Namun HB Jassin pernah tegar lho, pilih dipenjara ketimbang
mengungkapkan
identitas Ki Panji Kusmin?

Kalik, nantinya @Wandu, @Jumawan dst termasuk Sitor dan @Sunny akan
diusulkan juga. Eh siapa tahu.

Nulis Sitor nDeboost kok lalu ingat sama @R-Tumor, kumahak etak barudak?

--- In [email protected], Scheherazade Scheher
<scheherazade2...@...> wrote:
>
> Tidak selalu mudah memasukkan seorang intelektual ke  dalam kategori
> pengkhianat ataupun pahlawan. sistem nilai dan  kondisi
> politik-kultural dalem sebuah masyarakat perlu  dipertimbangkan untuk
> menilai posisi seseorang dalam konteks sejarah tertentu. Pada umumnya
> pengkhianatan intelektual itu  terjadi manakala bersinggungan dengan
> kekuasaan.
>
> Sekiranya filsuf Martin Heidegger (1889-1976) tidak segera
> mengundurkan diri sebagai rektor Universitas Freiburg pada 1934,
padahal
> dia baru saja diangkat pada 1933, barangkali cap  sebagai pengkhianat
> mungkin dapat dibenarkan. bukankah filsuf  ini semula dengan penuh
> semangat mendukung rejim Nazi di bawah  kepemimpinan Adolf Hitler???
> akibat dukungan ini, Heidegger  masih dilarang mengajar selama
beberapa
> tahun pasca Perang Dunia II, gara-gara keterlibatannya dalam
> politik, sekalipun hanya sebentar.
>
> Tetapi sebagai seorang filsuf yang jelas intelektual,  sikap mendukung
> sebuah rejim fasistik ekspansif yang dikutuk  seluruh dunia beradab
> sampai hari ini, memang patut  dipertanyakan. kasus lain yang lebih
> ringan berkaitan dengan masalah  kebudayaan politik Indonesia, adalah
> sikap HB Jassin, Wiratmo  Sukito, dan Trisno Sumardjo yang mohon
> bimbingan dan petunjuk  kepada Presiden Soekarno dalam upaya mereka
> untuk  menyempurnakan pengembangan kebudayaan nasional atas dasar
> filosofi pancasila dengan haluan Manipol-Usdek, merupakan  sebuah
> pengkhianatan intelektual atau keterpaksaan  manusiawi pada saat
> pendukung Manifes Kebudayaan sedang diganyang habis-habisan oleh Lekra
> (lembaga kebudayaan rakyat), di mana pramudya ananta toer sebagai
salah
> seorang biang kerok utamanya??? Jika orang memake kacamata item putih,
atau
> penganut idealisme mutlak, bisajadi sikap ketiga tokoh ini adalah
> sebuah pelacuran. Tetapi dunia bukanlah item-putih, sehingga sebuah
> tingkat kearifan tertentu sangat diperlukan sebelum orang memberikan
> penilaian yang konklusif terhadap sebuah fenomenon manusia.
>
> dengan pemetahuan yang sedikit ini,saya kepengen mencoba  menelusuri
> jejak-jejak kebudayaan politik Indonesia kontemporer untuk melihat
> sampai di mana dan apa akibatnya jika pengkhianatan kaum intelektual
itu emang
> bener-bener terjadi.
>
> --- On Fri, 11/5/10, wawan selarasmi...@... wrote:
>
> From: wawan selarasmi...@...
> Subject: [proletar] Re: Tan Malaka di Mata Ilmuwan Belanda Harry A
Poeze
> To: [email protected]
> Date: Friday, November 5, 2010, 2:19 PM
>
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> wah...wah...
>
>
>
> ini riaupos ngaco...
>
>
>
> 1. Harry A Poeze itu sejarawan dan bukan ilmuwan...
>
> 2. Tan Malaka di tahun 1948 itu dilepas oleh Soekarno karena
kedatangan Musso dari Soviet, Musso dan Tan Malaka ini meski
revolusioner radikal kiri, tapi keduanya bertengkar akibat keputusan
Musso yang melakukan pemberontakan komunis Indonesia di tahun 1926 tidak
didukung oleh Tan Malaka.
>
>
>
> Maksudnya Soekarno itu agar Musso bisa dinetralisir oleh Tan Malaka...
>
>
>
> Soekarno ini kalo dicermati otaknya ya bandit...suka mengadu domba,
setelah itu ditangkapnya sjahrir oleh Tan Malaka kabarnya ya diotaki
oleh Karno ...
>
>
>
> belum lagi pembubaran masyumi, dan partai sosialis lainnya (semacam
murba)...
>
>
>
> karno ini hobbynya main serong kiri kanan...
>
>
>
> --- In [email protected], "sunny" ambon@ wrote:
>
> >
>
> >
http://riaupos.com/news/2010/11/05/tan-malaka-di-mata-ilmuwan-belanda-ha\
rry-a-poeze/
>
> >
>
> > Tan Malaka di Mata Ilmuwan Belanda Harry A Poeze
>
> > - 5 November 2010Posted in: Nasional
>
> >
>
> > AKARTA (RP) - Semangat dan visi Tan Malaka masih terus dihidupkan.
Ilmuwan berkebangsaan Belanda Harry A Poeze bahkan menilai tokoh gerakan
kiri dan revolusi di Indonesia itu layak digelari pahlawan nasional.
>
> >
>
> > Tan Malaka merupakan salah satu tokoh legendaris yang dimiliki
Indonesia. Banyak pihak bahkan menyejajarkan tokoh kelahiran Sumatera
Barat, 19 Februari 1896, itu dengan figur Soekarno, Hatta, maupun
tokoh-tokoh nasional era kemerdekaan lainnya, seperti Sjahrir.
>
> >
>
