Wa'alaikum salam Pak Saaf,

Win ingin menanyakan soal budaya patron,

Dalam perkembangan sekarang ini, terlihat budaya patron menjadi faktor dominan 
kemampuan suatu etnis bersaing di kancah nasional maupun global. Faktor ini 
mulai menggeser kemampuan individual yang rasanya semakin relatif di era 
globalisasi saat ini.

Kita melihat etnis-etnis yang memiliki budaya patron kuat, seperti yang Bapak 
sampaikan, terus menampakkan geliatnya di kancah nasional.

Terkait hal itu, Win ingin menanyakan posisi budaya patron orang minang. 
Sampai di mana exist-nya. Soalnya, unsur-unsur budaya patron itu, seperti 
kepemimpinan dan juga soal kerja sama, menjadi pertanyaan pula di antara 
orang Minang sendiri.

Pertanyaan lainnya, apakah memang di tengah budaya patron yang justru semakin 
menguat saat ini, tidak ada tempat bagi orang Minang?

Selain itu, sebagai informasi buat Pak Saaf, saat ini Win sedang membaca buku 
"Manusia Bugis", buku setebal 450 halaman karangan Christian Pelras, seorang 
peneliti Perancis yang menjadi peneliti/dosen tamu di berbagai universitas 
bergengsi dunia. Sejak empat dasawarsa terakhir , Pelras terus mengkaji 
berbagai aspek kemasyarakatan , sejarah dan kebudayaan Bugis.

Bukunya sudah agak lama ada di perpustakaan, tapi baru sempat Win baca 
sekarang. Etnis Bugis adalah etnis yang memiliki budaya patron sangat kuat. 
Di ujung tulisannya (bagian kesimpulan), Pelras menulis:

"Sepanjang sejarah sosio-kultural orang Bugis, sejumlah ciri khas tertentu 
dengan sangat menakjubkan tetap melekat dalam diri mereka sejak dahulu kala 
sampai sekarang. Salah satu di antaranya adalah kecenderungan luar biasa 
mereka untuk selalu mencari peluang ekonomi yang lebih baik di mana pun dan 
kapan pun. Selain itu, yang sangat berkaitan erat, daya adaptasi mereka 
terhadap keadaan yang dihadapi sangat mengagumkan. Di mana kaki berpijak, di 
situ langit dijunjung. Bahkan, dalam keadaan tertentu orang Bugis tidak hanya 
sekadar mengadaptasikan diri terhadap lingkungan mereka, akan tetapi malah 
memberi warna tersendiri terhadap lingkungannya yang baru. Sementara itu, 
kecenderungan mereka yang tampak saling berlawanan--berpandangan hirarkris 
sekaligus egalitarian, dorongan untuk bekompetisi sekaligus berkompromi, 
menjunjung tinggi kehormatan diri tetapi juga solider terhadap sesama orang 
Bugis--dipadukan dengan nilai-nilai yang diutamakan seperti keberanian, 
kecerdasan, ketaatan terhadap ajaran agama, dan kelihaian berbisnis, 
merupakan unsur-unsur penggerak utama dalam perkembangan kehidupan mereka 
selama ini."

Terakhir, katanya:
"Saya yakin, hal-hal tersebut juga dapat menjamin mereka untuk tetap bertahan, 
survive sebagai masyarakat yang dinamis dan berkepribadian kuat, di masa yang 
akan datang."

Wassalam
erwin z

On Thursday 12 April 2007 09:51, Saafroedin BAHAR wrote:
> Assalamualaikum w.w. para Dunsanak sapalanta,
>
> Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang
> kunjungan -- bersama dengan dua orang staf  --  ke
> suatu masyarakat hukum adat, bidang yang saya tekuni
> di Komnas HAM sejak tahun 2004. Masyarakat hukum adat
> yang  dipilih adalah desa Tenganan [ juga dikenal
> sebagai desa Tenganan Pagrisingan] di Kabupaten
> Karangasem, Bali, yang merupakan suatu desa yang
> dipandang masih mampu mempertahankan adatnya yang
> asli. Sebelum mendatangi desa tersebut, di Den Pasar
> saya bertukar pikiran dengan Kepala Dinas Kebudayaan
> Propinsi Bali, didampingi oleh Kepala Sub Dinas Adat
> Istiadat. Sudah tentu, sebelum ini saya sudah beberapa
> kali datang ke Bali, dalam kesempatan lain.
>
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar.


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke