Sebuah perdebatan yang enak disimak, membawa kita ke alam pemikiran yang justru lebih memijak tanah dibanding antah-berantah sehari-hari di era reformasi. Era yang sarat persoalan dan semuanya berujung buntu tanpa akhir, alias akhirnya berputar-putar di jalan buntu.
Banyak yang bilang reformasi tidak bangkrut sendirian, ia menyusul sosialisme yang terus bokek sejak republik ini berdiri. Oleh karena itu, pertanyaan Andre Andreas menjadi sahih, apa benar gerakan sosial sungguh kehabisan gagasan dan kehilangan imajinasi? Jawabannya tentu saja, 'tidak'. Sekurangnya kata itulah yang bergema di kepala saya :) Bokek sebagai gerakan, iya. Tapi kehilangan gagasan apalagi sampai kehilangan nyawa, spirit, jelas tidak. Buktinya, setiap hari sepanjang 12 tahun terakhir selalu ada demo menuntut perbaikan keadaan serta aneka aksi. Mulai dari demo menuntut pemerintah untuk pro rakyat sampai aksi solidaritas masyarakat dalam menangani masalah yang ditinggal bolos pemerintah, terutama di kasus bencana dan kasus kemanusiaan lainnya. Artinya, sosialisme masih beraksi. Tidak mati. Tapi memang terlalu bokek untuk menjadi gerakan. Ketika pemerintah tak berdaya menghadapi krisis, boleh percaya boleh heran, sosialisme selalu hadir dengan sendirinya. Sekedar contoh, waktu krisis moneter menghantam, pemerintah justru memodali para konglomerat dengan BLBI. Maka, ibarat anjing ketemu tulang, konglomerat buru-buru colong playu tinggalkan gelanggang. Kabur ke luarnegeri menyelamatkan hartanya berikut uang rakyat. Sedangkan para pedagang kecil & melemah tak punya pilihan lain kecuali bertahan dengan berjuang sendiri menyelamatkan usahanya. Berbeda dari pemerintah & konglomerat yang sibuk menyelamatkan diri, kepak sayap pedagang kecil membawa dampak besar. Kebutuhan sehari-hari masyarakat, terutama pangan, tetap terlayani. Perputaran uang berjalan. Dan pada gilirannya, perekonomian negara terhindar dari kemacetan parah. Sulit dibayangkan kalau pedagang kecil juga menyelamatkan diri seperti para konglomerat, pergi ke luar negeri jadi TKI misalkan, bisa jadi jual-beli di masyarakat tidak lagi memakai rupiah mengingat masa itu tukang sayur keliling pun ikut berburu dolar. Setelah krisis mereda dan keadaan relatif normal, barulah wajah usang konglomerat bermunculan lagi. Tanpa beban. Seolah tidak pernah terjadi krisis dan tak pernah ada BLBI. Kalau diingatkan, ada-ada saja alasan mereka untuk lepas dari kewajiban mengembalikan BLBI. Antara lain dengan mengajukan bukti sebagai orang bijak taat pajak demi ngemplang BLBI. Padahal, tidak ada jaminan kalau bukti pajak itu bukan kerjaan pesulap pajak macam Gayus HPT. Sepintas, kembalinya kapitalis-kapitalis yang menghilang itu seperti identik dengan situasi normal. Kaum kapitalis di mana pun selalu bersorak gaduh mengamini ini sambil menuding bahwa sosialismelah yang selalu berada di tengah krisis. Tentu saja sosialisme selalu terlihat ada bersama krisis, sebab kapitalisme selalu saja kabur dari krisis. Kapitalisme yang pestapora, sosialisme yang mencuci piringnya. Atau seperti kata peserta debat, krisis bukan pertanda kapitalisme tidak normal, tapi sebaliknya, krisis justru menunjukkan normalnya kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme tanpa krisis tidaklah normal, dan lagi-lagi sosialisme menjadi andalan untuk membereskan situasi. Mengandalkan sosialisme di saat krisis sudah seringkali terbukti. Bahkan masih bisa disaksikan di dunia Barat pada hari-hari ini. Krisis ekonomi dunia yang berawal dari krisis di Amerika (di Indonesia melahirkan kasus Century), lagi-lagi membuat para kapitalis mendadak ngecap sosialisme. Di Inggris misalnya, Perdana Menteri David Cameron nekat melempar gagasan 'Big Society'. Dengan keyakinan, utopia ini bakal disambut kaum buruh dan kalangan kiri. "We have not hired a Czar," bujuk Cameron. "This is a big advance for people power!" pekiknya sebulan setelah dilantik dengan ritual bersumpah setia kepada sang ratu. Partai Buruh sempat kaget tapi lalu menganggap ide Cameron kelewat samar atau cuma samaran. Mereka menyentil Cameron dengan memakai kata-kata dari pentolan Partai Konservatif (Thatcher), "There is no such thing as 'Society'". Di sisi lain, serikat buruh terus mengolok-olok ide Cameron seputar "British State" tersebut dalam konteks "United Kingdom"... Sepatutnyalah Cameron atau siapapun berutopia dalam menghadapi krisis berat ini. Tetapi tanpa konsep yang jelas, bisa dimengerti kalau khalayak kiri Inggris tinggal menoleh ke orang-orang di sampingnya lalu bertanya, "Apa kalian percaya, mereka (pemerintah-parlemen-kerajaan) serius memprioritaskan agenda demokrasi sosial mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan?" Jawabnya mudah ditebak. Namun cengkeraman kapitalisme memang sering membuat orang tak pandai berkata jujur. Bagi mereka, berbohong itu indah. Sedangkan bagi kaum sosialis yang sudah kenyang asam-garam- brotowali menghadapi akal-akalan kapitalisme, sudah seharusnya menolak untuk dijadikan pemadam kebakaran atau dijadikan apapun. Untuk meneruskan Indonesia Maju, entah itu utopia atau memang layak dicapai, silakan teruskan penggalian terhadap critical socialism maupun scientific socialism untuk saling melengkapi dan memperkaya pemahaman tentang sosialisme yang sesuai dengan hakikat kemanusiaan. Dengan begitu, kemajuan Indonesia nantinya tidak lagi disesaki sosialisme-wacana (sekelas janji-janji membeli ternak korban Merapi), tapi betul-betul menjadi gerakan. Kaum proletariat sebagai motor perubahan sosial dan para tokoh sebagai dirigennya. Di era 'Big Fish' sekarang ini, gerakan itu bisa mulai dengan menjauhi tokoh-tokoh yang gemar menyosialisasikan kebohongan. --- andre andreas <mataharikusatu@...> wrote: > Apakah benar gerakan sosial sungguh kehabisan gagasan dan kehilangan > imajinasi? > > Saya rindu, sungguh rindu, lahirnya satu polemik dan perdebatan yang > komprehensif (meluas, mendalam, menajam, meninggi) di kalangan > pemikir/aktifis pergerakan. Bisa jadi diantara banyak hal yang > menjadi faktor kegagalan,kemandegan, demoralisasi gerakan (yang > disimpulkan sendiri oleh banyak aktifis)tentunya tanpa mengingkari > adanya kemenangan-kemenangan kecil dan kemajuan yang terjadi > barangkali kita harus menilik langkanya polemik dan perdebatan > terbuka yang bergizi dan berenergi. Saya sangat bersepakat dengan > kawan-kawan Resist Book yang menawarkan serial buku bertopik Seri > Gerakan Sosial yang didedikasikan bagi gerakan-gerakan sosial yang > kehabisan gagasan dan kehilangan imajinasi. Dimana disebutkan > buku-buku di seri ini akan memadukan pendekatan teoritis > berdampingan dengan temuan-temuan kontemporer. Dan tepat di titik > ini Indoprogress menghadirkan perdebatan yang hangat dan > komprehensif tentang gagasan dan utopia (mimpi-imajinasi). > > Ya 2 bulan belakangan ini kerinduanku itu menemukan dahaganya dalam > satu perdebatan hangat yang dipicu satu artikel Airlangga Pribadi, > Koordinator Serikat Dosen Progresif, Pengajar Ilmu Politik FISIP > Universitas Airlangga Meneruskan Utopia Indonesia. Sampai saat ini > perdebatan yang telah berlangsung 2 bulan ini telah menelurkan 11 > artikel yang merupakan kontribusi dari 5 aktifis/pemikir. Airlangga > Pribadi sendiri, kemudian Coen Husain Pontoh, Muhammad Ridha, M > Fajar, Bimo Semiarto (semoga akan masih terus berlangsung dengan > keterlibatan yang lebih luas). > > Salute untuk kawan-kawan semua, khusus kepada Coen yang terus > konsisten dan bertekun dengan Indoprogressnya, menghidupkan > (memberi ruang) dan merawat bunga-bunga pemikiran dari kalangan > gerakan progresif Indonesia. > > * sepanjang pengetahuan saya yang rada 'kuper' dan kurang > membaca ini mungkin ini adalah satu-satunya polemik dan perdebatan > terbuka yang komprehensif macam ini dalam beberapa tahun belakangan > ini. bahkan sepanjang ingatan saya, tak pernah bertemu dalam 5 > atau 10 tahun belakangan ini (semoga saya salah besar). bila > kawan-kawan mengetahui polemik dan perdebatan terbuka lain yang > terjadi, sudilah kiranya menginformasikannya dan baik kiranya di > 'publikasikan' kembali. > > > pangkal perdebatan ---------------------------------- > > APABILA kita hidup delapan puluh dua tahun lalu saat Pemuda > Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, Assat dan Sukiman dan pemudi > Sitti Soendari, memimpin sebuah ikrar yang kemudian kita kenang > sebagai peristiwa Sumpah Pemuda, maka akan kita rasakan bahwa > semangat zaman dan suasana mental yang tumbuh dan membakar di > kalangan kaum muda saat itu, bukan saja sebuah momen historis saat > segenap sentimen kedaerahan dan tendensi provisionalisme berubah > menjadi kesadaran untuk menyatu dan terikat dalam komunitas impian > bersama: bangsa Indonesia. > > Namun, lebih dari kesadaran untuk bertumpah darah satu, tanah air > Indonesia; berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa satu > bahasa Indonesia, yang lebih membanggakan lagi bagi kaum pemuda > pelajar yang hidup sebagai kaum terjajah adalah untuk pertama > kalinya zaman itu dihayati sebagai Zaman Kemenangan! Saat > sekumpulan kaum muda yang sering dijuluki inlander, atau bahkan > Minke atau Monkey (dalam penuturan dari Pramoedya Ananta Toer) > berhasil memenangkan gagasan tentang Indonesia dalam pertarungan di > ruang publik kolonial Hindia Belanda. > > Seperti dituturkan oleh R.E. Elson dalam karya magnum opusnya The > Idea of Indonesia, menginjak akhir era 1920-an, term Indonesia > menjadi sebuah teks hegemonik terutama di kalangan aktivis politik, > dimana orang-orang Belanda sendiri mengakui bahwa pada saat itu > gagasan tentang Indonesia semakin diterima di tanah jajahan oleh > kaum Bumiputera. Sebuah perjuangan atas nama sebuah kata sebagai > perekat impian bersama, meja statis yang mempersatukan segenap > kolektivitas perlawanan terhadap kolonial dan menjadi leitstar > (bintang penunjuk jalan) bagi arah masa depan himpunan kolektivitas > ini adalah sebuah perjalanan politik heroik yang panjang. > (Meneruskan Utopia Indonesia -Airlangga Pribadi, Koordinator > Serikat Dosen Progresif, Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas > Airlangga) > > > polemik dan perdebatan selengkapnya > > http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2011/01/polemik-dan-perdebatan... > > > -- ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
