http://riaupos.com/news/2010/11/05/tan-malaka-di-mata-ilmuwan-belanda-harry-a-poeze/
Tan Malaka di Mata Ilmuwan Belanda Harry A Poeze - 5 November 2010Posted in: Nasional AKARTA (RP) - Semangat dan visi Tan Malaka masih terus dihidupkan. Ilmuwan berkebangsaan Belanda Harry A Poeze bahkan menilai tokoh gerakan kiri dan revolusi di Indonesia itu layak digelari pahlawan nasional. Tan Malaka merupakan salah satu tokoh legendaris yang dimiliki Indonesia. Banyak pihak bahkan menyejajarkan tokoh kelahiran Sumatera Barat, 19 Februari 1896, itu dengan figur Soekarno, Hatta, maupun tokoh-tokoh nasional era kemerdekaan lainnya, seperti Sjahrir. Hanya, nasib dan sejarah berkata lain. Meski terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme, hingga kini Tan Malaka tidak termasuk dalam daftar pahlawan nasional. ''Dia itu (Tan Malaka, red) tokoh misterius, pelawan kolonialisme, tapi selalu jadi pecundang," ujar Harry A Poeze, saat peluncuran bukunya tentang otobiografi Tan Malaka, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/11). Hadir dalam acara itu Roy BB Janis, mantan aktivis PDIP. Dia menilai, meski termasuk sosok yang hebat dan gigih menentang penjajahan, pemilik nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka itu termasuk tokoh yang selalu terpinggirkan. ''Dia layak jadi pahlawan nasional. Dari 120 daftar, namanya (Tan Malaka, red) masih belum ada," tegas Harry. Menurut dia, Tan Malaka termasuk tokoh yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia. Hal itu terjadi karena kekukuhannya mengkritik pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu. Namun, dalam pengembaraannya di luar Indonesia, Tan Malaka memainkan banyak peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan sosialis internasional. Dia sempat aktif dan bekerja di Komintern, sebuah organisasi komunis revolusioner internasional. Sesudah dua puluh, Tan Malaka baru bisa kembali ke Indonesia pada 1942. "Itu pun dengan nama samaran karena masih menjadi incaran pemerintah Hindia Belanda," ungkap Harry, mengupas sedikit isi bukunya. Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) itu juga mengungkapkan, masa-masa awal kembali ke Indonesia itu merupakan saat-saat dia berkenalan dengan pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya. Di antaranya, Soekarno, Hatta, ataupun Sjahrir. ''Tapi, segera pula mereka tidak sejalan. Tan Malaka memilih jalan perjuangan dan bukan jalan diplomasi," imbuhnya. Karena itu, dia tidak diberi peran dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Keteguhan sikap Tan Malaka terus dipilihnya hingga masa-masa pasca kemerdekaan. Dia mendirikan Persatoean Perdjoeangan yang menjadi sparing partner pemerintah Indonesia saat itu yang lebih memilih jalur moderat. Meski berpandangan sosialis, PKI yang saat itu menjadi partai cukup besar juga tak luput dari kritik. "Dia terus melakukan konfrontasi di parlemen, tapi akhirnya kalah," beber Harry. Tidak lama, Tan Malaka dan sejumlah pengikutnya ditangkap dan ditahan tanpa proses sama sekali. Yaitu, sekitar Maret 1946 sampai September 1948. Setelah meletus pemberontakan PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara. "Ini proses politik yang unik, yang tidak pernah ada duanya di Indonesia," imbuhnya. Pada 1949, sekitar Februari, Tan Malaka tiba-tiba hilang tak tentu rimbanya. Lewat penelusuran Harry-lah sebuah makam yang diduga berisi kerangka Tan Malaka akhirnya ditemukan. Makam itu terletak di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Makam itu dibongkar pada September 2009 lalu. Selanjutnya, kerangka tersebut dibawa ke RSCM Jakarta untuk uji deoxyribonucleic acid (DNA). Harry mengatakan, ahli forensik RSCM sekaligus Ketua Tim Forensik Djaja Surya Atmadja gagal melakukan tes DNA terhadap kerangka tersebut. Alasan yang disampaikan tim dokter adalah kerangka sangat rapuh yang diduga terkena air. Kerangka tersebut lantas dikirim ke Korea Selatan untuk diteliti lagi. Namun, setahun telah berlalu, hasil uji DNA tidak pernah diumumkan kepada publik. "Harus diungkap sebagai fakta sejarah," katanya. Meski demikian, lanjut Harry, terdapat beberapa fakta forensik yang mengindikasikan bahwa kerangka tersebut adalah Tan Malaka. Di antaranya hasil pemeriksaan menyebutkan, kedua lengan bersilang ke belakang. "Ini petunjuk penting karena dia (Tan Malaka, red) ditembak mati dan pada waktu itu kebiasaannya lengan diikat ke belakang. Semua informasi ini cocok dengan Tan Malaka," kata Harry. Selain itu, kata Harry, penelitian menemukan tinggi kerangka tersebut antara 1,63-1,65 meter. Berdasar keterangan polisi yang diperoleh Harry, tinggi Tan Malaka adalah 1,65 meter. "Bisa disebutkan kerangka yang ada adalah kerangka Tan Malaka, seorang pejuang yang belum jadi pahlawan," ujar Harry.(dyn/jpnn) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
