Ass Wr Wb Dunsanak di Palanta, Ambo dapek kiriman email dari uda Mohammad Gempita (TELKOM) dari Banduang, satantang ancaman segmen Sianok nan baliau dapek dari koran PR Banduang. (Email ambo copy past dibawahko)
Mambaco artikel nantun ado beberapa poin nan bisa awak ambiak untuak diskusi di palantako. 1. Bangunan di Bukittinggi sekitarnyo tantu harus tahan gampo 7 SR 2. Perumahan nan sapanjang tapi ngarai, mulai dari Birugo bungo, balakang balok, panorama, banto laweh, bulakang RSAM, Bukik apik, jarak rumah jo tapi ngarai sabana dakek, Tantu harus ado jarak minimal rumah dari tapi ngaraitu. Hal iko harus dipelajari samo PEMDA antisipasinyo, Mungkin jo syaraik IMB nan dikaluakan, Study bandiang PEMDA ka negara yg rawan gampo, ba'a persyaratan IMB nyo. Baitu juo jo rumah2 nan alah ditapi ngarai bana harus ado relokasinyo. Bara meter jarak bangunan jo bibia ngarai nan bisa dapek ijin. Salam Dewis www.cimbuak.net Kampuang nan jauah dimato dakek dijari Dewis, Cubolah Dewis baco koran PR Bandung hari iko di http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/09/0105.htm satantangan Segmen Sianok Jadi Ancaman . Indak ado pilihan lain bagi dunsanak basarato ranggaek awak di kampuang, salain membangun rumah nan minimal tahan gampo 7 SR. dari Da Gem Segmen Sianok Jadi Ancaman BANDUNG, (PR).- Peneliti gempa dari Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Ir. Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, masyarakat dan pemerintah daerah di Sumatra harus mewaspadai segmen Sianok yang berada di Bukittinggi ke arah utara. Sejak 100 tahun lebih, segmen tersebut belum pernah melepaskan energinya. "Gempa yang terjadi di Sumatra Barat kemarin itu sumbernya dekat dengan segmen Sianok," kata Danny Hilman dalam penjelasannya melalui surat elektronik yang dikirim dari Singapura, Kamis (8/3). Menurut dia, gempa yang terjadi di patahan Sumatra tersebut berlangsung selama kurang lebih dua jam. Peristiwa itu diawali dengan gempa-gempa pendahuluan (fore shock) kemudian terjadi dua kali gempa cukup besar dengan skala magnitudo 6,3 MW (gelombang permukaan) dan 6,1 MW. Berdasarkan catatan Danny Hilman, di segmen tersebut pernah terjadi dua kali gempa berturut-turut pada 1926. Jarak waktunya hanya berbeda 30 menit dengan kekuatan yang jauh lebih besar, mencapai skala magnitudo 7 MW atau lebih. Diungkapkan, waktu itu gempa pertamanya memecahkan segmen Sumani. Namun, setengah jam kemudian gempa kedua memecahkan segmen Sianok, dari Danau Singkarak sampai Bukittinggi hingga Padang Panjang. "Korbannya diberitakan hampir 300 orang." Simpang siur Sementara itu, jumlah korban gempa khususnya meninggal dunia di Sumbar hingga kini masih simpang siur karena masih banyak daerah kabupaten/kota belum melaporkan dengan pasti sehingga data yang dikeluarkan posko bencana gempa di aula Pemprov Sumbar terus berubah-ubah. Informasi terakhir menyebutkan, jumlah korban meninggal dunia 72 orang, turun dari sebelumnya tercatat 85 orang (data dikeluarkan pukul 10.00 WIB). Koordinator piket posko korban gempa bumi Sumbar, Zulfahmi mengatakan, menurunnya jumlah korban meninggal itu karena diralat oleh kabupaten/kota bersangkutan. Dicontohkan, korban gempa dilaporkan meninggal di Kota Bukittinggi, namun ternyata warga Kota Padang. Kedua daerah itu tetap melaporkannya ke provinsi. "Kita terus meminta kepada kabupaten/kota setempat melaporkan datanya per nagari agar bisa direkapitulasi secara baik," katanya. Dari 72 orang yang meninggal itu terdapat di Kabupaten Solok 16 orang, Tanah Datar (10), Padang Pariaman (3), Agam (14), Kota Solok (6), Payakumbuh (2), Padang Panjang (10), Bukittinggi (9), dan Padang (2). Menko Kesra Aburizal Bakrie mengatakan, pemerintah mulai mempersiapkan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumbar. Para kepala daerah setempat diberi waktu satu minggu untuk menyusun laporan kerugian wilayah masing-masing. "Pascabencana, bupati dan wali kota diminta melaporkan dalam satu minggu. Kepada Menko Kesra, presiden minta untuk memperkirakan kerusakan dan pembiayaannya," katanya di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin, tentang hasil rapat terbatas membahas perkembangan upaya tanggap darurat daerah bencana gempa Sumbar dan tanah longsor di Manggarai, NTT. Menurut Ical -- panggilan Aburizal Bakrie -- satu minggu setelah laporan dari kepala daerah bencana masuk, pihaknya akan mengirimkan tim verifikasi ke lapangan. Laporan tim verifikasi inilah yang nantinya akan menjadi patokan menghitung dana yang dibutuhkan untuk keperluan biayai rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana. "Rehabilitasi dilakukan segera dengan dana pascabencana sesuai dengan standar daerah lain. Pemda diminta sharing cost. Kelak bangunan yang akan didirikan harus antigempa, Departemen PU diminta memastikan standar-standarnya ditaati dengan benar," ujarnya. Peninjauannya ke lapangan kemarin, untuk mendapatkan data sementara tentang kerusakan yang ada. Tempat tinggal warga yang mengalami rusak berat, sedang, dan ringan, masing-masing berjumlah 1.164, 545, dan 2.119 unit. Sementara jumlah sekolah, kantor pemerintah, dan pasar, sebanyak 20, 18, dan 4 unit. "Infrastruktur jalan amat sedikit yang rusak," ujar Ical. (A-64/dtc)*** --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
