Assalamualikum Pak Saaf..
   
  Memang betul apa yang Bapak sampaikan sejak tahun 1958 itu memang gejala 
penyembunyian identitas kultural sudah mulai marak tidak terlepas dari 
pemberontakan PRRI yang bagi sebagian kalangan dianggap pemberontakan setengah 
hati itu. Bapak tentu paham sekali bagimana hancurnya segala aspek kehidupan 
orang minang ketika itu mulai dari infrastruktur dan yang paling parah mental 
yang jatuh selain karena pemberontakan juga lebih diakibatkan oleh tekanan dari 
Partai Komunis Indonesia /PKI yang tiba tiba memiliki kekuasaan lebih yang 
didapatkan dari pemerintah pusat yang menerapkan doktrin “musuh lawan adalah 
kawan”.
   
  Jadi pada kasus ini saya menganggap lunturnya kebanggan sebagai identitas 
disebabkan oleh tekanan tekanan tersebut dan itu hanya terjadi dalam tataran 
formal seperti nama anak yang berubah ke jawa jawaan namun semangat kecintaan 
kepada ranah saya pikir tidak berubah sama sekali buktinya seiring perubahan 
waktu hingga saat ini identitas itu sudah kembali muncul dan kita masih ingat 
betapa lagu pop minang belasan tahun lalu yang dinyanyikan Elly Kasim dkk 
sempat merajai lagu tanah air.
   
  Bapak Saaf saya memahami sekali kekecewaan Bapak tentang semangat masyarakat 
Minang saat ini yang selalu beromantika dengan keberhasilan masa lampau. 
Fenomena baliak ka nagari yang retrogresif dan seringkali gamang tanpa user 
manual memang sesuatu yang patut mendapat perhatian. Namun bagi saya belum 
sampai ke taraf yang mengkhawatirkan karena ini masih tahap transisi, euforia 
sementara akibat desentralisasi politik dan kewenangan ke daerah daerah. 
Sehingga daerah berhak untuk menentukan langkahnya sendiri demi mencapai 
pembangunan yang mensejahterakan rakyatnya. 
   
  Bagaimanapun juga kita masih mencari cari format baru yang lebih sesuai 
menyatukan adat dan budaya kita yang kuno dengan kemajuan jaman yang semakin 
“edan” tentu butuh perubahan yang barangkali sesungguhnya telah Bapak pikirkan 
dan simpulkan. Permasalahannya saat ini masyarakat kita masih senang 
beromantika dan saya percaya euforia ini tidak akan lama. Sesudah ini mereka 
akan mempertanyakan kenapa pola masa lampau tidak juga bisa menjawab 
problematika kehidupan masyarakat saat ini. dan ketika itulah mereka akan mau 
membuka diri demi perubahan dalam segenap sendi kehidupan bermasyarakat. 
   
  Jadi Bapak Saaf tak usah berkecil hati. Pemikiran Bapak Saaf sangat baik 
sekali dan berpotensi besar memberikan perubahan bagi masyarakat. Persoalannya 
hanyalah masalah waktu..seperti halnya teori evolusi Darwin yang dicimeehkan 
orang ketika itu namun seiring perjalan waktu orang mulai menyadari bahwa 
evolusi itu memang ada. Dan begitu juga dengan pemikiran Bapak seiring perjalan 
waktu masyarakat akan mulai memahami dan sanggup menerima perubahan terhadap 
budaya mereka yang “kuno”. Sejarah akan mencatat perubahan itu… 
  salam

Ben

Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Assalamualaikum Ananda Beni dan Hanifah,

Saya ikut senang dan bersyukur bahwa orang Rantau
masih cinta Ranah, setidak-tidaknya sebagai identitas
kultural seperti dikatakan Ananda Beni. 

Tapi rasanya tidak sedikit yang sejak tahun 1958
berusaha menyembunyikan keminangaannya itu, antara
lain dengan mengambil atau memberi nama pribadi yang
tidak lagi "berbau" Minang kepada diri atau
keturunannya. Kelihatannya gejala itu berlangsung
terus sampai sekarang. Pemilihan nama pribadi adalah
suatu indikasi kecil dari identitas seseorang, yang
lazimnya terkait dengan suatu 'homeland'. 

