Manusia adalah satu-satunya makhluk yang punya kesadaran tentang adanya daya / kuasa di luar dirinya yang berpengaruh atas kehidupannya, minimal di awal (janin) dan di akhir (kematian).
Berbeda dari hewan dan tumbuhan, kesempurnaan manusia menjadikannya lekat dengan kekurangan sehingga terus melakukan pencarian terhadap kuasa mahadaya tersebut. Ada yang mewujudkannya dalam kebendaan secara konkrit seperti batu; pohon; binatang; bahkan sesama manusia, dan ada yang membiarkannya tetap abstrak dengan penjelmaan dewa-dewi. Semua itu bergantung pada pemahaman pola pikir yang digelutinya. Dalam pergolakan akal mutakhir, manusia tiba pada kesadaran semesta, di mana tuhan tidak lagi dipahami sebagai sosok di luar dirinya melainkan sekumpulan sifat yang bersemayam memenuhi penjuru alam. Dari titik nun jauh di sana sampai titik yang lebih dekat dari urat leher. Tetap abstrak tetapi lebih memicu akal untuk terus mendenyutkan kesadaran agar manusia tidak larut dalam hukum-hukum materialisme yang kini dituding sebagai biang kerusakan alam. Bangkitnya kesadaran menjaga keseimbangan alam ini bisa berwujud pada gerakan hak asasi manusia maupun revolusi hijau yang menggugah orang untuk kembali bersyukur dan bertoleransi dengan seisi alam. Tetapi gerakan kali ini mestinya berbeda dari penyakralan terhadap wujud-wujud kebendaan pada peradaban masa lalu maupun pengkultusan terhadap materi pada peradaban masa kini. - Kamis, 06 September 2007 kemanusiaan Hayati Keberadaan Diri Manusia secara Utuh Jakarta, Kompas - Keberadaan manusia sebagai ciptaan Tuhan sebenarnya dilengkapi dengan kepemilikan kesadaran keilahian yang menjadikannya manusia yang utuh. Di tengah pergolakan modern, manusia justru sering kali terperosok dalam kepribadian yang berkeping-keping. "Akibatnya, berbagai ketidakharmonisan muncul di tengah interaksi sesama manusia. Manusia saling menghabisi sesamanya dengan berlatar belakang banyak kepentingan. Keseimbangan pikiran, perasaan, dan kemauan dalam diri saling tabrak," kata Suko Sudarso, aktivis metafisika studi klub, yang tampil sebagai pembicara kunci seminar dua hari bertema "Pantheisme-Manunggaling Kawula lan Gusti dalam Naskah Nusantara" di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta, Rabu (5/9). Puluhan pembicara yang terdiri atas akademisi, rohaniwan, hingga mantan Presiden Abdurrahman Wahid dijadwalkan tampil. Semua membicarakan panteisme dalam naskah nusantara sejak masa Kerajaan Singasari dan Majapahit hingga yang tertulis dalam kitab suci. Suko mengatakan, hanya dengan memfungsikan budi yang mengharmonisasikan pikiran, perasaan, dan kemauan, maka kedamaian di dunia akan terwujud. Budi merupakan peranti kesadaran keilahian tertinggi dalam diri manusia. Sayangnya, sistem kesadaran semacam itu tidak otomatis berfungsi. Manusia sebagai homo religius-lah yang harus memfungsikan, sekaligus menggerakkan sistem kesadaran keilahian demi mewujudkan manusia yang utuh. Bagi Agus Aris Munandar, arkeolog dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), konsep antara dunia manusia dan alam kedewataan menonjol pada masa Singasari dan Majapahit. Keberadaan candi dan arca menunjukkan hal itu. Belajar dari Majapahit Pada candi-candi masa itu, pada bagian atapnya yang kosong disiapkan sebagai persemayaman para dewa yang dipanggil dalam pemujaan. Dewa itu lalu turun ke bagian tubuh candi dan bersemayam pada arca-arca. "Saat itulah candi dan arca menjadi keramat karena para dewa hadir. Setelah upacara selesai, kekeramatan itu pergi lagi," kata Agus. Relief pada banyak candi menunjukkan betapa manusia ketika itu menyadari sepenuhnya konsep hubungan manusia dengan zat yang mereka puja. Arkeolog senior Edi Sedyawati menggarisbawahi, dari sejarah masa pemerintahan Majapahit sebetulnya bangsa ini bisa belajar soal toleransi beragama tanpa harus satu melebur dengan yang lain. "Pengalaman sejarah menunjukkan kita pernah searif itu. Jangan sebentar-sebentar dipertentangkan," katanya. (GSA) Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
