> "sunny" <am...@...> wrote: > Refleksi : Apa yang diharapkan > rakyat kecil dari rezim SBY dan > konco-konconya?
Apa yang bisa diharapkan rezim SBY dan konco2nya dari rakyat kecil??? Begitulah baik rezim SBY maupun rakyat kecil sama2 saling mengharapkan. Oleh karena itu harus ada yang menciptakan harapan agar kedua belah pihak bisa saling mengharapkan. Dan yang bertanggung jawab menciptakan harapan ini hanyalah rezim SBY dan konco2nya. Roda ekonomi adalah harapannya, kalo ada perputaran roda ekonomi, maka rakyat kecil bisa hidup cukup nafkah sehingga sanggup bayar pajak yang diharapkan oleh rezim SBY dan konco2nya. Problematik yang timbul sekarang adalah rezim SBY dan konco2nya tidak sanggup menggerakkan roda ekonomi tapi rakyat kecil tetap dipaksa bayar pajak meskipun hidup kurang nafkah yang tidak bisa bayar pajak itu hanyalah menimbulkan malapetaka saja. Pemecahan yang tepat adalah menyingkirkan problemnya, artinya menyingkirkan rezim SBY dan konco2nya, sudah tidak mampu membuka lapangan kerja, malah korupsi pula dalam posisinya, sehingga ibaratnya benalu yang merampas makanan pohon dimana akhirnya pohon itu mati kekeringan. Ny. Muslim binti Muskitawati. > > > http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/matinya-ekonomi-rakyat-kecil/ > > Jumat, 29 Oktober 2010 14:00 > Matinya Ekonomi Rakyat Kecil > OLEH: NAOMI SIAGIAN > > > > Yogyakarta - Sekolah SDN Purworejo 2, Hargobinangun, mendadak berubah menjadi > barak pengungsi. > > > Ruang-ruang kelas dipenuhi pengungsi. Halaman sekolah disulap menjadi dapur > umum. Sekolah tersebut merupakan salah satu titik di antara tiga titik > pengungsian yang dibuat untuk menampung para korban meletusnya Gunung Merapi. > Jumlah pengungsi mencapai 17.776 orang. > > > Puluhan ribu pengungsi kini menanti tanpa kepastian kapan bisa kembali ke > rumahnya. Jika kembali pun, rumah sudah porak-poranda atau tertutup abu > vulkanik. Ladang dan ternak yang menjadi mata pencaharian utama banyak > terbakar lava dan abu panas. Tempat wisata, terutama Kaliurang, yang > merupakan bagian pencaharian masyarakat, juga tutup. > Bencana tidak hanya membawa duka karena meninggalnya puluhan orang, tapi juga > mematikan perekonomian masyarakat kecil. Sarjinem (50), yang ditemui di barak > pengungsi Hargobinangun, sangat merasakan pendapatannya nyaris hilang sejak > adanya peningkatan intensitas Gunung Merapi mulai bulan lalu. Sarjinem > sehari-hari hanya mengandalkan perekonomian keluarga sebagai tukang cuci di > sebuah pondok wisata di Kaliurang. > > > "Sejak satu bulan ini tamu sepi. Kalau tamu sepi, berarti saya tidak > dipanggil mencuci," kata Sarjinem yang mengungsi dengan keluarga tanpa > membawa apa pun. Sirene peringatan berbunyi pada pukul 05.00 pagi membuat > mereka bergegas meninggalkan rumah dan meninggalkan semua harta benda. > > > Suami Sarjinem seorang pengangguran. Padahal, pendapatannya sebagai buruh > cuci dibayar paling tinggi Rp 30.000 per hari. Itu pun kalau tamu pondok > ramai. Kalau tamu sepi, dia tidak punya penghasilan sama sekali. Sarjinem > belum bisa membayangkan pekerjaan apa yang akan dilakukan seandainya mereka > diizinkan kembali ke rumah. Sebab, orang masih akan takut berkunjung ke > tempat wisata Kaliurang. Ini adalah ketiga kalinya Sarjinem dan keluarga > menghadapi situasi seperti ini. Awalnya tahun 1994 dan kemudian tahun 2006. > Setiap kali mereka terpaksa mengungsi, sejak itu pula mereka memulai > kehidupan perekonomiannya dari nol kembali. > > > Pengalaman yang sama dirasakan oleh Sumiyati (51). Sumiyati bekerja sebagai > pedagang bakmi di Kaliurang Selatan. Pendapatannya rata-rata Rp > 10.000-20.000/hari. "Siapa mau beli? Pendatang juga jarang," tutur Sumiyati > yang punya satu anak ini. Sumiyati dan suaminya seorang buruh, harus berjuang > lagi pascabencana. Membangun perekonomian keluarga dengan harapan hidup bisa > sejahtera. > > > Ratmi (41), penduduk Cantringan, sudah sejak seminggu ini tidak bisa > berdagang nasi kuning yang menjadi andalan keluarga. Semua anggota > keluarganya lari ke barak pengungsian. Dengan lugu Ratmi meminta pemerintah > tidak cuma memberi makanan atau lauk-pauk buat pengungsi. Yang diharapkan > masa depan keluarga mereka harus bertahan. > Kehidupan mereka yang sebelumnya miskin semakin suram dengan datangnya > bencana. Ini saatnya pemerintah menunjukkan tindakan nyata untuk > menanggulangi kemiskinan. n > > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