Mengapa koq sampai terjadi gejala penyembunyian
identitas yang agak aneh itu ? Mungkinkah karena tidak
banyak lagi yang bisa dibanggakan sebagai orang
Minang, yang sampai sekarang hanya bisa membanggakan
masa lampau dan tokoh-tokoh masa lampau belaka? Mana
tokoh Minang masa kini, yang 'tacelak tampak jauah".
Bisa dihitung dengan jari di sebelah tangan. Tidakkah
kita terdorong untuk mengungkapkannya secara objektif
dan realistis?

Sehubungan dengan itu sejak tahun 2004 yang lalu saya
mengajak semua dunsanak untuk melihat realita
Minangkabau seperti apa adanya, agar kita bisa bersama
merancang masa depan bersama. Setelah berkali-kali
mengkomunikasikan ajakan saya ini di Ranah, sekarang
ini saya merasa tidak perlu terlalu gigih lagi
melanjutkannya, karena setiap kali saya mengajak
melihat ke depan, hampir selalu dijawab dengan pola
masa `lampau. Dengan kata lain, paradigma yang dianut
berbeda jauh, sehingga bahkan untuk berkomunikasi saja
sungguh amat sukar. Baru-baru ini seorang penghulu
yang sering menulis buku adat Minangkabau -- tapi
bermukim di Jakarta -- mengirimkan kepada saya
tembusan suratnya kepada seorang penghulu lain, yang
memuat ajakan agar memperjuangkan kembalinya suatu
'pemerintahan ninik mamak', dalam wujud secara
otomatis menyerahkan pemerintahan nagari kepada ketua
kerapatan adat nagari. Artinya golongan-golongan baru
yang muncul dalam masyarakat agar mematuhi saja
'perintah-perintah' ketua kerapatan adat nagari itu,
yang pasti tidak akan mengundang kaum perempuan, anak
muda, orang rantau, urang sumando, kaum cadiak pandai,
sudagar, pegawai negeri, atau seniman dan budayawan.
Saya benar-benar terpana dengan pola pikir retrogresif
seperti itu. Ya sudahlah, apa boleh buat, kalau memang
itu yang diinginkan. Terserah kepada para dunsanak
kita di Ranah untuk memutuskan menerima atau menolak.

Oleh karena itulah, akhir-akhir ini saya memilih Riau
sebagai tumpuan perjuangan saya untuk memulihkan hak
masyarakat hukum adat Indonesia melalui Komnas HAM,
karena hampir seluruh pemuka adat Riau itu
berorientasi ke masa depan, dan tidak ke masa`lampau 
seperti di Ranah. Insya Allah sekarang ini sedang
disiapkan akta notaris pembentukan Sekretariat
Nasional Perlindungan Hak Konstitusional Masyarakat
Hukum Adat, dimana saya akan jadi Ketua Dewan
Pakarnya. Jika tidak ada aral melintang, Sekretariat
Nasional ini akan diresmikan Presiden di Pekanbaru
atau Siak Sri Indrapura akhir Mei mendatang.

Sudah tentu `saya masih cinta pada Ranah, tapi soalnya
apakah cinta itu bukan  bagaikan 'bertepuk sebelah
tangan' ? Mengapa demikian sulit kita berkomunikasi
dengan para dunsanak kita di Ranah ? Bukankah --
sebagai reaksi --  sejak beberapa lama kita risau
dengan gejala 'marantau cino' yang ditengarai semakin
banyak di kalangan para perantau Minang. Bukankah itu
juga yang mendorong kita untuk membentuk MPKAS dan
MAPPAS agar cinta itu tetap terpelihara dengan baik ?
Bukankah kita selalu mengeluh betapa tidak ramahnya Ra
nah terhadap kita yang pulang kampung, sehingga kita
menyarankan agar 'service' diperbaiki ?

Saya rasa jawabnya yang otentik  terhadap kerisauan
kita bersama itu akan kita peroleh dengan mengadakan
pengkajian berlanjut terhadap hubungan Rantau-Ranah
ini, seperti dianjurkan pak Chaidir, tetapi yang juga
disambut dingin-dingin saja sampai sekarang.

Bagi saya -- selaku peneliti dan pengamat icak-icak --
hal ini sangat menarik perhatian.

Wassalam,
Saafroedin Bahar



 
---------------------------------
Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke