http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=78603:tawa-dan-derai-tangis-di-negeri-petro-dolar&catid=78:umum&Itemid=131

      Tawa dan Derai Tangis di Negeri Petro Dolar        
      Oleh : Maulana Syamsuri

                 



           


      Lima belas menit lagi pesawat Saudi Airlines yang saya tumpangi pulang 
melaksanakan ibadah umroh masih kosong. Hanya terisi oleh jamaah umroh yang 
diberangkatkan oleh PT Al Ghadzas sekitar 30 orang dan beberapa mahasiswa. 

      Namun lima menit menjelang pesawat tinggal landas dari bandara di 
Madinah, lebih dari 50 perempuan bergaya selebritis memasuki pesawat dan mereka 
semua berkomunikasi dalam bahasa Arab yang fasih. Mereka cantik, perhiasan dan 
permata lekat ditubuh mereka, selendang, tas, pakaian dan sepatu gaya milyuner. 
Parfumnya menyebarkan aroma harum di pesawat. Semua serba wah. Inilah selebriti 
Arab Saudi, pikir saya. Mungkin juga keluarga para milyuner Arab Saudi yang 
akan plesiran ke Singapura karena pesawat yang saya tumpangi akan mampir di 
Singapura . 

      Dua orang perempuan bergaya selebriti duduk di sisi kiri saya. Keduanya 
memberi salam secara muslim kepada saya. 

      "Are You student of Islamic University of Madinah Munawwarah?", tanya 
saya dalam Bahasa Inggris.

      Dua orang yang saya duga adalah selebriti berkebangsaan Arab yang duduk 
di sisi kiri saya hanya menjawab dengan senyum-senyum. Ternyata kedua perempuan 
cantik bergaya selebriti itu tidak mengerti Bahasa Inggris, tapi fasih 
berbahasa Arab. Akhirnya salah seorang perempuan itu mengaku, bahwa mereka 
bukanlah orang Arab, tapi orang Sunda yang akan mudik ke Karawang dan seorang 
lagi ke Cisarua, Jawa Barat.

      Dengan amat lugu ia mengaku sebagai pekerja migran yang sudah tujuh tahun 
bekerja di Arab Saudi. Mereka enggan disebut sebagai TKW.

      Astaga. Dugaan saya sungguh keliru. Mereka bukan mahasiswi Universitas 
Islam Madinah Munawwarah dan bukan keluarga milyuner Arab Saudi. Gaji besar di 
negeri petro dolar itu menyebabkan mereka mampu berpenampilan sepert isteri 
milyuner.

      Saya senang bertemu mereka dan ngobrol panjang lebar. Saya banyak 
mendapatkan informasi dari mereka.

      Perempuan berkerudung dan bersepatu tumit tinggi itu mengaku bernama Teh 
Imas, sudah delapan tahun bekerja di Riyadh dan sesekali bertandang ke Madinah 
atau Jeddah untuk menemui rekan-rekan sekampung.

      Lima puluh perempuan pekerja migran yang baru naik ke pesawat itu terus 
saja saling ngobrol dalam bahasa Arab yang fasih, mirip penyiar TV Al Zazirah.

      Dua perempuan bergaya selebriti di sisi saya mengaku bergaji 900 rial 
perbulan atau sekitar 2,3 juta rupiah termasuk lembur. Makan tiap hari gratis 
hingga gaji mereka utuh. Majikan mereka baik dan pemurah. Bekerja dalam sehari 
tidak lebih dari 10 jam, istirahat sedikitnya 8 jam, lebih dari itu dihitung 
lembur Mereka juga diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah sholat, juga 
ibadah haji dan umroh.

      Kedua perempuan cantik mirip selebriti yang berasal dari Jawa Barat itu 
mengaku tidak takut dianiaya, tidak takut diperkosa oleh majikan atau 
anak-anaknya.

      Saya katakan kepada mereka saat ini banyak pekerja migran, terutama kaum 
perempuan diperkosa, dianiaya dan dibunuh. Dua perempuan di sisi saya segera 
protes. Menurut mereka wajar bila satu atau dua orang teraniaya, namun masih 
ratusan ribu pekerja lainnya di Arab Saudi hidup senang, serta hidup sukses, 
mendapatkan gaji besar dan tiap tahun mampu mengirim uang puluhan juta rupiah. 
Mereka tahu, bahwa saat ini sekitar 6,1 juta orang pekerja migran dari 
Indonesia bekerja di berbagai negara, 80 persen bekerja disektor informal atau 
sebagai PRT. Di Arab sendiri ada satu juta pekerja Indonesia.

      Wajar kalau diantara 1 juta pekerja migran terjadi 5.635 kasus yang 
artinya hanya dalam hitungan permil saja. Sisanya aman-aman saja, bahagia, 
bekerja dan menabung uang.

      Teteh Imas, perempuan bergaya selebriti di sisi saya, mengaku sudah punya 
sawah 15 hektar di Karawang. Teh Komariah sudah membangun rumah permanen di 
desanya dan rencananya akan membuka restoran di Cisarua, di kawasan puncak. 

      Para pekerja yang sedang menikmati cuti pulang kampung itu juga tahu dari 
media dan dari informasi sesama pekerja migran, bahwa sudah banyak korban 
pelecehan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap pekerja migran. Tapi mereka tidak 
gentar sepanjang majikan mereka baik dan tidak menganggap warga Indonesia 
sebagai budak. Majikan mereka adalah keluarga muslim yang tetap memegang 
prinsip, yakni sesama muslim adalah bersaudara, bukan dianggap budak. Apalagi 
pekerja migran itu sebelum berangkat dibekali ketrampilan 200 jam sehingga 
trampil, sangat mengerti akan tugas-tugasnya. Mereka yang dianiaya biasanya 
tidak tahu tugas pokoknya,bahkan terkadang selingkuh dengan pria Bangladesh 
atau India. Perselingkuhan seperti ini banyak terjadi di Arab.

      230 Juta Warga Indonesia Protes

      Kabar tentang penyiksaan dan penganiayaan terhadap Sumiati dan kematian 
Kikim Komalasari yang jenazahnya ditemukan di tempat sampah menuai protes 
keras. Seluruh warga Indonesia merasa ikut prihatin. Bahkan Presiden SBY segera 
menunjuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak, Linda Amalia, 
untuk berangkat ke Arab Saudi meminta kejelasan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi 
tentang banyaknya kasus-kasus yang menimpa TKI dan TKW.

      Tidak hanya rakyat dan Pemerintah RI yang melakukan protes keras tetapi 
badan-badan internasional juga banyak yang mendukung protes terhadap tragedi 
yang sangat tidak manusiawi itu. Diantaranya adalah dari Human Rights Watch, 
organisasi hak azasi manusia yang berpusat di New York. Juga dari Action 
Network for Migran Worker and Migran Service Centre. Memang selayaknya kita 
tidak boleh menganggap sepele masalah pekerja migran Indonesia di luar negeri. 
Harian Kompas (24/11) menurunkan tulisan, bahwa para TKI yang jumlahnya 6,1 
juta orang, mereka bergelar pahlawan devisa itu mampu menyumbangkan devisa 
sedikitnya US $ 13 milyar atau Rp.130 triliyun, jauh lebih besar daripada pajak 
penghasilan para pegawai negeri maupun BUMN.

      Akhirnya Kerajaan Saudi mengakui kejadian yang sangat kejam dan zholim 
itu, melalui duta besarnya di Indonesia, Abdurahmen Al Khayat, Kerajaan Arab 
Saudi mohon maaf kepada pemerintah dan rakyat Indonesia. Pihak Kerajaan 
berharap agar pada majikan warga Arab Saudi tidak mengulangi hal serupa dan 
menerima para pekerja TKI/TKW secara manusiawi. Al Khayat menyatakan pemerintah 
Arab Saudi tidak bisa mentolerir dan akan menindak tegas pelaku penyiksaan itu. 
Selanjutnya duta besar itu berjanji pada waktu mendatang peristiwa serupa tidak 
akan terulang lagi. Hukum yang berlaku di Kerajaaan Arab Saudi adalah hukum 
Islam. Setiap warga Arab harus menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan.

      Sebelumnya, Duta Besar Arab Saudi, Abdurahmen Al Khayat, juga sudah 
melakukan klarifikasi melalui konfrensi pers dan mengatakan agar kasus Sumiati 
tidak terlalu dibesar-besarkan. Duta besar itu mengatakan, bahwa apa yang 
terjadi hanya bagian terkecil dari satu juta pekerja Indonesia yang ada di Arab 
Saudi. 

      Dari sekian ribu kasus TKI, bila dipilah berdasarkan negara tujuan 
pekerja, kasus yang terjadi pada urutan pertama adalah di Arab Saudi, sebanyak 
55 persen dari total kasus. (Kompas ,26/11)

      Rincian kasus menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan, 
TKI di Arab, kasus penganiayaan ada 2.114 kasus, pelecehan seksual 1.709 kasus, 
bermasalah dengan majikan 1.626 kasus, sementara meninggal karena akibat kerja 
7.197 kasus dan PHK sepihak 8.581 kasus.

      Perlakuan penganiayaan yang terjadi di negara Asia terhadap TKI juga 
cukup tinggi, meskipun jumlah pekerja di kawasan itu tidak sebanyak di Arab. Di 
Malaysia misalnya, kasus penganiayaan mencapai 83 kasus, di Singapura 173 
kasus, Hong Kong 52 kasus, Taiwan 90 kasus serta Brunei 3 kasus. Tentang gaji 
yang tidak dibayar di Negara Asia, di Malaysia ada 61 kasus, Singapura 63 
kasus, Taiwan 23 kasus, Hong Kong 5 kasus, Jepang 2 kasus.

      Pelecehan seksual di negara Asia pada urutan pertama adalah di Singapura 
173 kasus, menyusul Malaysia 60 kasus, Hong Kong 52 kasus, Taiwan 90 kasus dan 
Makao 1 kasus.

      Mudah-mudahan apa yang sedang dirintis oleh pemerintah RI untuk perbaikan 
dan perlindungan pekerja migran membuahkan hasil. Demikian pula, apa yang 
dijanjikan Kerajaan Arab Saudi melalui dubesnya di Indonesia, penganiayaan 
terhadap TKI dan TKW tidak akan terulang lagi. Kita pantas mengacungkan jempol, 
bila diterapkan hukum Islam secara benar dan tepat terhadap para majikan. 
Penganiayaan tidak akan terjadi lagi, karena Islam mengajarkan, bahwa sesama 
ummat Islam adalah bersaudara, sementara mereka yang bekerja di Arab adalah 
muslim. Mudah-mudahan yang dijanjikan Kerajaan Arab Saudi menjadi kenyataan, 
tidak ada lagi kezoliman di negeri Petro Dolar itu.

      Bersyukurlah para pekerja migran yang ditempatkan pada majikan yang baik 
yang berpenghasilan jauh dari lumayan, sementara tenaga formal di Jepang yang 
berpendidikan teknik atau perawat dan mengerti bahasa Jepang mendapat bayaran 
90.000 yen atau hampir 10 juta rupiah.

      Indonesia adalah negara berdaulat, bermartabat, jangan ada satupun warga 
kita dizolimi di negeri orang.***

      Penulis melaksanakan Ibadah Haji thn 2001 dan Umroh 2008.
     






[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke