Tahun '70an belum dikenal tawuran pelajar. Bukan saja
secara istilah ('tawuran'), tetapi yang terjadi pada
masa itu memang perkelahian antar-pelajar. Perkelahian
massal, jarak dekat, body contact. Bertarung betulan.
Sedangkan tawuran konotasinya lebih ke baku-lempar dan
baku-kejar, tanpa baku-hantam. Kalau ada lawan yang
tertangkap, nah barulah terjadi hantaman atau dihantami
dalam keroyokan, bahkan dengan alat, baik tumpul maupun
tajam.
Perkelahian itu biasanya kelanjutan dari persoalan di
luar sekolah seperti kebut-kebutan atau pesta. Yang
terlibat perkelahian pun kebanyakan anak-anak kalangan
atas, karena itu senjata yang muncul di sana kadang dari
jenis api (pistol) -- itu pun cuma untuk menakut-nakuti
lawan karena si pembawa sebenarnya takut juga
menggunakannya, terlebih kalau terjadi sesuatu mereka
bisa repot dimarahi si empunya pistol yaitu, bapak atau
ibunya.
Pelanggan perkelahian di Jakarta Selatan era itu adalah
SMA IX vs SMA XI. Setelah kedua sekolah ini digabung
menjadi SMA LXX, barulah SMA VI (yang tadinya dikenal
sebagai "sekolah romantis") tampil jadi petarung baru.
Entah kenapa, seolah ada yang tak rela daerah Kebayoran
tanpa perkelahian pelajar.
Di Jakarta Pusat, permusuhan terjadi antara SMA IV dan
SMA VII. Lalu yang legendaris antara STM-I dan STM Poncol.
Di awal musim perkelahian pelajar (nyaris berbarengan
dengan redupnya gangster-gangster di JKT), STM-I sering
dapat bantuan dari "adik-adik" di ST-I Kramat. Namun setelah
banyak anak dari kawasan Senen, Poncol, dan Tanah Tinggi
yang bersekolah di ST-I, dukungan kepada sang kakak di
Boedi Oetomo ikut mereda.
Bentuk tawuran rasanya baru muncul peralihan '80-'90. Di
era ini pula tawuran "masuk kampus". Dunia pendidikan pun
mulai mengenal kegiatan tawuran mahasiswa.
Ada benarnya juga kalau Syafii Maarif menyebut ini tradisi
busuk. Sebab bentrok di kalangan pelajar & mahasiswa sudah
mirip "ekstrakurikuler". Coba saja geledah SMA-SMA (di JKT
saja dulu), hampir semua SMA punya geng yang keberadaannya
kalau tidak direstui setidaknya diketahui pihak sekolah.
Perhatikan juga rekrutmen anggotanya yang istimewa dibanding penerimaan anggota
pecinta alam atau anggota paduan suara.
Cilakanya lagi beberapa geng itu bahkan punya "pelindung" dari
alumni yang sudah punya kedudukan di masyarakat. Ya, ini
tradisi yang mengancam masa depan. Harus dihapus!
Kalau SBY betul peduli terhadap masa depan bangsa maka sebagai
presiden dia punya hak untuk ngobrol tentang ancaman ini
dengan Hendropriyono, yang usai menjabat Pangdam Jaya ditugasi
menangani pelajar-pelajar yang "hobi" bertarung. Kalau tidak
salah sistem pengendalian pelajar-petarung itu dijuluki,
"Sekolah Kodim".
Adakah "alumninya" di sini?
Ayo berbagi cerita.
---
Syafii Maarif: Pelajar Tawuran Dengan Wartawan, Bangsa Sakit
Jakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyan, Syafei Maarif,
menyayangkan tawuran yang terjadi antara sejumlah pelajar SMA
6 dengan wartawan lusa kemarin. Insiden tersebut dia gambarkan
sebagai bangsa yang sedang sakit.
"Sangat disayangkan, wartawan itu pilar demokrasi, anak-anak SMA 6
adalah calon pemimpin bangsa, tapi kok bisa tawuran. Kalau begini
jadinya bangsa kita ini sedang sakit, sepertinya sudah menjadi puncak\
gunung es," ujar Buya, sapaan akrab Syafii Maarif, usai berkunjung ke
Rutan Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (21/9).
Tawuran yang melibatkan beberapa siswa SMA 6 di Bulungan, Jakarta
Selatan, bukan pertama kali terjadi. Bahkan, adu jotos antara pelajar
dikawasan dekat pusat perbelanjaan dan perkantoran itu kerap terjadi
pada tahun 1970-an.
"Itu tradisi busuk, dosa. Potong saja tradisi itu," tegas Buya.
Dia enggan menyalahkan faktor apa yang mendasari para siswa SMA 6
nekat melakukan tawuran, bahkan sejak tahun 70an. Lalu, siapa yang
disalahkan dalam hal ini sampai tidak bisa meredam gejolak remaja
yang 'hobi' tawuran itu?
"Guru-guru harus instropeksi. Bisa juga guru-guru yang salah mendidik,
pengaruh orang luar atau bisa saja murid-murid itu kelebihan enerji
untuk berkelahi," kata Syafei sambil tertawa.
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/