Latihan unt jadi anggota Front Pembela Islam, hehehe...



>________________________________
>From: ajeg <[email protected]>
>To: [email protected]
>Sent: Thursday, September 22, 2011 1:46 AM
>Subject: [proletar] Syafii Maarif: Pelajar Tawuran Dengan Wartawan, Bangsa 
>Sakit
>
>
>  
>
>Tahun '70an belum dikenal tawuran pelajar. Bukan saja 
>secara istilah ('tawuran'), tetapi yang terjadi pada 
>masa itu memang perkelahian antar-pelajar. Perkelahian 
>massal, jarak dekat, body contact. Bertarung betulan. 
>Sedangkan tawuran konotasinya lebih ke baku-lempar dan 
>baku-kejar, tanpa baku-hantam. Kalau ada lawan yang 
>tertangkap, nah barulah terjadi hantaman atau dihantami 
>dalam keroyokan, bahkan dengan alat, baik tumpul maupun 
>tajam. 
>
>Perkelahian itu biasanya kelanjutan dari persoalan di 
>luar sekolah seperti kebut-kebutan atau pesta. Yang 
>terlibat perkelahian pun kebanyakan anak-anak kalangan 
>atas, karena itu senjata yang muncul di sana kadang dari 
>jenis api (pistol) -- itu pun cuma untuk menakut-nakuti 
>lawan karena si pembawa sebenarnya takut juga 
>menggunakannya, terlebih kalau terjadi sesuatu mereka 
>bisa repot dimarahi si empunya pistol yaitu, bapak atau 
>ibunya. 
>
>Pelanggan perkelahian di Jakarta Selatan era itu adalah 
>SMA IX vs SMA XI. Setelah kedua sekolah ini digabung 
>menjadi SMA LXX, barulah SMA VI (yang tadinya dikenal 
>sebagai "sekolah romantis") tampil jadi petarung baru. 
>Entah kenapa, seolah ada yang tak rela daerah Kebayoran 
>tanpa perkelahian pelajar. 
>
>Di Jakarta Pusat, permusuhan terjadi antara SMA IV dan 
>SMA VII. Lalu yang legendaris antara STM-I dan STM Poncol. 
>Di awal musim perkelahian pelajar (nyaris berbarengan 
>dengan redupnya gangster-gangster di JKT), STM-I sering 
>dapat bantuan dari "adik-adik" di ST-I Kramat. Namun setelah 
>banyak anak dari kawasan Senen, Poncol, dan Tanah Tinggi 
>yang bersekolah di ST-I, dukungan kepada sang kakak di 
>Boedi Oetomo ikut mereda. 
>
>Bentuk tawuran rasanya baru muncul peralihan '80-'90. Di 
>era ini pula tawuran "masuk kampus". Dunia pendidikan pun 
>mulai mengenal kegiatan tawuran mahasiswa. 
>
>Ada benarnya juga kalau Syafii Maarif menyebut ini tradisi 
>busuk. Sebab bentrok di kalangan pelajar & mahasiswa sudah 
>mirip "ekstrakurikuler". Coba saja geledah SMA-SMA (di JKT 
>saja dulu), hampir semua SMA punya geng yang keberadaannya 
>kalau tidak direstui setidaknya diketahui pihak sekolah. 
>Perhatikan juga rekrutmen anggotanya yang istimewa dibanding penerimaan 
>anggota pecinta alam atau anggota paduan suara. 
>Cilakanya lagi beberapa geng itu bahkan punya "pelindung" dari 
>alumni yang sudah punya kedudukan di masyarakat. Ya, ini 
>tradisi yang mengancam masa depan. Harus dihapus! 
>
>Kalau SBY betul peduli terhadap masa depan bangsa maka sebagai 
>presiden dia punya hak untuk ngobrol tentang ancaman ini 
>dengan Hendropriyono, yang usai menjabat Pangdam Jaya ditugasi 
>menangani pelajar-pelajar yang "hobi" bertarung. Kalau tidak 
>salah sistem pengendalian pelajar-petarung itu dijuluki, 
>"Sekolah Kodim". 
>
>Adakah "alumninya" di sini? 
>Ayo berbagi cerita. 
>
>--- 
>
>Syafii Maarif: Pelajar Tawuran Dengan Wartawan, Bangsa Sakit
>
>Jakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyan, Syafei Maarif, 
>menyayangkan tawuran yang terjadi antara sejumlah pelajar SMA 
>6 dengan wartawan lusa kemarin. Insiden tersebut dia gambarkan 
>sebagai bangsa yang sedang sakit.
>
>"Sangat disayangkan, wartawan itu pilar demokrasi, anak-anak SMA 6
>adalah calon pemimpin bangsa, tapi kok bisa tawuran. Kalau begini
>jadinya bangsa kita ini sedang sakit, sepertinya sudah menjadi puncak\
>gunung es," ujar Buya, sapaan akrab Syafii Maarif, usai berkunjung ke
>Rutan Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (21/9).
>
>Tawuran yang melibatkan beberapa siswa SMA 6 di Bulungan, Jakarta
>Selatan, bukan pertama kali terjadi. Bahkan, adu jotos antara pelajar 
>dikawasan dekat pusat perbelanjaan dan perkantoran itu kerap terjadi 
>pada tahun 1970-an.
>
>"Itu tradisi busuk, dosa. Potong saja tradisi itu," tegas Buya.
>
>Dia enggan menyalahkan faktor apa yang mendasari para siswa SMA 6 
>nekat melakukan tawuran, bahkan sejak tahun 70an. Lalu, siapa yang 
>disalahkan dalam hal ini sampai tidak bisa meredam gejolak remaja 
>yang 'hobi' tawuran itu?
>
>"Guru-guru harus instropeksi. Bisa juga guru-guru yang salah mendidik,
>pengaruh orang luar atau bisa saja murid-murid itu kelebihan enerji
>untuk berkelahi," kata Syafei sambil tertawa.
>
>
> 
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke