Itulah. Sepertinya Deng Xiaoping lebih punya kuping dari Brezhnev waktu Solzhenitsyn bilang, "seseorang bisa saja membangun Empire State Building sekaligus pasukan sedisiplin tentara Prusia dan hirarki melebihi kekuasaan Tuhan, namun gagal mengatasi keunggulan - kemuliaan - manusia yang tak terukur."
Intinya, manusia & kemanusiaan tidak bisa (dan tidak boleh) dikalahkan dari hal-hal duniawi yang akuntabel. Hasilnya, Cina melaju tenang dan luabiasa maju. Sedangkan Uni Soviet, bubar. Sementara si pemilik gedung Empire State masih luntang-lantung perang kian-kemari. Jauh sebelum Solzhenitsyn ngomong begitu, pemikiran pemuda-pemudi kepulauan Nusantara juga sudah sesak dengan paham kemanusiaan (kesadaran bahwa manusia adalah pusat dunia) dan meledak jadi kekuatan untuk bersatu sebagai bangsa yang menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi. "Kita tidak boleh silau melihat gejala-gejala yang bersifat sementara dan hal-hal yang aktual saja, tetapi kita harus melihat hal-hal yang lebih besar dan mengarahkan akal budi kit kepadanya; itu memberi ketenangan, kekuatan, keyakinan" (Sutan Sjahrir, Cipinang, 1934). Ironis betul, bangsa yang lebih cerdas dari Solzhenitsyn & Deng ini sekarang disandera orang-orang yang silau sama hal-hal cetek seperti popularitas & kekuasaan yang serba sesaat. Disandera untuk dapatkan utang dan didera untuk membayarnya. Dan utang, adalah berhalanya kapitalisme global. Simbol "ketuhanan" bagi mereka untuk merongrong dan berkuasa atas bangsa lain. Dalam hal Tunisia, sejarahnya pernah mencatat pada abad XIX Prancis "membantu" mereka 5,5 juta Franc untuk beli sebuah kapal perang tua. Tapi untuk perawatan kapal dan gaji teknisi Prancis, Tunisia dikenai biaya 3,5 juta Franc. Padahal, sejak kedatangannya, kapal tua itu jangankan memenangkan perang, berlayar saja tak mungkin. Tidak ada manfaatnya buat rakyat Tunis yang harus banting tulang membayar 10 juta Franc. --- heri latief <herilatief@...> wrote: > lihat aja tunisia di thn 2011. rakyat tunisia menuntut partainya > ben ali dibubarkan, tapi gak bisa, kerna tentara tunisia masih > mendukungnya, nah kita lihat aja nanti apakah tunisia juga > mengulang cerita kegagalan reformasi 98 indonesia yg jadi busuk > kerna tak sanggup merubah keadaan. > > ________________________________ > From: ajeg <ajegilelu@...> > > > Sebuah perdebatan yang enak disimak, membawa kita ke alam > > pemikiran yang justru lebih memijak tanah dibanding antah- > > berantah sehari-hari di era reformasi. Era yang sarat persoalan > > dan semuanya berujung buntu tanpa akhir, alias akhirnya > > berputar-putar di jalan buntu. > > > > Banyak yang bilang reformasi tidak bangkrut sendirian, ia menyusul > > sosialisme yang terus bokek sejak republik ini berdiri. Oleh > > karena itu, pertanyaan Andre Andreas menjadi sahih, apa benar > > gerakan sosial sungguh kehabisan gagasan dan kehilangan imajinasi? > > > > Jawabannya tentu saja, 'tidak'. Sekurangnya kata itulah yang > > bergema di kepala saya :) > > > > Bokek sebagai gerakan, iya. Tapi kehilangan gagasan apalagi sampai > > kehilangan nyawa, spirit, jelas tidak. Buktinya, setiap hari > > sepanjang 12 tahun terakhir selalu ada demo menuntut perbaikan > > keadaan serta aneka aksi. Mulai dari demo menuntut pemerintah > > untuk pro rakyat sampai aksi solidaritas masyarakat dalam > > menangani masalah yang ditinggal bolos pemerintah, terutama di > > kasus bencana dan kasus kemanusiaan lainnya. Artinya, sosialisme > > masih beraksi. Tidak mati. Tapi memang terlalu bokek untuk > > menjadi gerakan. > > > > Ketika pemerintah tak berdaya menghadapi krisis, boleh percaya > > boleh heran, sosialisme selalu hadir dengan sendirinya. Sekedar > > contoh, waktu krisis moneter menghantam, pemerintah justru > > memodali para konglomerat dengan BLBI. Maka, ibarat anjing ketemu > > tulang, konglomerat buru-buru colong playu tinggalkan gelanggang. > > Kabur ke luarnegeri menyelamatkan hartanya berikut uang rakyat. > > Sedangkan para pedagang kecil & melemah tak punya pilihan lain > > kecuali bertahan dengan berjuang sendiri menyelamatkan usahanya. > > > > Berbeda dari pemerintah & konglomerat yang sibuk menyelamatkan > > diri, kepak sayap pedagang kecil membawa dampak besar. Kebutuhan > > sehari-hari masyarakat, terutama pangan, tetap terlayani. > > Perputaran uang berjalan. Dan pada gilirannya, perekonomian > > negara terhindar dari kemacetan parah. > > > > Sulit dibayangkan kalau pedagang kecil juga menyelamatkan diri > > seperti para konglomerat, pergi ke luar negeri jadi TKI misalkan, > > bisa jadi jual-beli di masyarakat tidak lagi memakai rupiah > > mengingat masa itu tukang sayur keliling pun ikut berburu dolar. > > > > Setelah krisis mereda dan keadaan relatif normal, barulah wajah > > usang konglomerat bermunculan lagi. Tanpa beban. Seolah tidak > > pernah terjadi krisis dan tak pernah ada BLBI. Kalau diingatkan, > > ada-ada saja alasan mereka untuk lepas dari kewajiban > > mengembalikan BLBI. Antara lain dengan mengajukan bukti sebagai > > orang bijak taat pajak demi ngemplang BLBI. Padahal, tidak ada > > jaminan kalau bukti pajak itu bukan kerjaan pesulap pajak macam > > Gayus HPT. > > > > Sepintas, kembalinya kapitalis-kapitalis yang menghilang itu > > seperti identik dengan situasi normal. Kaum kapitalis di mana pun > > selalu bersorak gaduh mengamini ini sambil menuding bahwa > > sosialismelah yang selalu berada di tengah krisis. > > > > Tentu saja sosialisme selalu terlihat ada bersama krisis, sebab > > kapitalisme selalu saja kabur dari krisis. Kapitalisme yang > > pestapora, sosialisme yang mencuci piringnya. Atau seperti kata > > peserta debat, krisis bukan pertanda kapitalisme tidak normal, > > tapi sebaliknya, krisis justru menunjukkan normalnya kapitalisme > > itu sendiri. > > > > Kapitalisme tanpa krisis tidaklah normal, dan lagi-lagi sosialisme > > menjadi andalan untuk membereskan situasi. Mengandalkan > > sosialisme di saat krisis sudah seringkali terbukti. Bahkan masih > > bisa disaksikan di dunia Barat pada hari-hari ini. Krisis ekonomi > > dunia yang berawal dari krisis di Amerika (di Indonesia > > melahirkan kasus Century), lagi-lagi membuat para kapitalis > > mendadak ngecap sosialisme. > > > > Di Inggris misalnya, Perdana Menteri David Cameron nekat melempar > > gagasan 'Big Society'. Dengan keyakinan, utopia ini bakal disambut > > kaum buruh dan kalangan kiri. "We have not hired a Czar," bujuk > > Cameron. "This is a big advance for people power!" pekiknya > > sebulan setelah dilantik dengan ritual bersumpah setia kepada > > sang ratu. > > > > Partai Buruh sempat kaget tapi lalu menganggap ide Cameron kelewat > > samar atau cuma samaran. Mereka menyentil Cameron dengan memakai > > kata-kata dari pentolan Partai Konservatif (Thatcher), "There is > > no such thing as 'Society'". Di sisi lain, serikat buruh terus > > mengolok-olok ide Cameron seputar "British State" tersebut dalam > > konteks "United Kingdom"... > > > > Sepatutnyalah Cameron atau siapapun berutopia dalam menghadapi > > krisis berat ini. Tetapi tanpa konsep yang jelas, bisa dimengerti > > kalau khalayak kiri Inggris tinggal menoleh ke orang-orang di > > sampingnya lalu bertanya, "Apa kalian percaya, mereka (pemerintah- > > parlemen-kerajaan) serius memprioritaskan agenda demokrasi sosial > > mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan?" > > > > Jawabnya mudah ditebak. Namun cengkeraman kapitalisme memang > > sering membuat orang tak pandai berkata jujur. Bagi mereka, > > berbohong itu indah. Sedangkan bagi kaum sosialis yang sudah > > kenyang asam-garam-brotowali menghadapi akal-akalan kapitalisme, > > sudah seharusnya menolak untuk dijadikan pemadam kebakaran atau > > dijadikan apapun. > > > > Untuk meneruskan Indonesia Maju, entah itu utopia atau memang > > layak dicapai, silakan teruskan penggalian terhadap critical > > socialism maupun scientific socialism untuk saling melengkapi dan > > memperkaya pemahaman tentang sosialisme yang sesuai dengan > > hakikat kemanusiaan. > > > > Dengan begitu, kemajuan Indonesia nantinya tidak lagi disesaki > > sosialisme-wacana (sekelas janji-janji membeli ternak korban > > Merapi), tapi betul-betul menjadi gerakan. Kaum proletariat > > sebagai motor perubahan sosial dan para tokoh sebagai dirigennya. > > > > Di era 'Big Fish' sekarang ini, gerakan itu bisa mulai dengan > > menjauhi tokoh-tokoh yang gemar menyosialisasikan kebohongan. > > > > --- andre andreas <mataharikusatu@...> wrote: > > > > > Apakah benar gerakan sosial sungguh kehabisan gagasan dan > > > kehilangan imajinasi? > > > > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