> > Hanya, nasib dan sejarah berkata lain. Meski terlibat dalam
perjuangan melawan kolonialisme, hingga kini Tan Malaka tidak termasuk
dalam daftar pahlawan nasional.
>
> >
>
> > ''Dia itu (Tan Malaka, red) tokoh misterius, pelawan kolonialisme,
tapi selalu jadi pecundang," ujar Harry A Poeze, saat peluncuran bukunya
tentang otobiografi Tan Malaka, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta,
Kamis (4/11). Hadir dalam acara itu Roy BB Janis, mantan aktivis PDIP.
>
> >
>
> > Dia menilai, meski termasuk sosok yang hebat dan gigih menentang
penjajahan, pemilik nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka itu termasuk
tokoh yang selalu terpinggirkan.
>
> >
>
> > ''Dia layak jadi pahlawan nasional. Dari 120 daftar, namanya (Tan
Malaka, red) masih belum ada," tegas Harry.
>
> >
>
> > Menurut dia, Tan Malaka termasuk tokoh yang menghabiskan sebagian
besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia. Hal itu terjadi
karena kekukuhannya mengkritik pemerintah kolonial Hindia Belanda saat
itu.  Namun, dalam pengembaraannya di luar Indonesia, Tan Malaka
memainkan banyak peran intelektual penting dalam membangun jaringan
gerakan sosialis internasional. Dia sempat aktif dan bekerja di
Komintern, sebuah organisasi komunis revolusioner internasional.
>
> >
>
> > Sesudah dua puluh, Tan Malaka baru bisa kembali ke Indonesia pada
1942. "Itu pun dengan nama samaran karena masih menjadi incaran
pemerintah Hindia Belanda," ungkap Harry, mengupas sedikit isi bukunya. 
Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan
Asia Tenggara) itu juga mengungkapkan, masa-masa awal kembali ke
Indonesia itu merupakan saat-saat dia berkenalan dengan
pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya.
>
> >
>
> > Di antaranya, Soekarno, Hatta, ataupun Sjahrir. ''Tapi, segera pula
mereka tidak sejalan. Tan Malaka memilih jalan perjuangan dan bukan
jalan diplomasi," imbuhnya. Karena itu, dia tidak diberi peran dalam
proklamasi kemerdekaan Indonesia.
>
> >
>
> > Keteguhan sikap Tan Malaka terus dipilihnya hingga masa-masa pasca
kemerdekaan. Dia mendirikan Persatoean Perdjoeangan yang menjadi sparing
partner pemerintah Indonesia saat itu yang lebih memilih jalur moderat. 
Meski berpandangan sosialis, PKI yang saat itu menjadi partai cukup
besar juga tak luput dari kritik. "Dia terus melakukan konfrontasi di
parlemen, tapi akhirnya kalah," beber Harry.
>
> >
>
> > Tidak lama, Tan Malaka dan sejumlah pengikutnya ditangkap dan
ditahan tanpa proses sama sekali. Yaitu, sekitar Maret 1946 sampai
September 1948. Setelah meletus pemberontakan PKI di Madiun, September
1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan
begitu saja dari penjara. "Ini proses politik yang unik, yang tidak
pernah ada duanya di Indonesia," imbuhnya.
>
> >
>
> > Pada 1949, sekitar Februari, Tan Malaka tiba-tiba hilang tak tentu
rimbanya. Lewat penelusuran Harry-lah sebuah makam yang diduga berisi
kerangka Tan Malaka akhirnya ditemukan. Makam itu terletak di Desa
Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
>
> >
>
> > Makam itu dibongkar pada September 2009 lalu. Selanjutnya, kerangka
tersebut dibawa ke RSCM Jakarta untuk uji deoxyribonucleic acid (DNA).
Harry mengatakan, ahli forensik RSCM sekaligus Ketua Tim Forensik Djaja
Surya Atmadja gagal melakukan tes DNA terhadap kerangka tersebut. Alasan
yang disampaikan tim dokter adalah kerangka sangat rapuh yang diduga
terkena air.
>
> >
>
> > Kerangka tersebut lantas dikirim ke Korea Selatan untuk diteliti
lagi. Namun, setahun telah berlalu, hasil uji DNA tidak pernah diumumkan
kepada publik. "Harus diungkap sebagai fakta sejarah," katanya.
>
> >
>
> > Meski demikian, lanjut Harry, terdapat beberapa fakta forensik yang
mengindikasikan bahwa kerangka tersebut adalah Tan Malaka. Di antaranya
hasil pemeriksaan menyebutkan, kedua lengan bersilang ke belakang. "Ini
petunjuk penting karena dia (Tan Malaka, red) ditembak mati dan pada
waktu itu kebiasaannya lengan diikat ke belakang. Semua informasi ini
cocok dengan Tan Malaka," kata Harry.
>
> >
>
> > Selain itu, kata Harry, penelitian menemukan tinggi kerangka
tersebut antara 1,63-1,65 meter. Berdasar keterangan polisi yang
diperoleh Harry, tinggi Tan Malaka adalah 1,65 meter. "Bisa disebutkan
kerangka yang ada adalah kerangka Tan Malaka, seorang pejuang yang belum
jadi pahlawan," ujar Harry.(dyn/jpnn)
>
> >
>
> >
>
> > [Non-text portions of this message have been removed]
>
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke