http://www.antara.co.id/arc/2007/9/6/kasum-ungkap-jendela-keterlibatan-bin-dalam-kasus-munir/

06/09/07 16:10

Kasum Ungkap "Jendela" Keterlibatan BIN Dalam Kasus Munir

Surabaya (ANTARA News) - Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM) mengungkap 
saat ini sudah ada "jendela" yang mengarah kepada dugaan kuat atas keterlibatan 
Badan Intelijen Negara (BIN), dalam kasus kematian aktivis HAM, Munir.

"Sudah ada `jendela` ke arah positif dalam pengungkapan kasus Munir. Arahnya, 
bukti-bukti dalam sidang PK (Peninjauan Kembali) sudah menunjuk dugaan 
keterlibatan BIN itu," kata aktivis KASUM, Choirul Anam, di Surabaya, Kamis.

Dalam "Refleksi Kematian Munir (2004-2007)" yang juga menampilkan mantan 
direktur LBH Surabaya M Zaidun SH MH (dekan FH Unair) dan Ketua PusHAM Unair 
Bambang Budiono, ia mengemukakan, ada empat jenderal BIN yang diduga kuat 
terlibat dalam kasus pembunuhan Munir.

"Jendela dalam kasus Munir antara lain bukti rekaman 41 kali percakapan telepon 
Pollycarpus dengan orang BIN, kemudian bukti pengakuan mantan Dirut Garuda 
Indra Setiawan bahwa perpindahan Pollycarpus dari pilot menjadi administrasi 
keamanan Garuda atas permintaan BIN, dengan surat resmi," katanya.

Namun, kata aktivis "Human Right Working Group" (HRWG) itu, surat yang diakui 
Indra Setiawan dalam persidangan itu sudah dihapuskan dari "file" BIN, dan 
bahkan surat yang dipegang Indra Setiawan pun sudah dirampok di perjalanan.

"Ada juga dua saksi yang mengarah ke BIN, yakni Sentot Waluyo dan Raden 
Muhammad Patma Anwar alias Ucok yang merupakan agen BIN golongan III. Sentot 
adalah pembuat empat skenario pembunuhan Munir, sedang Ucok adalah aktivis 
mahasiswa yang memata-matai kegiatan Munir," katanya menjelaskan.

Empat skenario pembunuhan Munir adalah ditabrak di jalan, disantet, dibunuh di 
kantornya, dan diracun di rumahnya. Namun empat skenario itu tidak dipakai dan 
akhirnya diganti dengan skenario racun arsenik di bandara Changi, Singapura.

"Jadi, Sentot dan Ucok merupakan implementator lapangan untuk pembunuhan Munir 
dengan kendali Deputi I BIN, yakni Manunggal Maladi. Kemudian keduanya juga 
berkoordinasi dengan Deputi VI BIN Muchdi PR dan Waka BIN As`ad," katanya 
mengungkapkan.

Selain itu, pengakuan pengacara Adnan Buyung Nasution yang sempat dimintai 
bantuan Waka BIN As`ad untuk mengingatkan Munir agar berhati-hati dengan 
tindakannya, juga menguatkan "jendela" itu.

Penyalahgunaan BIN

Choirul Anam berpendapat, kendala pengungkapan dugaan keterlibatan BIN dalam 
kasus Munir adalah ada-tidaknya sikap kooperatif BIN untuk pemeriksaan empat 
jenderal BIN.

"Masalahnya, apakah Kepala BIN Syamsir Siregar mau mereformasi BIN dengan 
mengizinkan pemeriksaan empat jenderal, yakni Hendropriyono (mantan Kepala 
BIN), As`ad (Waka BIN), Manunggal Maladi (Deputi I), dan Muchdi PR (Deputi 
VI)," katanya menegaskan.

Menurut dia, BIN secara institusi tidak bersalah, namun BIN harus mau 
"membersihkan" anggotanya yang menyalahgunakan BIN untuk kepentingan pribadi. 
Sebab, mereka menjadi "duri dalam daging" bagi BIN sendiri.

"Saya kira, BIN harus kooperatif bila diminta kesaksian empat jenderal dalam 
sidang lanjutan. Tapi polisi saat ini masih menyiapkan saksi manager Coffe Bean 
di bandara Changi dan penjemput Pollycarpus," katanya.

Tentang alasan BIN "menghabisi" Munir SH, ia mengatakan ada empat alasan, yakni 
Munir cukup kritis terhadap RUU BIN sebagai upaya mereformasi BIN yang selama 
ini melibatkan birokrat hingga ke tingkat RT/RW untuk aktivitasnya.

"Alasan lainnya adalah Munir juga kritis terhadap rencana pembentukan BIN di 
daerah-daerah, protes Munir atas keterlibatan Hendropriyono yang masih aktif 
sebagai tim pemenangan Megawati Soekarnoputri, dan kasus Talangsari yang 
melibatkan `Garuda Hitam` bentukan Hendropriyono," katanya.

Senada dengan itu, Ketua PusHAM Unair Bambang Budiono menyatakan, reformasi BIN 
merupakan "kunci" demokrasi di Indonesia, karena BIN selama ini memang sering 
disalahgunakan untuk praktek-praktek anti-demokrasi.

"Kalau BIN tidak direformasi, saya kira demokrasi di Indonesia masih belum 
maksimal. Apalagi BIN sampai saat ini masih menjadi satu-satunya lembaga yang 
tak tersentuh demokratisasi," katanya.(*)


Copyright © 2007 ANTARA


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke