelas lagi kalau kita
perhatikan perkembangan di Amerika Latin, di mana berbagai negara sudah
bergeser ke kiri dan terang-terangan melawan AS, seperti Venezule,
Bolivia, Ecuador (ditambah Kuba yang sudah selama 40 tahun melawan AS).
Adalah juga menarik untuk diperhatikan bahwa presiden Hugo Chavez menyatakan
sedang membangun sosialisme abad ke-21 di Venezuela, dan bahwa partai yang
mengusung Evo Morales meraih kemenangan besar dan mengangkatnya sebagai
presiden Bolivia bernama Gerakan menuju sosialisme. (Movimiento Al
Socialismo).
Papernas adalah partai front
Dilihat dari perkembangan situasi internasional yang demikian ini, maka
nampak sekalilah betapa jahatnya kekuatan-kekuatan gelap Orde Baru yang
menggunakan tangan-tangan kelompok-kelompok Islam sejenis FPI untuk
melancarkan aksi-aksi terror terhadap Papernas dengan tuduhan bahwa partai
ini adalah partai komunis gaya baru.
Dengan men-cap Papernas sebagai organisasi komunis atau komunis gaya baru,
kekuatan-kekuatan gelap Orde Baru dengan mengerahkan kelompok-kelompok
sejenis FPI -- berusaha mengisolir partai baru ini dari dukungan masyarakat
luas, dan berusaha menimbulkan kesan bahwa rakyat luas tidak menyukai
kehadiran Papernas di Indonesia.
Tetapi, walaupun sisa-sisa kekuatan Orde Baru bersama-sama kelompok-kelompok
sejenis FPI berusaha dengan segala cara dan bentuk untuk menghalangi
tumbuhnya perlawanan terhadap neo-liberalisme dan globalisasi yang
didominasi oleh imperialisme AS, namun perkembangan politik, ekonomi dan
sosial yang makin sangat memburuk di negeri kita akan memberikan jalan lebar
kepada lahirnya bermacam-macam kekuatan rakyat, termasuk di antaranya
Papernas.
Seperti yang sudah dijelaskan oleh pimpinan Papernas dalam berbagai
kesempatan, Papernas adalah partai yang didirikan oleh berbagai organisasi
massa rakyat, dan bukan partai komunis Di tingkat nasional PAPERNAS
didirikan oleh Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia (Hikmahbudhi), Gabungan
Solidaritas Perjuangan Buruh (GSPB), Front Nasional Perjuangan Buruh
Indonesia (FNPBI), Serikat Tani Nasional (STN), Serikat Rakyat Miskin Kota
(SRMK), Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND), Jaringan Kerja
Kebudayaan Rakyat (JAKER) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD).
Sedangkan di tingkat lokal (artinya, di banyak tempat di daerah-daerah),
juga banyak sekali organisasi-organisasi rakyat dari berbagai bidang dan
kegiatan menjadi inisiator terbentuknya Papernas. Seperti yang tercantum
dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, dan berbagai dokumen partai,
program pokok Papernas adalah Tripanji Persatuan Nasional yakni: Mengambil
alih Industri Tambang; Menghapus Utang Luar Negeri; serta Membangun Industri
Nasional untuk Kesejahteraan Rakyat. Selogan yang dipakai dalam berbagai
kesempatan (termasuk untuk pernyataan dan siaran-siaran) adalah Cukup Sudah
Jadi Bangsa Kuli, Bangkit Jadi Bangsa Mandiri!.
Jadi, sebagai partai front, yang mengutamakan persatuan nasional untuk
mengajak seluruh bangsa membebaskan rakyat dan negara dari penghisapan modal
besar asing dan dari cengkeraman imperialisme (terutama AS) Papernas
lambat-laun akhirnya akan mendapat dukungan dan simpati dari berbagai
kalangan di Indonesia. Sebab, Tripanji Persatuan Nasional yang merupakan
program pokok partai juga sudah menyimpulkan dengan jelas tugas-tugas besar
bangsa, yang bisa merupakan platform kerjasama bagi berbagai kekuatan di
tanah-air. Di samping itu, selogan Cukup Sudah Jadi Bangsa Kuli, Bangkit
Jadi Bangsa Mandiri! menunjukkan arah besar dan strategis, yang dapat kita
cengkam bersama-sama, dalam perjuangan untuk mengadakan perubahan-perubahan
sejati di negeri kita.
Paris, 10 April 2007
--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.446 / Virus Database: 269.0.0/754 - Release Date: 09/04/2007
22:59
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/