SUARA KARYA

Mewaspadai Kemungkinan Krisis Ekonomi
Oleh Toto Dirgantoro 


Rabu, 1 Agustus 2007
Belakangan ini banyak orang berbicara tentang kemungkinan terjadinya krisis 
ekonomi tahap II. Beberapa waktu yang lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani 
mengungkapkan adanya tanda-tanda yang mengarah ke terjadinya krisis ekonom, 
tapi kemudian dibantahnya sendiri. 

Kini, setidaknya dalam beberapa hari ini, wacana mengenai kemungkinan akan 
terjadinya krisis muncul kembali. Pembentukan Forum Stabilitas Sistem Keuangan 
(FSSK) sebagai jaring pengaman sektor keuangan, oleh sementara ekonom dilihat 
sebagai pertanda akan terjadinya krisis ekonomi. 

Mengalirnya dana asing ke Indonesia diduga bisa menjadi penyebab terjadinya 
krisis ekonomi. Memang, selama ini dana asing yang masuk ke Indonesia--bersifat 
jangka pendek (hot money)--hanya mencari keuntungan dari bunga dan pasar saham. 
Dengan begitu tidak mendorong berkembangnya sektor riil, dan tentu tidak 
menciptakan lapangan kerja. Jika angka pengangguran semakin tinggi, maka 
kemiskinan akan semakin membelenggu bangsa ini. Data Badan Pusat Statistik 
(BPS) menyebutkan, kini ada sekitar 37,1 juta orang miskin. 

Dana asing, karena sifatnya adalah jangka pendek, maka bisa dicabut setiap 
saat. Kalau investor merasa tidak untung lagi menanamkan dananya di Indonesia, 
mereka bisa cabut. Jika dana tersebut ke luar mendadak semuanya, ekonomi 
nasional bisa kolaps, dan rupiah bisa goyang. 

Kita tentu khawatir malapetaka (krisis ekonomi) itu benar-benar terjadi. Kalau 
itu terjadi, angka kemiskinan hampir bisa dipastikan akan membengkak. Karena 
kesulitan hidup--dengan naiknya harga berbagai kebutuhan pokok--kejahatan pun 
bisa terjadi di mana-mana. 

Kini kondisi ekonomi makro ternyata belum menunjukkan perubahan yang 
signifikan. Sementara itu utang kita--dalam bentuk valuta asing (valas)--masih 
lebih tinggi dibandingkan dengan cadangan devisa yang kita miliki, yaitu 51 
miliar dolar AS. 

Indikator-indikator bakal terjadi krisis ekonomi tahap II sudah kelihatan. 
Potensi krisis memang sangat kuat. Untuk mencegah terjadinya malapetaka ekonomi 
tersebut, mau tidak mau pemerintah harus melakukan pembenahan serius di bidang 
ekonomi dan keuangan. Antara lain, dengan melakukan perbaikan iklim bisnis yang 
lebih kondusif bagi investor. Pemerintah harus mengatur sedemikian rupa agar 
aliran dana tidak menumpuk di pasar saham, tapi diarahkan untuk menggerakkan 
sektor riil. Setidaknya, penyaluran kredit ke sektor riil harus dipermudah. 

Kini, penyaluran kredit ke sektor riil hanya mudah untuk diucapkan. Keadaan 
sekarang ini berbeda dengan 10 tahun yang lalu; sekarang ini risiko kredit 
macet tidak mencemaskan. 

Terkait dengan upaya menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi, regulasi 
di bidang ekonomi harus dibenahi. Antara lain, perlu ada perubahan peraturan 
ketenagakerjaan, perlu melakukan perubahan di sisi peraturan perpajakan, 
kemudahan ekspor dan impor, dan pembenahan di sektor birokrasi. Jika regulasi 
di bidang ekonomi tidak diperbaiki, serta angka pengangguran dan kemiskinan 
makin tinggi, maka kemungkinan terjadinya krisis ekonomi tahap II sangat besar. 

Kini kita masih menunggu langkah-langkah konkret perbaikan regulasi tersebut. 
Pemerintah memang telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi sebagaimana 
tertuang dalam Inpres Nomor 6 Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan 
Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKM. Namun, tampaknya itu tidak 
berpengaruh terhadap peningkatan kinerja sektor riil. Paket kebijakan tersebut 
sulit diimplementasikan karena masih perlu langkah-langkah lebih lanjut. 

Kinerja sektor riil yang sebenarnya merupakan kekuatan ekonomi nasional belum 
optimal, karena keberpihakan perbankan terkait penyaluran kredit masih sangat 
minim. Perbankan masih enggan mengucurkan kredit ke sektor riil. Karena itu, 
intervensi pemerintah sangat diperlukan. 

Ke depan ini pemerintah harus menjalankan program-program yang telah dibuatnya, 
sehingga sektor riil bisa bergerak dan berperan signifikan dalam percaturan 
ekonomi nasional. Jika ingin sektor riil benar-benar berjalan, insentif untuk 
sektor riil, termasuk UMKM tentu, harus diberikan pemerintah. 

Pemerintah pusat dan jajaran pemda harus berkoordinasi dalam memberdayakan UMKM 
ini. Kebijakan pemerintah pusat sendiri sebenarnya relatif memadai. Namun, 
dukungan dan fasilitas pemda masih amat dibutuhkan, apalagi kini eranya otonomi 
daerah. 

Baru-baru ini BPS telah mengumumkan terjadinya penurunan angka kemiskinan, 
yakni sebesar 2,13 juta orang. Angka kemiskinan per Maret 2007 turun menjadi 
37,17 juta orang (16,58 persen dari total penduduk), dari 39,04 juta orang 
(17,75 persen dari total penduduk). Tapi, mungkin saja pengumuman BPS tersebut 
hanya menyenangkan para pengambil kebijakan di lembaga eksekutif. Kita baca di 
media massa banyak pihak meragukan validitas data BPS tersebut. Pengumuman BPS 
tentang menurunnya angka kemiskinan tersebut tetap tidak mampu menghapus 
kekhawatiran dan ketakutan publik terhadap kemungkinan terjadinya krisis 
ekonomi. 

Ke depan kita perlu terus berjuang untuk dapat ke luar dari lilitan kemiskinan. 
Pemerintah, dengan tim ekonominya, tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan. 
Semua pihak--seluruh anggota Kabinet Indonesia Bersatu--harus mendorong 
dilakukannya perbaikan regulasi. Di sini pentingnya koordinasi oleh kepala 
pemerintahan. Waktu kita untuk betul-betul memikirkan kepentingan rakyat itu 
tidak banyak. Tahun 2008 nanti hampir bisa dipastikan perhatian elite politik, 
termasuk yang duduk di kabinet, akan lebih tertuju pada persiapan Pemilu 2009. 
Sekaranglah saatnya kita berupaya agar krisis ekonomi tahap II tidak terjadi, 
sehingga seleksi kepemimpinan nasional 2009 bisa berjalan dengan baik.*** 

Penulis adalah Direktur Eksekutif Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Institute 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke