RELEKSI: Beginilah hari depan yang sekarang mulai tercermin.

http://www.indomedia.com/bpost/082007/1/opini/opini2.htm

Mereka Dipelihara oleh Lampu Merah

Oleh: Amin Sudarsono
Pemerhati Masalah Sosial



Ketika kita berjalan melewati sepanjang Jalan Ahmad Yani, di setiap lampu merah 
pasti bergerombol anak-anak kecil. Pakaian mereka kusut, berdebu, dan banyak 
yang kedodoran. Karena memang itu pemberian orang. Itupun tak pernah dicuci. 

Terfikir di benak saya tentang korelasi yang ambigu antara religiusitas 
masyarakat Kalsel (terutama Banjarmasin) dengan kenaikan jumlah anak jalanan 
ini. Tentunya maksud religiusitas bukan hanya dalam tataran kultur, tapi juga 
struktur. Mungkin secara budaya, kita sudah sangat religius. Tetapi secara 
peraturan daerah, misalnya, belum berpihak kepada mereka yang disebut sebagai 
kalangan mustadh'afin itu.

Kita sudah cukup sering berbicara tentang anak jalanan. Bukan hanya dalam forum 
besar, seminar atau diskusi publik. LSM yang bergerak mengurusi anak jalanan 
juga cukup banyak, di Indonesia. Namun, sebuah fakta yang tidak terbantahkan 
bahwa ternyata semakin hari justru makin bertambah anak-anak kusut itu, di 
berbagai bilangan perempatan jalan di Banjarmasin. 

Salah satu bunyi perundang-undangan di negara kita mengatakan, "fakir miskin 
dan anak terlantar dipelihara oleh negara" Jelas mengutarakan tanggungjawab 
negara dan birokrasi yang menopangnya terhadap adanya "anak-anak terlantar" 
ini. 

Mengapa bukan tanggungjawab pengusaha atau ekonom, atau agamawan, misalnya. 
Karena kita masih percaya bahwa struktur negara mampu berbuat lebih banyak dan 
memiliki daya paksa yang kuat untuk mengadakan sebuah perbaikan. Namun apa 
lacur, birokrasi pemerintah tidak mampu secara efektif menekan pertambahan 
angka anak jalanan. 

Menjadi miskin jelas bukan pilihan mereka. Namun kondisi dan sistem menciptakan 
mereka. Kuasa sistem demikian kuat. Karena itu perlu diciptakan sistem yang 
memberdayakan, dan bukan yang memperdayai. Ini bisa dimulai oleh eksekutif 
daerah. Mungkin sebuah usul yang bagus jika DPRD Kota Banjarmasin mengusulkan 
sebuah Perda yang mengatur keberadaan anak-anak jalanan di ibukota Kalsel ini. 
Itu sebagai langkah pertama.

Kedua, tentang pembentukan rumah singgah. Ke depan, seiring ramainya kota, 
sepertinya menjadi kebiasaan bahwa jumlah anak jalanan semakin banyak. 
Sebagaimana yang telah nampak di beberapa kota, semisal di Jawa. Pembangunan 
rumah singgah itu penting. Setidaknya merumahkan mereka yang merasa sudah tidak 
pantas tinggal di bawah bangunan beratap seng atau sirap. Rumah singgah menjadi 
sebuah media eksperimentasi pencerdasan masyarakat paling bawah. Karena itu, 
rumah singgah dan taman baca perlu digagas sedini mungkin. 

Ketiga, masalah pembinaan yang kontinyu selalu berawal dari penyadaran 
(conscientizacao, menurut Paulo Freire). Tindakan penyadaran masyarakat selalu 
menemui kendala kultural. Termasuk di sini adalah cara pandang masyarakat 
terhadap sebuah persoalan. Kemiskinan, premanisme, dan kejahatan, misalnya. 
Sesuatu itu menjadi biasa karena setiap beberapa jam, seluruh stasiun televisi 
berandil memprovokasi masyarakat, baik sadar maupun tidak. 

Berdasar pengalaman beberapa kota, mengatasi anak jalanan dan beberapa pelaku 
penyakit masyarakat (pekat) lainnya melalui pembinaan yang diadakan Dinas 
Sosial. Ternyata yang terjadi adalah efek sesaat yang tidak mengentaskan. 
Bahkan akhirnya mereka imun (kebal) dari formula pemerintah untuk memberdayakan 
itu. Ditangkap itu biasa, toh nanti bisa dilepaskan lagi.

Karena itu, perlu ada pembinaan sosial yang integratif. Pertama jelas dimulai 
dari pembentukan persepsi dan cara pandang. Persepsi bahwa mengemis bukan 
solusi akhir. Mereka perlu dimotivasi tentang harga diri, tentang ketinggian 
derajat manusia. Lalu melangkah pada character building (pembentukan karakter). 
Karakter mandiri dan siap berkompetisi nampaknya perlu ditekankan sebagai modal 
dasar nanti.

Baru kemudian yang keempat, terbentuknya sektor riil yang berupa Unit Usaha 
Kecil Menengah. Anak-anak jalanan bisa dimandirikan melalui perangkat usaha 
yang didanai pemerintah. Bukan masalah mempekerjakan pegawai di bawah umur, 
namun itu bertujuan mencetak kemandirian semenjak dini. UMKM sebuah solusi yang 
tepat. 

Jangan membiarkan katub kemiskinan semakin erat tertutup. Jika ini dibiarkan, 
suatu saat akan terjadi ledakan sosial ekonomi. Itu sudah menjadi hukum alam 
bahwa ketidakadilan menciptakan pemberontakan. Setidaknya belum terlambat untuk 
memikirkan mereka yang dipelihara oleh lampu merah dan recehan yang terlempar 
dari dermawan itu.

e-mail: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke